Rabu, 20 Juli 2016

Kumpulan Cerpen “Sonata Musim Kelima”

Sampul Buku Sonata Musim Kelima

Buku kumpulan cerpen karya Lan Fang ini diterbitkan untuk mengenang sang penulis. Hal ini dapat dilihat dari tulisan pembuka di halaman awal: in memoriam Lan Fang. 5 Maret 1979 – 25 Desember 2011.

Semasa hidupnya, Lan Fang dikenal sebagai sosok perempuan hebat, penuh energi, penulis humanis yang menjunjung pluralisme.

"Lan Fang’s life is proof of how far the Chinese-Indonesian community has come and what it has achived in term of integration. Lan Fang is a testament to the power and possibilities of Indonesia’s multiculturalism, and a rebuke to the many times that the republic has failed to live up to its promises," komentar The Jakarta Globe dalam menyambut kehadiran buku ini.

“Saya merasa kehilangan. Saya membaca semua novel karyanya. Bahkan salah satunya saya pakai latihan menerjemahkannya ke dalam bahasa Mandarin waktu saya sekolah di Tiongkok dulu. Lan Fang adalah satu di antara sedikit wanita yang menghasilkan karya sastra yang banyak,” kata Dahlan Iskan, Menteri BUMN juga Bos Jawa Pos.

“Lan Fang mengerti dan menjadikan hidup dalam arti sebenarnya. Tidak peduli apakah ada perbedaan ras maupun agama,” kata Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur.

Lan Fang adalah sosok penulis yang memiliki kekhususan tersendiri. Wanita penulis kebangsaan Indonesia etnis Tionghoa ini, semasa hidupnya yang tergolong singkat sangat produktif.

Mengutip Wikipedia, Lan Fang telah menulis beberapa novel, antara lain Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-laki yang Salah (2006), Yang Liu (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), Lelakon (2007) dan Ciuman di Bawah Hujan (2010). Ciuman di Bawah Hujan ini menjadi Novel terakhir semasa hidupnya.

Dalam Kumpulan Cerpen “Sonata Musim Kelima” sendiri terdiri dari 15 cerpen karya Lan Fang. Beberapa cerpen Lan Fang dalam buku ini mengambil latar belakang kehidupan marga Tionghoa. Cerpen yang berjudul Bai She Jing misalnya, ide cerita berasal dari legenda China yang menceritakan hisah cinta Siluman Ular Putih.

Cerpen yang berjudul “Qiu Shui Yi” menceritakan seorang gadis penjual gantungan kunci di trotoar jalan zhongzhan beilu di Quanzhou China. Lan Fang juga kerap mengunakan bahasa Mandarin dalam beberapa percakapan.

Kalimat-kalimar berbahasa Mandarin tersebut kemudian diberi arti melalui catatan kaki. Misalnya Xie-xie = terima kasih, Wo song gei ni = aku memberikan ini untukmu, Zai jian = sampai jumpa lagi.



Membaca kumpulan cerpen Lan Fang dalam buku ini butuh energi ekstra untuk menelaah kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf yang digunakan oleh penulis.

Pasalnya, karya Lan Fang ini bak membaca makna lukisan abstrak. Kecuali cerpen berjudul Dermaga, 14 karya Lan Fang dalam buku ini menggunakan cerita kiasan menuju makna yang sesungguhnya.

Misalnya, cerpen yang berjudul Festival Topeng. Lan Fang menceritakan seorang suami pengrajin topeng. Topeng-topeng dibuat berdasarkan pesanan orang yang akan mengenakannya. Sang istri pengrajin mendesak suaminya agar sekali-kali ikut festival. Sang istri tak mau suaminya hanya sekedar menjadi pengrajin.

Setelah membaca keseluruhan cerita ini, ternyata Lan Fang bermaksud menceritakan hiruk-pikuk para calon legislative yang menggunakan seribu topeng kepalsuan menjelang Pemilu. Pemilu itulah yang digambarkan sebagai Festival Topeng.

Lan Fang sering kali menggunakan catatan kaki untuk beberapa penggalan kalimat yang ia gunakan dalam cerpen. Seperti kalimat, “air tidak punya pintu” dalam cerpen berjudul Laila.

Keterangan catatan kaki kalimat tersebut menerangkan bahwa kalimat tersebut berasal dari penggalan puisi Supardi Djoko Damono yang berjudul “Kolam di Pekarangan”.

Cukup banyak penggalan kalimat yang Lan Fang gunakan dengan tambahan catatan kaki. Bagi sebagaian penikmat cerpen, apa yang Lan Fang lakukan tak lazim. Apalagi penggalan kalimat tersebut berasal dari puisi.

Pembaca cerpen Lan Fang akan bekerja dua kali agar bisa memahami makna cerita yang disampaikan. Pertama, memahami sepenuhnya puisi tempat penggalan kalimat itu berasal. Kedua, pembaca harus menyelami makna cerita yang dibaca.

Butuh baca berulang-ulang untuk memahami alur cerita dan makna yang terkandung dalam cerpen karya Lan Fang dalam buku ini. Membaca kumpulan cerpen Lan Fang ini tak ubahnya membaca puisi panjang yang terdiri dari berpuluh-puluh bait.

Oleh karena itu, kumpulan cerpen ini lebih tepat untuk kalangan terbatas. Pertama, mereka yang telah familiar dengan karya-karya Lan Fang. Kedua, mereka yang telah banyak menelaah berbagai karya sastra Indonesia. Ketiga, mereka yang telah cukup memahami berbagai tradisi Tionghoa.

Judul Buku : Kumpulan Cerpen “Sonata Musim Kelima”; Penulis : Lan Fang;Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama; Tahun Terbit : Jakarta, Februari 2012; Ukuran : 152 hlm; 20 cm

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon