Sabtu, 20 September 2014

Pesta Yang Dinanti

Suasana diskusi di halaman KNPI Bali.
Hingar-bingar suasana “pesta” demokrasi 2014 akan segera tiba. Pesta ini sejatinya adalah pesta rakyat. Namun demikian, layaknya sebuah pesta, tentu mereka yang merayakan wajib menggunakan dresscode (seragam) tertentu yang bebas untuk dipilih.

Warna seragamnya macam-macam—ada merah, kuning, biru, hijau, orange, hitam, loreng atau dengan logo-logo tertentu sebagai isyarat gagasan yang ditawarkan. Yah, seragam pesta itu bernama partai politik.

Pesta ini bukan pesta biasa, melainkan pesta besar. Sebab tak pernah ada pesta apapun di negeri ini yang menghabiskan dana sebesar pesta ini. Sebagai gambaran, pesta demokrasi tahun 2009 menghabiskan anggaran Rp 6,67 triliun. Sedangkan pesta mendatang diusulkan oleh Komisi Pemilihan umum (KPU) sebesar Rp16,2 triliun. Waooow! Fantastis bukan!

Pesta ini tidak main-main. Sebab itu perlu dibuat aturan main. Oleh karena itulah para pemain di gelanggang senayan yang dulu kita pilih sebagai pemain di Liga Utama (baca DPR RI) bersama ia yang duduk di tribun VIP (baca: Presiden) telah sama-sama sepakat membuat aturan main.

Aturan tertuang dalam UU Nomor 8 tahun 2012 tentang pemilihan umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Tentu saja, banyak calon peserta pesta demokrasi yang merasa keberatan dengan beberapa poin aturan main. Ada yang menuding aturan main yang dibuat hanya menguntungkan para pemain lama yang berniat bermain terus, tanpa pergantian pemain.

Aturan dibuat dianggap aneh. Semisal , para pemain lama tak perlu seleksi ulang (Verifikasi); untuk masuk liga utama maupun liga daerah harus mencapai nilai 3,5 %; dan lain-lain.



Bagi pihak-pihak yang merasa keberatan masih punya kesempatan mengajukan protes aturan main melalui Mahkamah Konstitusi (MK). Kesempatan ini tak disia-siakan. Gabungan partai politik sebanyak 17 partai berbondong-bodong datang ke MK untuk menguji beberapa poin aturan main.

Alhasil, sebagian yang diminta dikabulkan dan sebagian ditolak. Permintaan utama yang ditolak, yakni menurunkan angka 3,5 persen nilai ujian nasional (baca: parliamentary threshold (PT) atau ambang batas parlemen) untuk masuk ke gedung senayan.

Sudah tak ada lagi upaya untuk mengutak-atik aturan main, sampai pada permainan berikutnya. Sekarang tinggal bongkar-pasang strategi agar menjadi yang terdepan. Dan bagaimana nasib tim Anda ke depan? KNPI Bali menyediakan ruang berbagi strategi maupun berbagi uneg-uneg akan seperti apa pesta kita ke depan.

Untuk melengkapi nuansa bicara kita, KNPI Bali mengundang para pakar, praktisi, akdemisi, politisi, tokoh masyarakat, para pemuda, mahasiswa, LSM dan seluruh pemangku kebijakan terkait untuk hadir bersama kita. Bila tak ada aral melintang, maka acara ini akan disiarkan langsung oleh Televisi lokal.

Selain itu, dalam acara kali ini juga dihadiri oleh saudara-saudara kita dari wilayah Indonesia Timur, yakni Tim KNPI Kabupaten Bima dan KNPI Kota Bima bersama tim keseniannya yang juga akan menghibur kita semua dalam acara yang berbahagia ini.

Kehadiran Anda tidak sekedar sebagai peserta pesta nan glamor, tetapi seuntai pikira Anda dinanti demi pesta demokrasi yang lebih baik. Semoga!

Sebuah Catatan Pengantar Diskusi DPD KNPI Bali, Kamis, 20 September 2014 di Gedung Pemuda KNPI Bali (Jln. Trengguli I, Tembau, Denpasar)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon