Minggu, 03 Juli 2016

20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas

Sampul Buku

Kerja-kerja pencerahan umat tak melulu milik kaum rohaniawan. Siapa pun boleh berandil. Termasuk para penulis melalui karya fiksi. Begitu pula dengan pembumian ilmu pengetahuan—tak hanya dilakukan melalui jurnal-jurnal ilmiah.

Namun, melalui karya fiksi dapat dikemas secara menarik mengiringi pasang-surut alur cerita. Kepingan demi kepingan sejarah yang tabu diungkapkan secara gamblang dapat dikonstruksi melalui bungkusan cerita. Setidaknya hal tersebut dapat kita jumpai dalam “20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas”.

Cerpen yang berjudul “Salawat Dedaunan” karya Yanusa Nugroho misalnya, menggambarkan bagaimana situasi masjid tua yang sepi ditinggal umatnya. Masjid ramai kembali setelah datang seorang nenek yang mencari jalan ampunan. Si nenek menempuh jalan yang tak lazim—ia memungut ribuan daun trembesi yang beserakan di halaman masjid.

Setiap helai daun yang ia pungut diringi dengan salawat dan salam. Kejadian tersebut mengundang perhatian warga untuk melihat apa yang dilalukukan si nenek. Di saat waktu shalat tiba, warga pun harus sholat berjamah di masjid. Sampai akhirnya si nenek meninggal diikuti jejak goib yang ditafsirkan sebagai jalan ampunan telah ditempuh si nenek.

Agus Noor dalam “Kunang-kunan di Langit Jakarta” lain lagi. Ceritanya dimulai dari seorang zoologist yang terobsesi dengan berbagai penemuan binatang langka. Sebelum sampai pada kunang-kunang di lagit Jakarta, penulis menceritakan bagaimana petualangan Peter, sang tokoh sentral dalam bercengkrama dengan berbagai hewan langka.

Di Pulau Galapagos, Peter mengamati kura-kura keturunan langsung spesies yang diamati Charles Darwin ketika merumuskan teori evolusinya pada abad ke-19. Pada bagian lain penulis menyinggung tentang: burung bulbul di perbukitan kapur dataran rendah Laos, kucing emas di pegunungan Tibet, katak berwarna ungu di Suriname, kumbang tahi, kadal tanpa kaki, duiker merah, galago kerdil, mokole mbembe, burung akalat ukwiva—sampai obsesi Peter menemukan spesies putri duyung yang diyakininya masih hidup di perairan Kiryat Yam, Israel.



Saya menduga, penulis tentu tak sembarang menulis hewan-hewan itu dalam cerpen tanpa didasari dengan pengetahuan dasar tetang hewan tersebut. Kemudian sampailah pada petualangan Peter dalam mengamati kunang-kunang di langit Jakarta. Kunang-kunang yang diyakini sebagai penjelmaan roh perempuan yang mati penasaran.

Inti ceritanya justru di kunang-kunang itu. Dalam kemahiran penulis merangkai cerita, kisah kemanusiaan yang menyayat hati menjelang reformasi 1998, di mana etnis Tionghoa menjadi korban, termasuk peristiwa pemerkosaan dan pembunuhan terhadap perempuan etnis Tionghoa, lalu dilukiskan sebagai roh penasaran yang menjelma menjadi kunang-kunang.

Seluruh karya yang terangkum dalam “20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas” ini memiliki maksud yang hampir sama—menyampaikan pesan yang luput dari ingatan sejarah, maupun pesan yang luput oleh karena ketakutan kita pada sesuatu yang muncul di luar cara pandang kita sehari-hari.

Oleh karena sifatnya yang demikian, untuk mencerna maksud yang diinginkan penulis cerpen menjadi samar-samar. Pembaca membutuhkan bekal awal untuk sampai ke sana, yakni pengetahuan sejarah terhadap rentetan peristiwa yang disamar-samarkan dalam bungkusan karya fiksi, juga keberanian melompat dari kenyamanan cara berpikir biasa terhadap fenomena sosial.

Saya sepakat dengan Radhar Panca Dharma, pada salah satu bagian pengantarnya—semua cerpen itu memberi kita satu pengertian penting: dunia sastra kita umumnya, prosa khususnya, masih belum mampu menyelamatkan diri dari luka-luka historis, sosial dan politisnya.

Bila dahulu mereka mendapatkan represi luar biasa dari kuasa politik dan militer, saat ini mereka tertekan luar bisa dari kekuatan yang sifatnya lebih horisontal, dari kebudayaan massal dan tuntutan material-komersial. Keduanya berefek sama: manusia tidak lagi diperhitung sebagai faktor signifikan dalam menentukan hidup dan kebudayaan. Manusia hanya unit, konstanta atau digit yang berposisi dan berguna dalam sirkulasi kekuasaan politik dan kebutuhan pasar industri.

Namun, bagaimana pun, di tengah kejenuhan kritik terbuka terhadap kuasa politik dan pasar, karya sastra tetap mendapat tempat tersendiri dalam pencerahan umat manusia terhadap kegelapan realitas membelengu. Karya sastra hadir bagai oase di gurun pergulatan kuasa politik dan pasar. Pun “20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas” ini menjadi oase kecil antara oase-oase yang lain.

Judul Buku : 20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas--Dari Salawat Dedaunan sampai Kunang-kunang di Langit Jakarta; Editor : Putu Fajar Arcana; Perancang Sampul : Zeventina Oktaviani; Penerbit : PT. Kompas Media Nusantara; Tahun Terbit : Juni, 2012; Ukuran : xxvi+214 hlm.; 14 cm x 21 cm.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon