Senin, 22 Januari 2018

Tuan dan Nyonya di Negeri Sendiri

Bekas Pelabuhan Ampenan

Hari Minggu sore kemarin, saya mengajak keluarga jalan-lajan ke Kota Tua Ampenan.

Perlahan-lahan saat memasuki jalan menuju pantai Ampenan, lalu lintas semakin padat merayap.

Area parkir di pantai bekas pelabuhan itu penuh. Dengan begitu, tukang parkir mengatur siasat.

Kendaraan roda dua boleh parkir di dalam, sedangkan kendaraan roda empat harus parkir di sepanjang pinggir jalan di luar.

Ada banyak pedagang berjualan di sepanjang pantai. Mereka adalah warga di sekitar pantai Ampenan.

Pedagang menyuguhkan pesanan pengunjung penuh ramah dan bersahabat.

Ada kuliner khas Lombok seperti Sate Bulayak, Plecing Kangkung, Sate Pusuk dan berbagai jajan tradisional Lombok. Pedagang juga menyediakan kopi, pisang goreng dan kelapa muda.

Para pengunjung tampak santai menikmati suasana pantai sore hari yang sedikit mendung itu. Saya pun mengajak keluarga menempati bangku yang tampak kosong, baru ditinggalkan pengunjung yang datang lebih dulu.

Kedua anak saya: Al dan Qila asyik bermain di pinggir pantai. Deburan ombak yang menghatam tanggul sepanjang pantai menambah keriuhan suasana.

Di sebelah bangku yang kami tempati, ada sekelompok anak muda tengah asyik berdiskusi ringan. Sayup-sayup saya dengar, mereka mengupas tentang figur calon Gubernur NTB yang akan bertarung dalam Pilkada serentak 2018 mendatang.

Tampakya mereka aktivis kampus dari salah satu Perguruan Tinggi di Mataram, karena sesekali mereka menyinggung dosen “killer” yang menjadi musuh bebuyutan mereka. Hmmm... saya jadi teringat masa-masa di kampus dulu.

Secangkir kopi panas dan pisang goreng pesanan istri saya, kini telah dihidangkan. Sungguh nikmat sekali rasanya.

Tak lama berselang, ada rombongan pengunjung lain sekitar 8 orang baru datang.

Mereka satu keluarga besar. “Eee ta aka macaru doho kai,” seru salah seorang dari mereka.

Sudah bisa saya simpulkan, mereka satu keluarga dari Bima, sebab mereka bertutur dalam bahasa Bima, yang artinya, “eh.. di sana loh tempat yang asyik buat duduk”.



Sesekali pandangan saya mengarah ke tempat anak-anak saya bermain. Dalam waktu sekejap mereka sudah mendapat teman baru.

Teman baru mereka adalah anak-anak pedagang setempat dan juga anak-anak pengunjung pantai yang sama.

Sembari menikmati kopi panas dan pisang goreng, pikiran saya teringat pada satu percakapan dengan seorang teman pengusaha dari Jakarta, bulan lalu.

Saya mengajak dia berkeliling Pulau Lombok untuk melihat usaha apa yang cocok untuk dikembangkan di pulau yang juga dikenal sebagai “Pulau Seribu Masjid” ini.

Setelah berkeliling, sore hari saya mengajaknya menikmati ikan bakar di sini. Ia pun takjub dengan kemeriahan pengunjung Kota Tua Ampenan.

“Saya kira di sini cocok untuk dikembangkan sebagai pusat rekreasi dan bisnis kuliner,” katanya.

Sesekali saya hanya melempar pertanyaan. Selanjutnya saya lebih banyak mendengarkan gagasannya. Kalau sudah urusan bisnis, dia memang jagonya.

Sudah terbukti, dari puluhan bisnis yang ia jalankan, semuanya berjalan sesuai target dan untung besar. Sedangkan saya, sangat awam di ranah bisnis.

Menurutnya, bila pemerintah setempat memberikan ijin pengelolaan kawasan terhadap bekas pelabuhan Kota Tua Ampenan ini, ia akan menyulapnya menjadi satu kawasan wisata terpadu.

Penataan kawasan tentu saja akan diatur sedemikian rupa agar tak tampak kumuh. Beberapa bangunan tua bahkan akan dirobohkan, dibagun kembali dengan bagunan baru yang seolah-olah tampak seperti bangunan tua.

Di dalam kawasan ini nanti, akan disediakan bermacam-macam wahana rekreasi.

Ada berbagai wahana permainan anak yang super canggih dan juga akan ada flying fox bagi mereka yang suka memacu adrenalin.

Sementara warung-warung sepanjang pantai milik masyarakat setempat akan direlokasi agar tak tampak kumuh.

“Bentar-bentar, bro. Relokasi gimana maksudnya? Digusur ke tempat lain, begitu?” tanya saya.

“Yah nggak digusurlah bro. Relokasi itu lebih manusiawi. Kita sediakan tempat yang lebih layak di lokasi lain."

"Terus?"



"Tenang aja, dengan dana CSR perusahaan, kita bisa buatkan bangunan yang lebih baik dari pada gubuk-gubuk yang mereka tempati sekarang,” jawabnya.

“Terus, di tempat mereka jualan sekarang mau diapain?”

“Nah, inilah yang dinamakan berpikir bisnis, bro. Kita sulap tempat ini untuk restoran, cafe dan food corner."

"Keuntungan lainnya?"

"Setiap pengunjung yang masuk tentu akan membayar tiket masuk. Setiap wahana permainan dikenakan biaya lagi. Tarifnya beda-beda sesuai jenis wahana.

"Orang-orang di sini lebih suka bawa makanan sendiri," kata saya.

"Kita buat aturan: pengunjung dilarang membawa masuk makanan. Jadi bisnis kulinernya sudah pasti jalan,” jalasnya penuh semangat.

"Hmmm...," saya hanya mengangguk-angguk pelan, isyarat saya masih belum sreg dengan gagasan kawan tadi.

Dalam hati bertanya-tanya, "Beginikah cara berpikir bisnis?" Mungkinkah cara berpikir saya yang terlalu baper.

“Hei! Kok malah bengong. Yuk foto selfie, buat update status fb!” hentakan suara istri membuat saya tersadar, seharusnya kalau jalan-jalan, yah jalan-jalan saja. Nggak mikir yang lain-lain.

Saya pun menuruti permintaan istri berpose layaknya tuan dan nyonya.

Menjelang magrib, kami pun kembali pulang ke rumah.

Istriku menghampiri pedagang untuk membayar makanan dan minuman yang telah kami pesan.

“Saya ingatin lagi yah?" ucap pedagang.



"Tadi pesan kopi hitam satu, teh hangat dua, pisang goreng tujuh, sate bulayak dua, sereal anak dua, air mineral tanggung satu, roti bakar satu," lanjutnya.

"Tambah teh gelas satu tadi," kata isteriku.

"Oh, iya. Semuanya lima puluh tiga ribu” kata pedagang.

Sebelum meninggalkan lokasi, tak lupa saya membayar parkir Rp 5 ribu. Biaya itu termasuk jasa plus pengamanan kendaraan. Sebab tukang parkir merangkap sebagai penjaga kendaraan yang kita bawa, dari segala kemungkinan.

Saya pun menarik gas dengan hati riang gembira. Untuk kesenangan keluarga di sore hari itu, saya tak perlu merogoh kantong dalam-dalam, cukup dengan Rp 58 ribu, keluarga pulang penuh bahagia.

Dan yang terpenting, interaksi penuh kekeluargaan dengan pengunjung lain adalah sesuatu yang tak ternilai harganya.

Saya pun membayangkan, berapa duit yang harus saya keluarkan kelak, kalau tempat itu menjadi seperti yang teman pengusaha saya tadi inginkan.

Intraksi menjadi kaku, karena yang masuk ke situ hanyalah mereka yang cukup duit. Apa-apa menjadi mahal, karena dubungkus dengan modrnitas. Belum lagi tatapan sinis warga setempat yang kehilangan lahan pekerjaan.

Hmmm... harusnya saya bayar, yah bayar aja yah, ndak perlu bayangin yang lain-lain.

“Ada apa sih, kok senyum-senyum sendiri?” tanya istri saya.

“Hari ini saya merasa, kita seperti tuan dan nyonya,” jawabku.

Dari raut mukanya yang merona, sepertinya istruku senang mendengar jawaban itu. Mungkin dipikirnya, itu semacam kata-kata rayuan. Padahal ada yang lain yang saya pikirkan. [MK]

Comments
3 Comments

3 komentar

Awalnya saya mengira cuma tulisan jalan-jalan biasa. Agak malas bacanya. tetapi setelah baca lebih lanjut, ternyata ada pesan yang mau disampaikan. terimakasih pak, tulisannya sangat menginspirasi. Kita harus berdaulat di tanah kita sendiri. Apalagi saat ini sedang gencar-gencarnya pembangunan pariwisata di NTB. Jangan sampai kita hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri. Ditunggu tulisan lainnya, pak.

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon