Senin, 29 Januari 2018

Tergoda Wanita Muda

Ilustrasi sketsa wajah wanita.

Seorang wanita muda berpenampilan rapi bertamu ke tempat saya hari ini. Saya tak membuat janji pertemuan sebelumnya. Pun saya tak mengenalnya. Dalam hati bertanya-tanya – ada apa gerangan. Rejeki kah? Atau jangan-jangan...

Dia lansung saja menghampiri meja kerja saya di sebuah ruko yang saya sewa. Bagian depan ruko memang sengaja saya biarkan terbuka agar setiap pelintas mudah melihat barang yang dipajang di sana.

Wanita berparas cantik itu berlaku sopan. Ia memberikan salam. Saya pun membalas salamnya. Dia memperkenalkan diri – menyebut nama. Sebut saja namanya Lisa (bukan nama sebenarnya). Setelah itu dia malah lebih banyak menanyakan tentang saya dan juga perihal usaha saya.

Wanita muda ini punya kemampuan komunikasi dengan baik. Cara bertanyanya halus. Setiap pertanyaan yang bersifat privasi, seperti umur, keluarga, pendidikan – ia selalu memulainya dengan kata, “maaf kalau boleh tahu?”.

Saya tak kuasa menolak pertanyaannya. Untuk mengimbangi sekian banyak pertanyaan Lisa, saya hanya melontarkan satu pertanyaan pamungkas: Maaf anda sudah berkeluarga? Tiba-tiba hening. Ternyata cara menjawabnya tak segesit cara ia bertanya. Tergolong lamban.

Butuh sedikit jeda waktu baru ia jawab. Ada perubahan rupanya. Saat bertanya, ia tampak begitu “agresif”. Tapi saat menjawab, ia tampak mulai kedor. Ternyata pertanyaanku cukup ampuh. Langsung mengenai sasaran lawan. Dan aku merasa menang. Setidaknya posisi berimbang.

Dengan wajah tersipu malu ia bilang, “belum, Pak”.

“Baguslah, kalau begitu,” kata saya.

“Loh kog bagus, Pak. Apa bagusnya?”

“Ya iyalah, setidaknya Lisa tidak punya alasan untuk terburu-buru untuk pergi. Tapi jangan berpikir yang nggak nggak yah, karena saya sudah punya dua anak,” seloroh saya.

Dia pun tertawa lebar. Tampaknya ia terhibur. Jurus-jurusku mulai keluar.

Sejak itu, obrolan kami semakin akrab. Sesekali saya melempar goyonaan. Ia balas dengan tawa. Kemampuan komedi saya tiba-tiba saja muncul. Mungkin inilah apa yang disebut bakat bawaan. Naluri dasar seorang lelaki. He he he...

Lisa meminta nomor hp saya. Saya pun dengan senang hati memberikannya. Sebaliknya, saya pun meminta nomor hp Lisa. Ia pun memberikan nomor hp plus WA.

Percakapan kami semakin larut, sampai-sampai saya lupa menanyakan – sebetulnya maksud dan tujuan ia kemari, apa? Yah, apa sebetulnya?

Setelah suasana makin arab, barulah ia jelaskan maksud kedatangannya. Ternyata wanita muda, cantik dan berbakat ini bermaksud menawarkan sebuah produk asuransi.


“Tuwing! Tuwing! Tuwing!” Kepala saya sedikit nyut-nyutan. Seperti kena strum tegangan rendah. Ternyata obrolan panjang sebelumnya berujung pada sebuah penawaran produk asuransi.

Permasalahannya bukan pada produk yang ditawarkan, tapi cara masuk Lisa yang cukup ampuh menaklukan saya.

“Bagaimana, Pak? Masih punya waktu untuk ngobrol-ngobrol kan?” tanya Lisa.

“Iya. Iya. Emm.. masih dong,” jawab saya.

Kini keadaan terbalik. Saya merasa kalah strategi. Saya terperangkap dalam permainannya. Lisa rupanya sudah sangat terlatih bagaimana menaklukkan tipe calon nasabah seperti saya.

Saya hanya bisa pasrah mendengarkan presentasi produk yang ia tawarkan.

Sesekali saya hanya menganggukan kepala sebagai isyarat bahwa saya menyimak dengan baik. Tetapi anggukan saja tampaknya tak memuaskan Lisa. Segera ia membuat pertanyaan yang harus saya jawab. Dan dia tahu, pasti saya jawab setuju.

“Dalam hidup ini, setiap orang pasti tak menginginkan sakit. Setuju nggak?” tanya Lisa.

“Iya, setuju bangat,” jawab saya.

“Bagus kalau begitu. Jawaban tadi sangat berkaitan dengan manfaat produk yang akan saya jelaskan berikut,” ujar Lisa.

Sebelum Lisa menjelaskan lebih lanjut, tiba-tiba di parkiran depan ruko tampak seorang wanita yang tak asing bagi saya. Ia turun dari kendaraan.

Saya bergegas menyambutnya di depan ruko. Saya agak salah tingkah.

“Sayang, perkenalkan ini Lisa. Lisa, ini istri saya Widia,” kata saya. Keduanya saling berjabat tangan, saling menyapa.

“Maaf sebelumnya yah, Lisa. Saya ada urusan penting di kantor Pemda. Saya harus ke sana sekarang. Nah, penjelasan tadi silahkan lanjut sama istri saya. Saya sih apa kata istri. Pasti setuju-setuju saja,” kata saya sembari bergegas pergi secepat mungkin.

Saya pun berlalu secepat kilat, sebelum salah tingkah berlanjut.

Dari pegalaman saya di atas, pelajaran apa yang bisa dipetik yah?

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon