Sabtu, 03 Februari 2018

Ia Tak Bisa Melupakan Pak Harto

Soeharto

Siang ini saya nongkrong bareng sahabat saya Pak Badrah. Meski usianya kini telah menginjak kepala enam, namun pria yang keseharian sebagai tukang ojek ini masih tampak enerjik. Guratan di wajahnya seolah melukiskan kerasnya kehidupan yang telah ia jalani.

Hari ini cuaca lumayan terang. Dua hari kemarin hujan tak henti-henti mengguyur Kota Santri Kediri, Lombok Barat. Sengaja saya sampari ia di pangkalan, tempat ia dan kawan-kawannya biasa menunggu penumpang, depan Pasar Kediri.

Dari jauh saya lihat ia seorang diri. Saya pesankan dua gelas kopi hitam di warung Inaq Atun yang tak jauh dari pangkalan ojek. Saya lebih banyak mendengar ceritanya. Sesekali melontarkan pertanyaan.

Mula-mula kami bicrakan penumpang ojek yang kian sepi. Menurut Pak Badrah, gempuran ojek online cukup memengaruhi turunnya pendapatan ojek pangkalan seperti dirinya. Selain itu, faktor kemudahan masyarakat mendapatkan kredit kendaraan pribadi juga jadi penyebab.


Walau begitu, Pak Badrah tetap bersyukur. Seolah apa yang terjadi bukan masalah besar baginya. Kenapa Pak Badrah tetap bersyukur? Padahal hampir dua jam saya melihatnya tak dapat penumpang.

Menurut pria yang telah berprofesi sebagai tukang ojek sejak tahun 80-an ini, kalau dibandingkan kesulitan dan berbagai himpitan ekonomi pada era-era sebelumnya, sekarang ini belum ada apa-apanya.

Wow! Makin menarik obrolan siang ini. Kog bisa ndak ada apa-apanya?

Pak Badrah menarik saya ke masa silam. Ia menujuk pada satu titik tersulit yang pernah ia rasakan, yakni tahun 1965.

“Waktu itu, jangankan sapi dan kambing, babi di hutan pun kurus dan kelaparan karena berebut makan dengan manusia,” kata Pak Badrah.

Saat terjadi peristiwa G30S/PKI tahun 1965, Badrah kecil menginjak usia 11 tahun. Pahit getirnya keadaan masyarakat, khususnya di Lombok zaman itu, masih tersimpan rapi dalam ingatan Pak Badrah.


Gejolak politik yang berujung pada pembantaian orang-orang diduga PKI membuat suasana makin mencekam.

Kelaparan terjadi di mana-mana. Banyak anak-anak menderita busung lapar. Penyakit kulit menjangkiti anak-anak hingga orang dewasa. Waktu itu jarang orang punya pakain layak. Badrah sendiri hanya punya satu potong pakaian yang terbuat dari kain serat karung goni.

Jarang orang makan nasi. Persediaan beras tidak ada. Kalau ada beras sedikit, maka dimasak dengan campuran jagung dan ubi. Tidak ada ikan atau daging, melainkan hanya sayur-sayuran seadanya. Orang-orang berebutan berburu daun apa saja yang bisa dijadikan sayur.

Zaman itu, orang makan singkong sudah sangat istimewa. Makanya, kata Pak Badrah, orang-orang kalau merebus singkong langsung dengan kulitnya. Hanya kulit ari yang berwarna coklat saja dibersihkan. Kulit singkongpun menjadi rebutan.

Dalam kondisi lapar mendera orang memakan apa saja sebagai pengganjal perut. Tak ada orang bicarakan gizi, karena yang terpenting enak di mulut, tidak beracun, bikin perut kenyang, pasti dilahap.

Bila ada yang memanen pisang, maka dipastikan bonggol dan batangnya pun tak ada yang tersisa. Bagian dalam batang pisang sebagai bahan sayur ares. Sedangkan bonggol pisang dijadikan camilan setelah diolah dengan cara diris tipis-tipis lalu digoreng.

Habis Lapar Terbitlah Harapan

Pak Badrah tidak ingat persis tahunnya, namun ia pastikan setelah Soeharto jadi presiden, kelaparan mulai berkurang. Hal itu ditandai dengan adanya jenis bibit padi unggul yang disebut R1. Padi R1 memiliki masa panen yang singkat, yakni sekitar 3 bulanan.

“Sebelumnya masyarakat nanam padi kampung, biasa disebut padi bulu. Lamanya... baru bisa kita panen. Enam bulanan. Sejak ada padi R1 zaman Pak Harto, semua nanam,” ungkap Badrah.

Kehadiran padi variatas baru itu disambut penuh suka cita oleh masyarakat. Menurut Pak Badrah, padi inilah yang membuat masyarakat tak bisa melupakan jasa Pak Harto.

“Padi di lumbung tak pernah sampai kosong sama sekali. Begitu mau habis sudah masuk lagi hasil panen yang baru. Kalau dulu waktu enam bulan baru panen. Lama kita tunggu,” ujar Pak Badrah.

Bendungan dan saluran irigasi dibagun secara besar-besaran. Bertruk-truk pupuk urea diturunkan ke desa-desa. Setelah padi R1 kemudian muncul lagi variatas baru yang disebut padi Pelita. Keduanya sama-sama unggul, kata Pak Badrah.

Kehidupan masyarakat berubah total kala itu. Menginjak tahun 70an mulai banyak sekolah yang dibangun.

Wajah Pak Badrah tampak semangat menceritakan perubahan yang ia rasakan.

Saya tak kuasa membantah ceritanya. Padahal ingin sekali saya jelaskan kepadanya, apa yang sesungguhnya dilakukan oleh rezim Soeharto. Saya ingin katakan kalau itu semua dibangun dari hutang luar negeri yang diwariskan hingga sekarang.


Saya ingin katakan padanya, begitu Soeharto jadi presiden undang-undang yang pertamakali ia tandatangani adalah UU No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. UU ini menjadi semacam pintu masuk penguasaan asing atas kekayan sumber daya alam Indonesia.

Ingin saya ceritakan padanya, bagaimana Soeharto menerima bulat-bulat kebijakan ekonomi yang didiktekan oleh pemeberi pinjaman. Tujuannya tak lain, yakni mengeruk segala sumber daya milik Indonesia. IMF yang pernah ditolak oleh Soekarno, disambut bak maha raja oleh Soehato.

Ingin saya terangkan padanya, Freeport telah mengincar emas di Papua sejak tahun 1950, namun terhalang oleh sikap Soekarno. Setelah Soeharto diangkat sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967, hanya sekitar 3 pekan berkuasa, tepatnya pada 7 April 1967, Soeharto memberikan konntrak karya pada Freeport selama 30 tahun.

Ingin sekali saya katakan padanya, bahwa semua yang dilakukan oleh Soeharto itu diabgun dari hasil hutang luar negeri yang kian menumpuk. Dan hutang-hutang itulah yang harus kita tanggung hingga sekarang.

Ingin saya bantah bahwa kesuksesan semu yang dibuat oleh Soeharto tak ubahnya seperti obat penghilang rasa sakit sesaat. Namun tak benar-benar menyembuhkan. Malah membuat ketergantungan.

Ingin saya katakan, uang hasil hutang itu lebih banyak dikorup oleh rezim Soeharto ketimbang untuk benar-benar membiayai pembangunan.

Pada sedikit celah waktu, saat Pak Badrah menegak kopi dan menyalakan rokok kreteknya, saya coba masuk dengan satu pertanyaan pembuka.

“Pak Badrah, tahu nggak, kalau apa yang dilakukan oleh Pak Harto itu semua adalah dari hasil hutang? Yah, hutang yang membelit negara kita hingga kini,” tanya saya.

“Dek, saat perut lapar, jangankan berhutang, merampok sekalipun akan orang lakukan!” seru Pak Badrah dengan latang.

Saya kehabisan kata. Dan pembicaraan siang itu harus terpotong oleh sebab Pak Badrah harus mengantar penumpang.

Hmmm... Bagaimana pendapat pembaca sekalian?

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon