Selasa, 30 Januari 2018

Gema Pasar

Ilustrasi Lukisan Pasar Tradisional.

Kini saya menemukan sesuatu yang baru. Hari-hari saya lewatkan di komplek Pasar Kediri, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Saya membuka sebuah tempat usaha di sini. Kebetulan ruko yang saya tempati persis berdampingan dengan akses jalan masuk Pasar Kediri.

Kini saya merasa semakin kaya. Kaya teman. Kaya akan pengetahuan-pengetahuan baru. Kaya akan kenyataan-kenyata di lapangan. Ibarat rindu lama terpendam, kini telah terobati.

Ibarat kekasih, dulu sedikit terhibur kala membaca surat-surat cinta. Surat-surat itu berupa buku yang saya baca pelipur rundu pengetahuan.

Yah, entah berapa banyak buku sosiologi, kebudayaan, hukum, politik dan ekonomi yang telah saya baca – tak jua memuaskan lapar dan haus pengetahuan.

Di sini, di pasar ini, tidak hanya pengetahuan yang saya dapatkan, tetapi kenyataan-kenyataan yang sesungguhnya.

Di buku berbicara das sollen (yang dicita-citakan), sementara di sini, ada potret das sein (praktik yang terjadi).

Saya merasa senang bertemu dengan teman-teman baru. Mereka berasal dari beragam profesi.

Ada tukang ojek, pedagang beras, pedagang ikan, pedagang kopi, pedagan tembakau, tukang parkir, pedagang keliling, pedagang obat, dan lain-lain.

Banyak kisah yang saya dengarkan dari mereka. Kadang-kadang ada kisah senang dan jenaka, selebihnya kebanyakan kisah horor, semacam jeritan rakyat kecil yang tak pernah di dengarkan.

Teman-teman saya itu senang sekali bercerita. Mungkin karena terlalu lama dicuekin.

Banyak hal yang bisa dipelajari di pasar. Pelajaran-pelajaran itu tak pernah saya dapatkan di sekolah formal. Pelajaran itu tak ada di buku-buku koleksi perpustakaan.

Di sini semuanya ada. Mulai dari matematika, ekonomi, sosiologi, kebudayaan, etika, dan lain-lain.

Tak usah repot-repot bila igin belajar di pasar. Nongrong sambil habiskan segelas kopi di sana, niscaya kita akan dapatkan pelajaran yang bisa jadi sebanding dengan kuliah satu semester.

Masyarakat pasar tak perlu diajarkan tentang tata tertib dan SOP (Standard Operating Procedures). Dunia pasar berlaku aturan sendiri.

Tak perlu tanda tangan surat perjanjian di atas materai untuk mengikat kesepakatan dagang, sebab bagi mereka, kepercayaan lebih mahal ketimbang materai.

Pedagang besar tidak akan makan pedagang kecil. Sebaliknya pedagang kecil menghormati pedagang besar. mereka saling menjaga kepercayaan.

Meraka saling menghidari praktik-praktik yang dapat merugikan kedua belah pihak. Dan semua itu berlangsung alamiah. Tak ada perjanjian tertulis.

Contohnya pedagang beras. Para juragan beras datang ke pasar setiap hari membawa beras dengan mobil. Juragan hanya boleh menjual berasnya pada pedagang eceran di dalam pasar dengan harga yang disepakati.

Juragan paham benar, jika mereka mengecer langsung, tentu akan mematikan pedagang kecil.

Jalinan hubungan juragan dengan pengecer berlangsung harmonis. Kepercayaan dan saling menghormati berlaku tanpa rekayasa. Pengecer yang bermodal pas-pasan tak perlu khawatir.

Modal kepercayaan yang paling utama. Dengan kepercayaan juragan, pengecer dapat mengambil terlebih dahulu beras. Bayar setelah laku diecer.

Para pedagang di pasar tidak serakah. Mereka tahu diri, tidak akan menyerobot lahan teman.

Seumpama pedagang sembako. Dia tidak akan berjualan ikan, meski ia punya informasi dan akses untuk mendapatkan ikan dengan harga murah.

Justeru informasi itu segera ia beritahukan pada temannya yang berdagang ikan.

Pedagang di pasar tidak saling mencaplok. Di Pasar Kediri, hari Jumat adalah hari dimana menjadi puncak keramaian pasar. Masyarakat menyebutnya “Pasar Jumat”.

Para pedagan deri segala penjuru berdatangan mengelar dagangan di hari itu. Halaman pasar dan halaman ruko-ruko terdekat penuh sesak.

Pagi hari mereka mendirikan tenda dadakan. siangnya dibongkar kembali. Tidak ada yang ribut soal lokasi untuk mengelar dagangan. Mereka punya batasan-batasan tak tertulis.

Setiap Jumat mereka menempati titik lokasi yang sama. Jika yang lain datang terlamabat, yang datang lebih awal tak akan mencaplok tempat temannya yang terlambat.

Harmonika relasi masyarakat di Pasar Kediri telah berlangsung lama. Generasi lama berganti generasi baru.

Di balik wajah pasrah dan tawakal para pedagang, saya menyaksikan ada kegelisahan yang disembunyikan. Jika tak ada aral melintang, saya akan sampaikan dalam kesempatan berikutnya. [MK]

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon