Minggu, 20 September 2015

Terorisme vs Humanisme

Ilustrasi

Pemuda adalah tulang punggung bangsa. Pemuda adalah generasi penerus tongkat estafet pembangunan. Gagal merencanakan masa depan pemuda sama dengan gagal mempersiapka masa depan bangsa.

Oleh sebab itu, segala upaya perlu dilakukan secara serius dalam rangka mempersiapkan generasi muda. Dengan mempersiapkan generasi muda yang unggul, generasi muda yang berdaya saing, maka sudah dapat dipastikan masa depan bangsa yang gemilang akan kita songsong.

Tantangan yang dihadapi pemuda saat ini semakin kompleks. Persoalannya tidak hanya berbicara tentang pengusaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan.

Tantangan terberat pemuda adalah menjadi pemuda yang berintritas di mana nilai-nilai kebangsaan selalu terpatri di dalam sanubari. Pemuda harus memiliki daya tahan dan daya tangkis terhadap berbagai paham yang merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara.

Salah satu persoalan serius yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini adalah penyebaran paham radikal terorisme serta munculnya pengaruh kelompok ISIS. Tidak sebatas pengaruh penyebaran paham, namun sudah lebih jauh yakni tindakan terorisme dan masuk sebagai anggota ISIS.

Dampak dari itu semua tidak hanya menimbulkan ketakutan dan kengerian di kalangan masyarakat tak bersalah, numun menjadi ancaman bagi keutuhan bangsa dan negara.

Di Pulau Bali misalnya. Kita memiliki pengalaman buruk akibat tindak terorisme yang terjadi pada tahun 2002 dan 2005. Tragedi kemanusiaan tersebut telah merenggut nyawa ratusan orang yang tak berdosa.

Peristiwa tersebut tak hanya meluluh-lantahkan bangunan di sekitar lokasi, namun juga telah meluluh-lantahkan perekonomian masyarakat kita yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata.



Butuh waktu yang cukup lama untuk membangun kembali. Butuh dana yang sangat besar untuk memperbaiki kembali perekonomian. Namun, sepanjang waktu kita tidak akan pernah melupakan tragedi kemanusiaan tersebut.

Ancaman dan kehawatiran akan terjadi peristiwa yang sama terus membanyang-bayangi setiap degup jantung kita dari waktu ke waktu.

Kita tak akan pernah bisa mempersiapkan generasi muda yang tangguh di tengah ancaman dan kekhawatiran terorisme yang terus mendera.

Namun demikian, kita tidak mungkin menyatakan mundur. Kita tidak boleh kalah. Kita tidak boleh menyerah. Mau tidak mau, suka tidak suka, seluruh komponen bangsa, baik itu pemerintah, masyarakat dan pemuda harus bersatu melawan terorisme.

Basmi Sarang Teroris?

Andai memburu teroris itu seperti memburu binatang liar di tengah hutan belantara, maka kita tak perlu repot-repot menghabiskan biaya dan tenaga. Cukup lepas beberapa anjing pemburu, maka dalam hitungan jam buruan akan segera tertangkap.

Andaikan memburu teroris itu seperti memburu hantu, maka cukup dengan membayar beberapa paranormal profesional, maka hitungan menit ia akan segera masuk kurungan.

Kenyataannya tidak seperti itu. Lebih-lebih berbicara paham radikal terorisme. Ia tidak akan kita dapatkan di dalam hutan. ia tidak bersembunyi di dalam kegelapan. Melainkan ia bersarang di dalam isi kepala setiap orang yang telah terjangkiti oleh paham tersebut.

Dan sarang tersebut tidak akan pernah bisa dijangkau oleh Densus 88, tidak bisa dicapai oleh anjing pemburu dan tak akan pernah bisa diterawang oleh paranormal.

Selanjutnya, mari kita gali lebih dalam lagi sarang terorisme. Setiap manusia selalu melakukan atau tidak melakukan sesuatu berasal dari sensor akal pikiranya atas segala kosekuensi logis yang akan ditimbulkan, bila sesuatu dilakukan atau tidak dilakukan.



Konsekuensi yang ditimbulkan bisa berisi harapan-harapan atau cita-cita yang mungkin tidak dirasakan secara langsung. Dengan kata lain berisi harapan-harapan di masa yang akan datang.

Begitu pula tatkala paham terorisme bersarang di dalam benak penganutnya. Pemahaman tersebut akan menjadi sensor perintah yang akan mengarahkan untuk melakukan tindak teroris. Atau setidak-tidaknya ada tujuan yang ingin ia capai dari setiap tindakan teror yang dilakukan.

Dengan demikian, seribu teroris sekalipun yang ditangkap dan dihukum mati setiap hari, tidak akan pernah betul-betul bisa membasmi terorisme.

Banyak tesis yang menyatakan, penyebaran paham terorisme di tanah air berbanding lurus dengan melemahnya paham kebangsaan. Artinya, ketika seharusnya alam pikiran diisi oleh sebuah cita-cita luhur untuk memajukan bangsa dan negara tidak terjadi.

Dalam kekosongan cita-cita kebangsaan itulah sebuah paham lain masuk dalam pikiran. Dan ia menawarkan sebuah cita-cita baru yang menyimpang dari cita-cita awal.

Secara teoritis, sebuah jalan yang dirintis sebagai upaya menangkal paham terorisme adalah melalui penguatan paham-paham yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Berbagai seminar, diskusi dan pelatihan terkait penguatan paham kebangsaan sudah sering dilakukan.

Setiap upacara bendera, setiap pidato pejabat negara, setiap pertemuan-pertemuan formil sering mengulas paham kebangsaan.

Meski upaya tersebut di atas telah banyak dilakukan, tetapi kenyataannya belum mampu sepenuhnya dalam menagkal paham terorisme. Mungkin ada yang salah?

Kesejahteraan dan Keadilan Sosial?

Paham apapun yang berlawanan dengan paham kebangsaan akan mudah tumbuh subur di tengah masyarakat yang jauh dari sejahtera, lebih-lebih tidak merasakan keadilan sosial. Ini artinya, sehebat apapun teori kebangsaan, seagitatif apapun khotbah soal keadilan, hanya akan menjadi angin lalu.



Bila implementasi sejahtera dan adil itu hanya sebatas wacana, maka pada saat yang bersamaan paham-paham yang lain akan menjadi idola baru.

Dalam kondisi frustasi sosial, orang akan mudah diarahkan pada sebuah tawaran yang bertentangan dengan hal-hal yang dianggap mengecewakannya. Ketika sebuah sistem yang semula menjanjikan kesejahtraan dan keadilan dianggap gagal, maka sebuah sistem atau paham baru apa saja akan mudah diterima.

Perkara paham baru tersebut benar-benar mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, itu tak jadi soal. Yang terpenting dendam pada yang lama terlampiaskan. Maka, teroris sesungguhnya adalah mereka yang kalut kemudian bertindak kalap.

Aksi terorisme yang kerap menempuh jalur kekerasan sesungguhnya perlu dibaca sebagai puncak dari akumulasi frustasi sosial di tengah himpitan ekonomi yang semakin mencekik. Tindakan tersebut juga sebagai bentuk eksistensi untuk menunjukkan bahwa mereka ada.

Memperhatikan kondisi di atas, maka upaya menangkal paham terorisme tidak cukup dengan ceramah dan teori kebangsaan. Yang terpenting dan utama adalah wujud tanggung jawab negara dalam menyejahterkan rakyat dan menerapkan keadilan sosial seadil-adilnya.

Menebar Jala Kemanusiaan

Ketika umat manusia terbelah menjadi suku-suku, ketika manusia terbagi dalam agama-agama, ketika manusia terkurung dalam bangsa-bangsa, ketika manusia terkotak-kotak dalam kelompok tertentu, maka nilai-nilai kemanusiaan akan menembus batas-batas itu.



Nilai-nilai kemanusiaan atau humanisme selalu mengedepankan peri kemanusiaan, perdamaian, dan persaudaraan sesama manusia. Adalah sebuah realita, pengusaan suberdaya dan penindasan seringkali berlatar identitas sosial tertentu.

Maka tanpa dilandasi dengan nilai-nilai kemanusiaan segala tolak ukur keadilan tidak akan pernah sama. Adil bagi kelompok yang ini, belum tentu adil bagi kelompok yang itu.

Kasih sayang dan kecintaan kita sesama umat manusia setidak-tidaknya akan mengurangi kerak-kerak kepentingan kelompok yang menempel pada anak timbangan rasa keadilan kita.

Nilai-nilai kemanusiaan akan menerangi pandangan kita yang selama ini diliputi kabut kebencian pada mereka yang kita pandang berbeda.

Maka, tebar terus jala kemanusiaan agar penyebar paham radikal terorisme tidak terperangkap dalam kejahatan kemanusiaan. Semoga!

Ilustrasi : fokusutama.com

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon