Kamis, 15 Maret 2018

Rimpu Mpida, Cadar Suku Mbojo


Rimpu Mpida

Rimpu adalah tradisi berpakaian wanita Mbojo (Bima & Dompu) sejak masa kesultanan, sekitar tahun 1640 M. Tembe Nggoli merupakan kain tradisional tenunan khas Mbojo yang digunakan untuk membungkus seluruh bagian tubuh kecuali wajah.

Rimpu sendiri terdiri dari dua jenis. Rimpu mpida hanya bagian mata saja yang kelihatan. Biasanya dikenakan oleh wanita yang masih gadis.

Rimpu colo memperlihatkan seluruh bagian wajah. Bisanya dikenakan oleh wanita yang telah berkeluarga.

Sekilas rimpu mpida sama persis dengan cadar sekarang ini. Sedangkan rimpu colo sama dengan jilbab. Dari sisi bagian tubuh yang ditutup, subsatansinya sama.

Mengenakan rimpu bagi wanita Mbojo adalah hak. Tidak dilarang. Tidak mengenakan rimpu pun tidak dipaksakan. Jadi tidak ada orang yang saling mem-bully lantaran memperdebatkan rimpu.

Jadi bagaimana dengan perdebatan soal cadar? Rektor UIN Sunan Kalijada Yogyakarta pernah menerbitkan surat keputusan pelarangan bercadar di lingkungan kampus, walaupun surat keputusan tersebut akhirnya dicabut kembali.

Banyak tokoh Islam turut berkomentar soal larangan bercadar. Tak jarang komentarnya bisa ditafsirkan sebagai dukungan pelarangan bercadar.

Dari beberapa pendapat tokoh "tak ramah cadar" mengemukakan alasan antara lain: cadar budaya arab; cadar identik dengan penganut ajaran radikalisme dan terorisme; dan cadar dianggap ekslusifitas dari lingkungan sosial.

Mari kita uraikan satu per satu. Pertama, jika kita mengambil referensi tradisi rimpu sebagai bagian dari tradisi yang membentuk kebudayaan nusantara, rimpu yah Islam Nusantara. Pakai bangat! Bahwa substansinya sama dengan cadar, lantas masalahnya dimana?

Kedua, terlalu naif bila mengaitkan (baca: menuduh) wanita bercadar diidentikkan dengan penganut paham radikalisme dan terorisme. Melabeli orang lain atas pilihan berpakaiannya dengan idiologi tertentu adalah kejahatan kemanusiaan. Menginvasi pakain orang lain adalah sebuah kemunduran peradaban.

Ketiga, anggapan cadar sebagai ekslusivitas. Terlalu dini penilai yang demikian. Dan lagi-lagi selama suatu perbuatan bukan perbuatan yang melanggar hukum, mengapa begitu agresif harus mencerca pilihan orang lain.

Dalam kehidupan pribadi saya sendiri, anak perempuan dan istri saya tidak menggunakan cadar, saya tidak mengharuskannya pakai cadar. Banyak keluarga dan sahabat saya mengenakan cadar, saya tidak merasa terganggu, apalagi mencerca pilihan mereka.

Masih banyak persoalan bangsa ini jauh lebih penting kita bicarakan ketimbang mendiskreditkan pilihan mereka yang bercadar. Soal terorisme, narkoba, dan korupsi menggerogoti bangsa ini adalah ancaman nyata.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon