Minggu, 04 Maret 2018

Masjid Cinta Tanah Air


Diskusi

Masjid Hubbul Wathon Islamic Center NTB. Hubbul Wathon berarti cinta tanah air. Tak perlu diragukan lagi bahwa marwah yg menjadi cita-cita pendiriannya, yakni atas kecintaan terhadap tanah air. Tanah air, yah bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Tidak ada dikotomi antara keislaman dengan keindonesiaan. Jika ada yang berusaha membuat dikotomi, mungkin hanya kekalutan politik sesaat. Dan dipastikan akan berlalu seiring berlalunya musim-musim politik yang menjenuhkan ini.

Bicara rumah ibadah apapun, entah gereja, pura, vihara dan juga masjid, semenjak jaman perjuangan kemerdekaan, tak dapat dipisahkan dari fungsi sosial kemasyarakatan.

Bahwa politik menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat yang dibicarakan di sana, yah itu sesuatu yang tak terhindarkan.

Selama tidak dalam kerangka politik praktis, politik mencemooh dan menjelek-jelekan pihah lain, bicara politik di sana tidaklah tabu.

Sekedar menengok kembali sejarah, pada jaman melawan penjajah, masjid adalah tempat yang baik untuk mengatur strategi perang melawan penjajah.

Para alim ulama dan pejuang berkumpul dan berunding di sana. Mereka mengatur rencana kapan waktu yg tepat menyerang pasukan penjajah.

Lantas bagaimana NTB hari ini? Penjajah dan musuh yang paling nyata di depan mata yakni ketidakadilan yang telah berlangsung dan akan berlangsung tak lama lagi.

Apa itu? Pengerukan hasil bumi sedalam-dalamnya siapa yang nikmati? Hasil tambang siapa yang punya. Punya kita? Bukan! Toh Pemda untuk mendapatkan hasil penjualan sahamnya saja, dipimpong tak menentu. Kita seolah mengemis di rumah kita sendiri.

Sebentar lagi, mega proyek Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika konon katanya akan menjadi "Bali Baru". Itu semua siapa yang punya? Punya kita? Bukan! Itu semua akan dinikmati oleh para komparador asing yang menanamkan modalnya di sana.

Kita cukup puas sekedar menjadi karyawan, satpam plus tukang kebun. Dan kita selalu diajarkan untuk menyukuri itu semua.

Panjajahan yang lain. Coba lihat. Distribusi barang yang masuk ke "bumi gora" ini kelompok mana yang menguasai (baca: monopoli)? Yah kelompok itu2 juga. Yang kita musuhi bukan latar belakang kelompoknya yg kebetulan berasal dari etnis tertentu. Tetapi praktek yang tidak adil itulah yang kita musuhi.

Monopoli distribusi barang ini benar-benar mencekik kehidupan para pedagang kecil. Dulu pedagang kecil (pengecer) cukup terbantukan dengan adanya suplai barang yg disediakan dari gudang-gudang besar. Sekarang pemilik gudang tidak hanya berlaku sebagai suplayer pedagang kecil, tapi mereka juga sudah mulai mengecer sendiri dengan kios-kios modrn (mini mart) yang mereka buat. Jumlahnya makin hari makin menjamur.

Lantas, keadilan sosialnya ada dimana? Negara mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah sampai pemerintah desa dan lurahnya ada dimana? Mengapa kalian biarkan rakyat menjerit. Mengapa kalian biarkan ketidakadilan itu terjadi?

Kembali ke laptop. Sudah saatnya khitoh dan ghiroh masjid selain sebagai tempat ibadah juga menjadi tempat yang asyik dan keren bagi remaja dan muda-mudi Islam untuk berdiskusi membicarakan persoalan sosial di sekitar kita.

Kawan-kawan muda muslim NTB khususnya, mari kita berikan arti sebenarnya terhadap Masjid Hubbul Wathon = Cinta Tanah Air. Yah, cinta yang sebenar-benarnya cinta. Kita tidak hanya berzikir dan berdoa menghadap ke atas, tetapi juga melihat ke kiri dan ke kanan terhadap apa terjadi di sekitar kita.

Merdeka!
------------
Ket. Foto: Diskusi bareng kelompok cedekiawan muslim NTB, di pelataran Islamic Center, Minggu (4/3/2018).

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon