Sabtu, 25 April 2015

Bahasa Ibu

Ilustrasi perempuan Bima mengenakan rimpu
Suatu ketika saya iseng ingin menulis sebuah puisi/pantun dalam Bahasa Bima atau Nggahi Mbojo. Sebelum mulai menulis, saya bayangngkan pasti mudah. Toh, bahasa itu sudah sangat melekat sepanjang hidup saya.

Bukankah bahasa itu adalah bahasa yang pertama kali saya dengar semenjak terlahir ke dunia ini? Bahasa itulah yang digunakan oleh orang-orang di lingkungan sekitar, ketika saya mulai memahami makna kata per kata.

Jadi, menulis puisi pantun Bima saya anggap enteng.

Mulailah saya menulis dengan semangat menggebu-gebu. Tuts komputer kini sudah di depan mata. Segelas kopi panas perlahan-lahan mulai menyusut tinggal separoh. Dan layar kumputer kini tetap tampak putih bersih. Tak sepatah kata pun mengisi lembaran putih. Tapi syukur, setelah segelas kopi habis, dua baris puisi pantun berhasil saya tulis. Itu pun setelah melewati perjuangan yang tergopoh-gopoh.

Usaha saya membuat satu puisi pantun Bima yang terdiri dari beberapa bait, akhirnya selesai dalam watu sepekan. Bergelas-gelas kopi panas telah mengaliri rongga lambung. Berkeping-keping kata melompat-lompat dalam imajinasi proses perakitan kalimat. Isi kepala terasa berdenyut-denyut. Mungkin otak berputar lebih kencang dari biasanya. Ternyata, merangaki puisi pantun Bima tak semudah yang saya bayangkan. Tapi saya tak lantaran kapok. Justeru dari proses tersebut, saya mendapatkan segudang pelajaran yang tak ternilai harganya.

Jelajah Masa Silam

Dari proses pergumulan di atas mengajarkan saya, bahwa setiap kata tak hanya menerangkan maksud atau terjemahan bahasa lain. Sesungguhnya setiap kata, dalam hal ini kata dalam Nggahi Mbojo menyimpan makna yang sangat luas. Ia tak sebatas translasi atas bunyi yang diucapkan oleh lidah terhadap apa yang dimaksud.



Menuliskan kata Nggahi Mbojo, khususnya dalam proses penyusunan puisi pantun menghendaki setiap penulisnya untuk memahami secara utuh setiap kata yang dituliskan. Pertama-tama, memahami makna gramatikal kata tersebut.

Kedua, penulis harus menyelami akar kultur kata tersebut. Semisal penulis menggunakan kata panggita. Dewasa ini, barangkali generasi muda bima banyak yang tidak memahami arti kata tersebut. Apalagi untuk memahami makna kulturalnya, pasti lebih banyak lagi yang tak paham. Panggita Nggahi Mbojo sepadan dengan mantra, jampi atau ahli pertukangan dalam bahasa indonesia.

Nah, yang paling sulit adalah memahami akar kultur kata panggita. Saya pun menduga-duga, kata ini adalah kata serapan dari bahasa lain. Selain panggita berarti mantra, dalam bahasa tutur Mbojo dan beberapa referensi saya pernah menemukan panggita juga berarti seorang arsitek. Nah, inilah kerumitan-kerumitan yang kerap saya dapatkan ketika menggunakan kata tertentu.

Dengan kerumitan-kerumitan tersebut, kita dituntut untuk menjelajahi kembali konteks kata tersebut. Oleh karena dewasa ini kata tersebut jarang digunakan, mau tak mau kita harus memutar pikiran pada waktu kita pernah menggunakan atau mendengarkannya. Penyusutan pengunaan kata panggita bukan lantaran disengaja. Akan tetapi konteks kultur masyarakat Bima dewasa ini telah menggeser kultur panggita. Ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut cara berpikir logis. Dengan demikian panggita sebagai mantra sakti otomatis menyingkir dengan sendirinya.

Kekuatan Kata

Pada suatu hari, ketika saya menganjak dewasa, kakek datang menghampiri. “Baca dan pelajari mantra-mantara ini dengan baik. Segala kekuatan datang dari Sang Pencipta, mantra-mantra ini hanyalah cara kita berdo’a kepadaNya. Pelafalan yang tepat disertai keyakinan yang tinggi akan membuat mantra ini menjadi sakti,” kata kakek beri nasehat.



Perasaan saya terharu, bingung bercampur bangga. Mantra apakah gerangan yang diberikan oleh sang kakek? Kekuatan apakah yang akan saya miliki ketika menguasai mantra-mantara itu? Tangan saya gemetar ketika membuka buku catatan mantra dari sang kakek. Di dalamnya sudah ada berbagai mantra dengan kegunaannya. Ada mantra agar dikasihani orang lain; ada mantra untuk memudahkan rejeki; ada mantra untuk memperlancar usaha; ada pula mantra kebal dan mantra melumpuhkan musuh.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya, mantra-mantra itu ditulis dalam bahasa Bima. Pada bagian awal dibuka dengan Basmallah (Bismillah Hirrahmah Nirrahiim) dan bagian akhir ditutup dengan kalimat Syahadat. Untaian kata-kata dalam bahasa Bima terasa indah dilafalkan. Kata-kata tersebut menyerupai pantun dengan pilihan kata-kata yang begitu kuat.

Hari-hari saya berikutnya diisi dengan pelajaran dan penelusuran. Tidak lagi pada kegunaan mantaranya, tapi pada unsur-unsur kata yang membentuk mantra yang indah itu. Pelajaran pada unsur-unsur sastra yang terkandung di dalamnya.

Misalnya: So’o lao di sia // Tantobu lao di kalubu. Ini adalah salah satu inti mantra untuk melumpuhkan serangan lawan. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, berarti: Mencair/meleleh/hancur bagaikan garam // Terhempas bagaikan debu. Kekuatan mantra ini bukan hanya oleh karena pengertiannya yang sangat mengerikan. Tetapi juga oleh kekuatan pemilihan kata yang tepat untuk membentuk rima kata yang tepat.

Kata So’o yang menunjukan sifat, bersanding dengan kata Sia menjukan kata benda. So’o adalah sifat yang melekat pada Sia. Kata Tantobu menunjukan kata sifat bersanding tepat dengan kata Kalubu yang menunjukan kata benda. Kekuatan mantara ini juga ditopang oleh penyandingan dua kalimat yang sangat dahsyat. Sulit bagi kita membayangkan, apa jadinya jasad seseorang yang mencair/meleleh bagaikan garam dan terhembas bagaikan debu.

Saya telah membuktikan kesaktian mantra ini dengan dua jurus andalan yang saya pelajari dari kakek. Jurus pertama: jika ada jalan menghindari pertikaian, maka carilah jalan itu. Jurus kedua, jika sudah tak ada lagi jalan untuk menghindar (terpaksa) dan dipaksa-paksa, maka gempurlah musuhmu dengan segala daya disertai mantra di atas.

Hasilnya?! Seeokor babi jantan tumbang dengan sekali tebasan pedang di tangan saya. Sebab saya sudah berusaha lari. Saya sudah menghindari surudukannya yang dapat merenggut nyawa. Babi masih mengejar dan saya terpojok di tebing. Maka, terjadilah apa yang terjadi. Hahaha...

Ilustrasi : bimaneses.blogspot.com

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon