Selasa, 30 Januari 2018

Bacaan Sholat Jokowi

Ilustrasi  dan Jokowi.

Lawatan Presiden Jokowi ke Afganistan beberapa waktu yang lalu mengundang perhatian khalayak ramai. Ihwal tersebut menjadi head line berita di berbagai media nasional. Di media sosial, apalagi. Jadi viral. Pro kontra? Tentu saja.

Dua hal yang menjadi sorotan – pertama, Jokowi dinilai nekat hadir di negeri penuh gejolak tersebut. Kedua, Jokowi menjadi imam sholat dzuhur di istana Presiden Afganistan.

Soal ibadah sebetulnya tak elok diperdebatkan. Bukankah ibadah itu urusan hitung-hitungan antara setiap hamba dengan Tuhannya. Entah sholatnya sendiri-sendiri, berjamaah, jadi imam atau jadi makmum bukan domain publik yang pantas diperdebatkan.

Apa hendak dikata, inilah negeriku Indonesia. Negeri ini tak hanya kaya akan sumber daya alam, adat istiadat dan budaya. Negeri ini juga kaya akan sumberdaya manusia kritis, inovatif, homoris dan senang ngejahil.

Kejahilan bangsa ini bukan omong kosong. Contohnya kawan saya. Soal pilihan politik, dia tergolong barisan anti Jokowi. Pakai bangat. Pokoknya ia seorang kritikus Jokowi habis. Jangankan soal kebijakan, apapun tindak-tanduk Jokowi tak ada yang lepas dari kritikannya.

Tak dinyana, ia bahkan memberikan kritik yang sangat detail soal Jokowi saat jadi imam sholat dzuhur di Afganistan. Rupanya ia sudah tonton video yang lagi viral di media sosial itu, dimana salah satu adegan, Jokowi sedang pimpin sholat.

“Coba perhatikan baik-baik video ini,” katanya sambil menyodorkan telepon pintar miliknya. Ia menunjukkan layar terbuka berisi video Jokowi.

Menurutnya, video 60 detik itu tak menggabarkan Jokowi memimpin sholat secara utuh. Adegan sholat dimulai pada detik ke-28 sampai detik ke-55. Hanya 27 detik. Itupun langsung pada adegan sujud dan duduk di antara dua sujud terakhir.

Dari adegan pendek itu, menurutnya belum bisa memberikan citra Jokowi sebagai seorang muslim yang cakap memimpin sholat.

Wow! Ini kawan luar biasa. Detik per detik pun tak luput dari cermatannya. Andaikan ia politisi level nasional seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah, mungkin kawan ini bisa lebih tenar karena punya daya kritik yang amat tajam.

Andai ia politisi nasional, setiap ada aksi Jokowi yang mengundang perhatian publik, kawan saya ini bakal menghiasi layar TV nasional untuk dimintai pendapat. Di koran-koran lokal dan nasional bakal terpampang wajahnya. Emanknya pasti bangga.

Kritik terhadap Jokowi jadi imam sholat tak sampai di disitu. Semakin lama semakin menukik ke hal-hal teknis sholat.

Begini katanya, “Antum kan muslim, antum tentunya tahu tata cara sholat berjamaah. Imam sholat dzuhur dan sholat ashar tidak boleh mengeraskan suara saat baca ayat.”

“Terus apa masalahnya?” tanya saya.

“Yah jelas, dari situ semakin menujukkan kalau Jokowi hanya pencitraan saja. Kita tak tahu bagaimana cara baca ayatnya,” sambungnya lagi.
“Sudah cukup. Kalau diskusi politik yah politik saja, kawan. Kok jadi membicarakan cara sholatnya orang. Kita tak pantas menilai begini begitu. Bukankah itu juga dilarang dalam agama,” kata saya bermaksud mengakhiri pembicaraan.

“Eiiit. Sabar! Sabar! Tunggu dulu,” katanya.

Dia kembali meyakinkan saya bahwa ini justru membahas dari aspek politik. Karena menurutnya apa yang dilakukan oleh Jokowi justeru sedang melakukan pencitraan politik dengan ibadah.

Meski begitu, dia tetap masuk pada pembahasan tata cara sholat berjamaah. Untuk menjadi imam sholat itu tidak sembarangan, katanya.

Pertama, seorang laki-laki diantra makmum yang lain. Kedua, yang tertua di antara makmum. Ketiga, yang paling baik akhlaknya. Keempat, yang paling baik bacaan dan lafalan Qur’annya.

“Nah, sekarang ana tanya sama antum. Jokowi laki-laki?”

“Ya iyalah. Masa yang gitu-gitu pake nanya,” kata saya.

“Ndak apa. Biar kita bisa cek persyaratan, benar tidaknya Jokowi jadi imam. Apakah Jokowi tertua diantara yang lain?”

“Emm... mana saya tahu,” jawab saya. Pertanyaan-pertanyaannya makin menukik.

“Ok. Tak jadi soal karena saya punya jawaban. Saya sudah ngecek di google. Ashraf Ghani, presiden Afganistan itu lahir tahun 1949. Sementara Jokowi lahir tahun 1961. Makmum lain kelihatannya masih banyak yang lebih tua dari Jokowi,” jelasnya.

“Apakah Jokowi yang paling baik akhlaknya di anatara yang lain?”

“Mana bisa kita menilai akhlak seseorang. Dan janganlah suka menilai orang lain, kawan,” kata saya.

“Ok, katakanlah syarat yang ini kita pendding dulu. Walaupun saya yakin di situ pasti banyak ulama yang tak perlu diragukan ahklaknya,” jawab dia berusaha mengalah, walaupun ada saja alasannya.

“Berikutnya. Apakah Jokowi yang paling baik bacaan dan lafalan Al Qur’annya?” tanya dia lagi.

“Mana kita tahu!” kata saya.

“Ya. Iya. Mana kita tahu cara bacanya. Dia jadi imam sholat dzuhur yang memang bacaan ayatnya ndak pakai suara kok,” katanya lagi.

“Terus masalahnya apa?” tanya saya.
“Kita tidak tahu persis apa yang terjadi di sana. Janganlah segala sesuatu yang tidak kita tahu pasti, lantas kita hakimi dengan berbagai persepsi subyektif kita,” sambung saya.

“Yah masalah dong. Siapa suruh adegan sholat dipamer-pamer segala pakai video. Apalagi ibadah dipakai pencitraan politik, jelas disitu bermasalah,” jelasnya.

“Begini saja, diskusi kita lanjutkan nanti. Ini waktunya untuk sholat dzuhur,” kata saya.

Kami pun berges untuk wudhu. Saat sama-sama berdiri di ruang sholat, dia mengibas pelan tangan ke depan. Semacam isyarat mempersilahkan saya jadi imam.

Selesai sholat, saya menanyakan kepadanya, “Ada masalah dengan sholat kita saat saya jadi imam?”

“Ndak ada. Kenapa tanya begitu?” ia balik bertanya.

“Tanya aja. Tau dari mana ndak ada masalah?” tanya saya lagi.

“Yah karena kita sudah berteman lama. Jadi tahulah antum memenuhi syarat itu. Lagian kita sama-sama di sini. Jadi tahu betul,” katanya.

“Kayaknya istruku udah selesai masak di dapur. Mau makan dulu apa selesaikan diskusinya?” tanya saya.

“Enaknya kita selesaikan dulu diskusinya. Biar makannya lebih plong. Lagi pula ndak enak makannya kalau masih ada yang belum tuntas dibicarain,” katanya.

“Ok. Baik kita lanjut. Sekarang giliran saya yang nanya. Saya Cuma mau ajukan beberapa pertanyaan. Apa bedanya sholat Jokowi ama sholat yang baru kita tunaikan?” tanya saya.

“Ndak ada bedanya. Sama-sama menunaikan kewajiban sebagai umat muslim,” jawabnya.

“Ya, sudah. Mari kita makan siang,” ajak saya.

“Cuma itu?”

“Ya. Jawabanmu barusan jadi kesimpulan,” ucap saya.

Kami pun beranjak dari ruang sholat menuju meja makan. Tahu Lombok dan Plecing Kangkung sudah terhidang sebagai teman santap siang.

Saat santap siang dia berusaha memancing pertanyaan. Lansung saya potong, ”Gimana bumbu plecingnya, kawan?” tanya saya.

“hmmm... mantap pedesnya,” jawabnya.

“Oh, kirain kurang mantap. Maunya saya tambahin micin. Kayaknya antum kurang micin,” kata saya.

Ia pun tertawa terbahak-bahak. Diskusi berakhir tanpa harus disimpulkan. [MK]

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon