Jumat, 09 Februari 2018

Aktivis Medsos, So What!

Aktivis Medsos

Saya pernah diledeki seorang teman. “Jadi, bung beralih menjadi seorang aktivis Medsos sekarang? He he he...,” begitu kata-kata ia lontarkan melalui inbox akun facebook saya.

Selanjutnya kami terlibat dalam diskusi panjang khusus membicarakan media sosial (Medsos) dan pengaruhnya terhadap berbagai perubahan sosial.

Kehadiran Medsos di abad ini menjadi fenomena paling berpengaruh terhadap peradaban dunia. Medsos memasuki ranah politik, ekonomi, sosial dan budaya dunia. Medsos menyebar secara terstruktur, masif dan terencana.

Penyebaran Medsos lebih masif dari penyebaran idiologi apapun. Anggota Medsos lebih besar dari anggota organisasi apapun. Pengikut Medsos lebih besar dari pengikut agama mana pun di dunia. Penggemarnya lebih banyak dari penggemar grup band manapun.

Medsos digandrungi oleh tua maupun muda. Medsos disukai oleh ras berkulit putih, sawo matang maupun berkulit hitam. Medsos digandrungi oleh para pemimpin kelas dunia hingga pemulung sampah. Medsos meleburkan suku, agama, golongan lintas geografis.

Masih mau menganggap enteng Medsos? Mari bermain dengan logika statistik. Kita mulai dari pengguna facebook. Tahun 2017, pemakaian global facebook menembus angka 1,9 miliar. Setiap 3 bulan penggunanya bertambah sebanyak 60 juta pengguna.

Nilai pertambahan tersebut tentu tidak linier. Sebab dengan semakin berkembangnya infrastruktur jaringan internet memengaruhi besarnya nilai pertambahan pengguna Medsos.

Dari angka pengguna global di atas, sebanyak 89 persen mengakses facebook melalui telephon pintar. Sebanyak 61 persen pengguna mengakses facebook setiap hari. Jadi, 1 milyar lebih manusia di dunia setiap hari membuka facebook.

Sedangkan kalau dilihat dari komposisi jenis kelamin, 44 persen pengguna wanita dan 56 persen pengguna laki-laki. Angka fantastis bukan?

Sekedar sebagai ilustrasi, tanpa bermaksud melecehkan agama. Sekarang kita bandingkan dengan jumlah pemeluk agama tiga terbesar di dunia.



Penganut agama Kristen diperkirakan 2,2 milyar, penganut agama Islam 1,6 milyar, penganut agama Hindu 1 milyar. Untuk mencapai angka tersebut, agama membutuhkan waktu beratus-ratus tahun dalam penyebarannya.

Sebagaimana angka di atas, pengguna facebook bertambah 60 juta setiap 3 bulan tanpa melalui konflik. Ia diterima tanpa diuji dengan pertanyaan oleh pengguna baru. Penggunanya nurut begitu saja.

Saat facebook mengeluarkan kebijakan baru, siapa berani protes. Penyebar agama, kerap dikejar-kejar dulu, diuji dengan berbagai cobaan. Bahkan tak jarang mati dalam perjuangan.

Bila kita bandingkan angka pemeluk agama dengan pengguna facebook. Pemeluk agama tentu dihitung mulai dari bayi yang baru lahir hingga orang tua yang telah ujur. Sedangkan pengguna facebook hanya mereka yang setidak-tidaknya melek aksara.

Artinya bahwa pilihan penggunaan facebook berdasarkan kesadaran sendiri oleh penggunanya. Secara administratif, data dan identitas pengguna facebook lebih valid dan terverifikasi. Berdasarkan kebijakan facebook, pengguna diharuskan mengkonfirmasi data pribadi.

Di sisi lain, pemilik facebook meraup keuntungan sekitar Rp 10 triliun setiap tahun. Orang bilang, ini zaman edan. Yah, memang edan. Saya, anda dan yang lainnya edan.

Bagaimana tidak! Sebuah partisipasi sadar mengeruk kantong kita sendiri, setidaknya untuk membeli qoata internet, dan memberikan keuntungan bagi pihak lain kita tak pernah keberatan.

Bagaimana dengan Indonesia? Tahun 2017, Indonesia menempati urutan ke-4 sebagai negara dengan jumlah pengguna facebook terbesar di dunia.

Urutan pertama diduduki oleh negara Amerika Serikat sebanyak 219 juta pengguna, India 213 juta pengguna, Brazil 123 juta pengguna, sedangkan Indonesia sendiri terdapat 111 juta pengguna facebook.

Angka pengguna facebook di Indonesia sudah hampir sama dengan angka jumlah partisipasi pemilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2014. Masih belum percaya? Lihat angka berikut!



Berdasarkan hasil rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU), terdapat 124.972.491 suara sah dari angka 185.826.024 orang yang memiliki hak pilih yang tercatat sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Selain facebook, media sosial yang paling populer digandrungi masyarakat Indonesia saat ini adalah whatsapp, Line, instagram, twitter, Youtube, Google+, Linkedin, snapchat, Vkontakte, Qzone dan lain-lain.

Dalam kesempatan ini tidak saya kupas semuanya. Yang jelas, para pengguna jenis Medsos di atas juga mencapai jutaan orang. Dan akan terus bertambah setiap tahun seiring dengan perkembangan teknologi internet.

Media Sosial dan Perubahan Sosial

Setelah dihadapkan pada kenyataan dan fakta tentang angka-angka fantastis pengguna Medsos di atas, tiba saatnya saya mengajak pembaca menyikapi secara positif tentang ejekan kawan saya sebagaimana saya ungkap di awal tulisan.

Saya tergolong orang yang tidak anti ledek, juga tidak anti kritik. Karena dari ledekan-ledekan itu akan membuat saya terpacu untuk mencari tahu – yang benar seperti apa?

Dari ledekan itu dapat melahirkan dugaan atau hipotesa: tidak ada gunanya berkoar-koar di Medsos; dinamika di Medsos tidak mempengaruhi kehidupan sosial di dunia nyata.



Benarkah dugaan tersebut? Salah besar! Karena pada kenyataannya apa yang terjadi di dunia Medsos sangat berdampak terhadap kehidupan sosial di dunia nyata.

Dampak tersebut bisa negatif (destrukif) maupun positif (konstruktif). Bagaimana mungkin sesuatu yang diikuti oleh milyaran orang di dunia tidak berdampak apa-apa.

Di Indonesia banyak sekali dampak sosial yang timbul akibat pengaruh Medsos. Penggalangan solidaritas untuk merespon kasus-kasus tertentu menjadi sangat mudah dengan Medsos.

Dengan Medsos, berbagai persoalan layanan publik lebih mudah dikontrol dari adanya laporan masyarakat. Materi pendidikan, materi agama, dan penyuluhan-penyuluhan dilakukan lewat Medsos.

Namun, tidak jarang pula berbagai konflik berlatar SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan) timbul akibat Medsos. Berbagai gesekan antar kelompok kerap kali timbul akibat penyampaian informasi yang tidak tepat melalui Medsos.

Berawal dari perang komentar di Medsos berujung pada saling serang di dunia nyata. Melalui Medsos orang mudah terbakar emosinya akibat penyebaran hoax (berita bohong).

Bersambung ke: Pengertian Aktivis

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon