Minggu, 17 Mei 2020

Kill The Messenger, Jurus Kuno Penguasa Antikritik

Ilustrasi Cleopatra Raja Mesir Kuno


Secara sederhana Kill The Messenger dapat diartikan sebagai bunuh si pembawa pesan. Dalam ranah komunikasi, Kill The Messenger adalah istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan cara membuat si pembawa pesan, pengritik atau penyampai gagasan bertekuk lutut.

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang Kill The Messenger dalam konteks penyampaian pendapat atau kritik, kita scroll back dulu ke konteks kesejarahan pada zaman dahulu. Yah, setidaknya agar kita memahami maksud dari sebuah istilah secara utuh.

Contoh istilah sehari-hari yang kita pakai misalnya, “debat kusir”. Ini untuk menggambarkan debat yang tidak kunjung selesai, berputar-putar, ngotot-ngototan, tidak jelas ujung pangkalnya dan melenceng dari norma berpikir logis. Tapi tahukah kita bagaimana istilah ini muncul?

KH. Agus Salim adalah orang yang pertama kali memperkenalkan istilah ini berdasarkan pengalamannya. Sepulang kantor, sang kyai menumpangi sebuah delman. Di tengah perjalanan kuda penarik delman mengeluarkan kentut, “preeetttt”. Lantas KH. Agus Salim bilang, itu kuda masuk angin. Tetapi dibantah mati-matian oleh kusir delman. Katanya, justeru kudanya keluar angin.

Perdebatan pun tak kunjung selesai hingga KH. Agus Salim sampai di depan rumahnya. Peristiwa tersebut diceritakan oleh beliau ke parlemen. KH. Agus salim sering menyampaikan himbauan kepada anggota parlemen jangan berdebat kusir. Karena sampai kapan pun tak akan ada ujung pangkalnya. Debat harus dijiwai dengan niatan untuk sama-sama mencari jalan keluar suatu permasalahan.

Lantas, bagaimana munculnya istilah Kill The Messenger?

Pada zaman kerajaan dulu, sarana komunikasi tidak seperti saat ini. Sekarang semua sudah serba canggih. Sesaat setelah terpilih, seorang kepala negara bisa langsung mendapatkan telepon ucapan selamat dari kepala negara lain. Pesan dapat pula disampaikan melalui media televisi, media cetak dan juga media sosial. Super kilat.

Sedangkan raja-raja zaman dulu komunikasi masih dilakukan secara tradisional, yakni mengirim seorang utusan untuk menyampaikan pesan. Butuh waktu berhari-hari bahkan bisa bertahun-tahun bagi seorang pembawa pesan untuk sampai ke tujuan. Begitu pula waktu untuk kembali menyampaikan tanggapan atas pesan yang disampaikan.

Permasalahannya sekarang adalah tak selamanya pesan yang dibawa oleh si penyampai pesan (The Messenger) berupa kabar yang menggembirakan si raja atau penguasa penerima pesan. Apabila kabar yang dibawa membuat si raja tak senang, maka si pembawa pesan sering kali mendapatkan perlakuan tidak baik.

Perlakuan tidak baik dapat berupa perjamuan yang tidak pantas sebagai seorang utusan, bahkan dapat berupa penyiksaan dan pembunuhan. Segala perlakuan tersebut sebagai respon atas isi pesan yang dibawa. Pekerjaan sebagai pembawa pesan ini cukup besar resikonya. Syukur-syukur kalau berita yang dibawa menyenangkan, kalau tidak, nyawa taruhannya.

Peristiwa penyiksaan dan pembunuhan seorang pembawa pesan sering kita saksikan di film-film kerajaan, baik cerita fiktif maupun cerita yang diangkat dari kisah nyata. Biar tidak menjadi fitnah wacana, di bawah ini juga saya sampaikan beberapa kisah nyata si pembawa pesan.

Masih ingat dengan kisah Meng Qi, seorang utusan Khubilai Khan, kaisar Mongol? Pembawa pesan yang malang itu dipotong telinganya oleh Prabu Kertanegara, Raja Singosari penguasa tanah Jawa kala itu. Memang, tidak sampai dibunuh. Tapi, akibat peristiwa itu membuat Khubilai Khan marah besar.

Ada satu lagi kisah kerajaan di Benua Eropa pada abad pertengahan. Raja Romawi mengirim seorang utusan untuk membawa pesan kepada raja Armenia. Isi pesan meminta agar raja Armenia menyerahkan musuh-musuh Romawi yang mengungsi ke Armenia. Lucullus, utusan yang malang itu dipenggal kepalanya oleh pasukan Armenia. Kabar yang disampaikan oleh Lucullus rupanya menyinggung perasaan raja Armenia.


Saya sendiri cenderung memperluas makna Kill The Messenger. Pembawa pesan tidak sekedar seorang perantara yang mengantarkan pesan dari seseorang ke orang lain. Akan tetapi mereka yang mengemukakan pendapat untuk kemaslahatan bersama, baik ditunjukan kepada khalayak maupun kepada penguasa, juga saya sebut sebagai The Messenger.

Amat banyak kita dengar nasib para pengritik penguasa zaman dulu yang harus tamat riwayatnya dengan tragis. Pendapat atau pesan yang disampaikan oleh si pembawa pesan dianggap bertentangan atau menyerang kewibawaan penguasa.

Pada 15 Februari 399 SM misalnya. Socrates seorang fulsuf Yunani dihukum mati oleh penguasa Kota Athena atas tuduhan merusak pikiran pemuda kota. Cara Socrates yang gemar mengajak para pemuda berdialog dianggap menyesatkan. Hidupnya pun berakhir dengan cara meminum racun dari algojo.

Ada pula kisah kelam Nicolaus Copernicus. Pada 24 Mei 1543, Nicolaus Copernicus dihukum mati karena mengemukakan teori heliosentris, yakni teori matahari sebagai pusat pergerakan alam semesta. Pendapat itu dianggap bertentangan dengan keyakinan Gereja Katolik. Gereja meyakini bumi adalah pusat pergerakan alam semesta.

Contoh Kill The Messenger yang dekat-dekat dengan kita juga banyak. Kisah Marsinah, seorang buruh di Surabaya dibunuh karena memperjuangkan kenaikan upah kaumnya. Udin seorang wartawan di Yogyakarta, juga Prabangsa wartawan di Bali, keduanya mati dibunuh karena pemberitaan. Mereka semua adalah para messenger yang berakhir dengan tragis.

Merujuk pada uraian di atas, ketika kita membahas istilah Kill The Messenger, maka dalam konteks ini kita menemukan setidaknya ada tiga unsur: yakni, si pembawa pesan, isi pesan dan si penerima pesan. Penerima pesan dalam hal ini selalu berkaitan dengan seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari si pembawa pesan.

Di zama now, pola Kill The Messengger kerap digunakan oleh penguasa kepada pengritiknya. Masih ingat dengan peristiwa kartu kuning untuk presiden Jokowi? Pada 2 Februari 2018, usai Jokowi memberikan sambutan di Balairung UI, sorak-soari tepuk tangan hadirin tiba-tiba dihentakan oleh bunyi pluit dari salah satu peserta sembari mengacungkan kartu kuning (buku paduan suara berwarna kuning). Secepat kilat Paspanpres menggiring si pemberi kartu kuning ke luar ruangan sebelum ia menjelaskan apa maksud dari semua itu.

Yah, dialah Zaadit Taqwa, Ketua BEM UI. Kepada awak media Zaadit menyampaikan bahwa pemberian kartu kuning tersebut sebagai bentuk peringatan BEM UI terhadap beberapa kebijakan pemerintahan Jokowi. Masalah tersebut adalah isu gizi buruk di Asmat, isu penghidupan kembali dwifungsi Polri/TNI, dan penerapan peraturan baru organisasi mahasiswa.

Sejak peristiwa kartu kuning itu, nama Zaadit menjadi buah bibir. Santer menjadi pemberitaan media massa. Ada yang mengapresiasi sebagai bentuk keberanian aktivis mahasiswa, namun tak sedikit yang menghujat Zaadit. Padahal, menurut Johan Budi, Juru Bicara Presiden kala itu, Jokowi sama sekali tidak tersinggung.

Walau presiden tidak tersinggung, tetapi kelompok pendukung Jokowi seolah tak terima apa yang dilakukan oleh Zaadit. Zaadit melakukan itu dalam kapasitas sebagai Ketua BEM UI. Namun secara pribadi, Zaadit menjadi target utama para Killer The Messenger. Seolah orang yang berbeda pandangan politik dianggap sebagai yang lain yang layak “dikarungi” karena dianggap menggangu.

Baca Juga: Sesat Berpikir, Bullying Melayang

Semua catatan yang berkaitan dengan kehidupan pribadi Zaadit ditelanjangi. Zaadit di-bully secara TSM (terstruktur, sistematis dan masif). Macam-macam tudingan dialamatkan kepada Zaadit. Mulai dari tudingan berafiliasi dengan PKS, dianggap tidak tahu apa-apa soal Asmat karena belum pernah menginjakkan kaki ke sana, dll. Bahkan Zaadit sempat dijemput paksa oleh aparat kepolisian dengan tuduhan penghinaan terhadap kepala negara.

Sejurus kemudian, pesan yang hendak disampaikan Zaadit soal isu gizi buruk di Asmat, isu penghidupan kembali dwifungsi Polri/TNI, dan penerapan peraturan baru organisasi mahasiswa perlahan-lahan surut ditelan waktu. Malang yang menimpa Zaadit bisa jadi peringatan buat yang lain: jangan coba-coba kritik penguasa, kalau tidak ingin bernasib seperti Zaadit.

Kisah Zaadit di atas menurut saya adalah contoh sempurna bagaimana pola Kill The Messenger dilakukan oleh kelompok penguasa. Pola yang sama masih sering kita temukan di kelompok-kelompok buruh yang menuntut hak, di kalangan aktivis desa yang menuntut transparansi Dana Desa, para jurnalis yang mengungkap fakta, bahkan para intelektual yang mengemukakan pendapatnya yang tak lazim.

Sebetulnya kalau kita lihat dari pola yang dilakukan dengan Kill The Messenger ini sama modusnya dengan sesat logika yang disebut Ad Hominem. Yakni model argumentasi menyerang sisi personal lawan bicara. Ad Hominem singkatan dari argumentum ad hominem (berasal dari kata Latin yang artinya “kepada orang”), yakni suatu upaya argumentasi dengan cara menunjukkan sisi negatif yang menyasar ke karakter atau individu seseorang.

Dalam hal Kill The Messenger, pelakunya selalu berkorelasi dengan penguasa. Perintah Kill The Messenger dapat bersal dari penguasa yang dikritik dan atau atas inisiatif para pendukung si penguasa. Dalam beberapa kasus, pendukung biasanya lebih heboh dari yang didukung. Kata orang "politik petinju"— selalu cari muka. Heheheh…

Di era sosial media saat ini memberi kemudahan pada penguasa antikritik untuk memainkan strategi kono Kill The Messenger. Media-media besar sangat mudah dikontrol oleh penguasa (biasanya melalui kontrak kerja sama). Berita-berita yang tak memenuhi selera penguasa tentu akan menjadi pertimbangan perpanjangan kontrak.

Setelah media massa ada dalam genggaman, langkah berikutnya adalah memainkan pion-pion buzzer. Yah, yang namanya penguasa pengguna anggaran, tentu mudah saja melakukan hal ini. Anggaran buzzer bisa dilabeli judul anggaran sosialisasi kegiatan atau apalah. Kolaborasi media massa dan buzzer ini menjadi mesin Kill The Messenger untuk penguasa.

Katakanlah ada seorang tokoh yang sering memberikan kritik pada penguasa. Media akan mencari sisi-sisi jelek si tokoh untuk diberitakan secara terus-menerus. Berita tersebut akan menjadi viral dan sampai ke publik. Dengan demikian, substansi kritik yang disampaikan perlahan-lahan memudar seiring hingar-bingar gosip baru tentang si tokoh.

Sungguh sebuah perpaduan yang sempurna. Media bertugas membuat berita, lantas buzzer bertugas membombardir media sosial dengan memviralkan berita memojokan pengritik. Media terus mem-framing kejelekan si pengritik, buzzer tiada ampun mengarahkan agar tepat sasaran. Sehingga terbentuklah perspektif negatif tentang si pengkritik.

Sampai di sini, biasanya tamatlah riwayat si tokoh pengritik. Kejang-kejanglah ia akibat serangan buzzer penguasa. Lemah, letih, lesu jiwa dan raganya. Ia menjadi bulan-bulanan media dan buzzer penguasa. Namun demikian, banyak juga yang bisa bertahan dan bangkit dari keterpurukan ini. Justeru semakin diserang, semakin memberikan perlawanan. Akhirnya mengundang simpati publik.

Ada sebuah ungkapan menarik untuk menuntaskan pengertian Kill The Messenger ini:

“Jika seseorang tidak bisa mengontrol dirimu, dia akan berusaha mengontrol orang lain untuk melihat seperti apa dirimu…”

Bagi pengritik penguasa tidak perlu berkecil hati. Bagi penguasa dan buzzer-buzzernya tidak harus kecewa. Sebab Aku dan Kamu Bisa Menjadi Buzzer Jahat. Itu adalah rencana judul tulisan berikutnya. Heheheh…(D4FI)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon