Selasa, 23 Januari 2018

Kawan Saya Jadi Korban Baliho Cagub NTB


Satatus facebook Ridho belum ada tanggapan.


Saya punya teman bernama Ridho. Kami bertetangga usaha, bersebelahan menempati satu komplek ruko. Kami biasanya ngobrol sambil ngopi selepas makan siang.

Tak biasanya, hari ini dia mendatangi tempat saya lebih awal. Ia langsung menyampari saya di ruang kerja. Kelihatannya ada sesuatu yang penting hendak ia sampaikan.

Sebelum ngobrol banyak, saya suguhkan dia segelas kopi hitam kegemarannya. Sembari nyeruput kopi panas, mengalirlah kisah sedih yang baru saja menimpa keluarganya.

Tadi pagi lelaki ulet itu menjemput anaknya di sekolah. Istrinya yang baru pulang dari pasar juga ikut bersamanya. Sampailah mereka di depan sekolah yang berlokasi di perempatan Kediri, Lombok Barat.

Anak yang dijemput baru saja naik di atas motor. Tak terkira, tiba-tiba terdengar suara, “bruaaakkkk.”

Sebuah baliho milik salah satu calon gubernur NTB ambruk. Tiang penyangga dan kayu sebagai bingkai baliho mengenai kepala istrinya. Kepala Ridho pun tak luput dari hantaman kayu baliho sang calon gubernur.

“Pandangan saya gelap seketika itu. Untung anak saya tidak kena. Istri langsung saya antar ke Puskesmas Kediri,” tutur Ridho.

Menurut dia, isteterinya mengalami luka memar hingga muncul benjolan di kepala. Cedera kepala yang cukup serius.

Dokter menyarankan rawat inap. Tapi isterinya minta pulang, sebab kalau dia dirawat inap, tak ada orang yang akan merawat anak-anaknya yang masih kecil.

Saya hanya menganguk-anggukkan kepala, berempati mendengarkan nasib buruk yang menimpa keluarga Ridho. Sebuah ironi yang terjadi ditengah lautan harapan yang ditebar para kandidat.

“Kalau saya tahu nomor hp calon itu, saya akan menelfonnya. Saya tak ingin menuntut apa-apa. Saya hanya mau mengingatkan, agar memberitahukan timnya di lapangan: yah kalau pasang baliho yang benar,” ujar dia.

Di tengah duka yang dialaminya, Ridho masih sempat memikirkan – bagaimana seandainya kalau baliho roboh itu menimpa anak-anak sekolah. Mungkin nasib mereka akan lebih buruk.



Ia sudah berusaha menyampaikan peristiwa tersebut melalui akun facebook miliknya. Ia berharap mendapatkan respon dari tim calon bersangkutan. Namun hingga kami ngobrol, belum ada respon.

Pembicaraan kami pun mengarah pada baliho-baliho yang lain. Pada musim pilkada ini, baliho calon, baik calon bupati maupun calon gubernur bermunculan di mana-mana. Bak jamur di musim hujan.

Dari sekian banyak baliho itu, rata-rata dipasang tanpa memperhatikan etika, estetika maupun lingkungan. Terlihat dipasang asal-asalan begitu saja.

Ada baliho yang dipasang di depan kuburan. Ada baliho dipasang di lingkungan rumah ibadah. Ada baliho yang dipasang di depan fasilitas umum. Ada pula yang langsung main tancap paku di pohon-pohon.

Saya jadi teringat dengan obrolan ringan bersama kawan-kawan aktivis mahasiswa beberapa waktu yang lalu, di Mataram. Kami membicarakan tentang dinamika politik lokal menjelang pilkada serentak. Termasuk tentang figur-figur yang akan tampil dalam kontestasi pilgub NTB 2018.

“Apa yang bisa kita harapkan dari para kandidat. Coba lihat di jalan-jalan. Baru jadi calon saja, dengan baliho mereka merusak lingkungan, menabrak aturan. Apalagi etika dan estetika, jauh... jauh.... Tak berlaku itu,” seru salah seorang kawan mahasiswa.

Merujuk pada pemikiran Mahfud MD, dalam makalah “Evauasi Pemilukada dalam Perspektif Demokrasi dan Hukum”, 2012: Pemilukada menjadi arena rivalitas kekuasaan secara tidak sehat sehingga belum dapat melahirkan pemimpin berintegritas.

Menurut mantan ketua Hakim Mahkamah Konstitusi itu, Pemilukada juga belum mampu melahirkan pemimpin yang bertindak secara bertanggungjawab, mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi, kelompok, atau partai.

“Kayaknya ada pelanggan yang datang di tempatku, saya balik dulu yah, kawan,” ucap Ridho usai menghabiskan segelas kopi siang ini. Ia berjalan sempoyongan. Rasa sakit dikepalanya belum sembuh betul.

Kisah Ridho tidak bermaksud mendiskreditkan salah satu calon. Dari peristiwa ini, semoga menjadi pelajaran bagi para kandidat. Sesekali perlu evaluasi apa yang telah dikerjakan oleh tim lapangan. [MK]

Comments
3 Comments

3 komentar

Turut berduka dan mendoakan, semoga korban lekas sembuh. Kejadian ini harusnya menjadi pelajaran bagi para calon, jangan main pasang sembarangan baliho. Kalau sudah begini, tim pada hilang entah kemana.

Semoga segera mendapat tanggapan, terutama kandidat dan penyelenggara pemilu. Semoga korban cepat sembuh. Aamin.

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon