Kamis, 01 Februari 2018

Korban Baliho Zul Rohmi Menjerit, Tim Berkelit

 Baliho pasangan Zul Rohmi

Sudah lebih dari sepekan tragedi baliho roboh milik pasangan Cagub NTB, Zul Rohmi menimpa keluarga sahabat saya Ridho, namun tak ada tanggapan serius dari tim pasangan tersebut.

Lebih dari sepekan isterinya menderita, namun respon baik tak kunjung ada kabar berita.

Sembari menikmati kopi siang ini, saya dan Ridho saling berbagi cerita. Topik pembicaraan kami masih seputar nasib sial yang menimpa keluarganya.

Baca: Kawan Saya Jadi Korban Baliho Cagub NTB

Ridho menyampaikan ucapan terimakasih kepada saya atas upaya mendapatkan respon tim Zul Rohmi. Meski apa yang saya lakukan sekedar dalam bentuk tulisan di media sosial.

Ridho menceritakan bahwa ia telah berusaha menemui tim Zul Rohmi di Kediri. Namun di sana tidak merasa memasang baliho tersebut. Oleh Tim Zul Rohmi di Kediri, Ridho diarahkan untuk menemui pengurus ormas pendukung Zul Rohmi di Gelogor.

Di Gelogor jawaban yang sama ia dapatkan, yakni merasa tidak memasang baliho roboh tersebut. Di sana malah menyampaikan bahwa baliho-baliho tersbut dipasang oleh pemborong. Ridho diminta mencari tahu pemborongnya. Ridho makin bingung.

Meski tak memperoleh respon yang memuaskan, Ridho tak patah semangat. Ia pun menemui salah satu anggota DPRD Provinsi NTB, yang mana partainya sebagai pengusung pasangan Zul Rohmi. Namun, lagi-lagi jawaban tidak tahu-menahu ia dapatkan.

Saya pun menyampaikan pada Ridho, semenjak saya posting peristiwa yang menimpa keluarganya, ada beberapa orang yang menghubungi saya. Ada yang mengaku tim dari pasangan Zul Rohmi, ada pula yang mengaku wartawan.

Kepada yang mengaku tim yang bersangkutan, saya sampaikan silahkan datang ke tempat saya. Saya akan temukan dengan keluarga korban. Hingga waktu yang dijanjikan, nyatanya tak kunjung tiba. Padahal ngakunya mau turun dengan tim medis segala.

Yang mengaku wartawan minta nomor hp korban dan juga foto-foto korban. Terkait permintaan tersebut, saya sampaikan korban tak ingin diekspose berlebihan oleh media massa. Ia malah mengacam agar saya mempertanggungjawabkan kebenaran apa yang saya posting.

Wartawan yang aneh.

Atas ancaman tersebut saya sampaikan agar dia datang ke tempat saya bila ingin mengetahu kebenarannya. Saya mengajaknya ngopi bareng. Saya hendak belajar darinya karena saya juga baru 18 tahun jadi wartawan. Namun, hingga kini tak pernah datang.

Tak jarang dari sekian yang menghubungi malah menuding, bahwa saya menyebarkan berita hoax. Ada pula yang menuding melakuna black campaign. Lagi-lagi saya memintanya datang ke tempat saya, namun sama saja dengan yang lain. Tak datang-datang.

Kembali pada cerita Ridho. Saat ini aktivitas isterinya menjadi terganggu. Wanita yang sehari-harinya berjualan di Pasar Kediri itu, kini terpaksa harus tinggal di rumah.

Pernah suatu waktu ia paksakan diri untuk berjualan di pasar. Namun bekas cedera kepala yang dialami kerap kambuh. Ia merasa pusing, pandangan kunang-kunang dan sempoyongan.

Menurut Ridho, istrinya tak bermaksud mengabaikan saran dokter untuk beristirahat hingga pulih benar. Akan tetapi tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga membuat istrinya memaksakan diri untuk berjualan.

Demikian obrolan saya dengan Ridho siang ini. Kami pun kembali pada aktivitas masing-masing. Sebelum ia tinggalkan saya, ia sodorkan Surat Keterangan Sakit istrinya.

Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan, bahwa peristiwa yang menimpa Ridho tidak hanya mencederai lahir batin masyarakat awam, tetapi juga mencederai hakikat demokrasi di negeri ini.

Sebuah baliho calon pemimpin daerah menimpa rakyat kecil. Tidak ada yang merespon. Ditemui, malah korban dipimpong. Sebuah ironi bukan?

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon