Rabu, 27 Agustus 2014

Rumah Es Krim Denpasar

Es Krim Coklat Vanila yang selalu menggoda selera.
Rumah Es Krim yang terletak di Jalan Beliton No. 7 Denpasar sebelumnya dikenal dengan nama Puri Garden, sebuah tongkrongan menyuguhkan beranekaragam menu es krim.

Puri Garden yang dikelola oleh Jenny Tan sejak era 70-an tidak lagi eksis dan tutup pada tahun 1997. Monica, tak lain keponakan dari Jenny Tan mencoba bangkitkan kembali bisnis kuliner rumahanini sejak awal bulan Agustus 2010 lalu.

Sebuah tempat boleh jadi mengingatkan kita pada kenangan tertentu. Remaja Denpasar tempo dulu (70an – 90an) tentu tak asing mendengar nama Puri Garden. Monica membacanya sebagai peluang untuk membangkitkan kembali sisa-sisa kejayaan Puri Garden dengan nama Rumah Es Krim. Awalnya Monica hanya berspekulasi, karena Puri Garden mungkin telah hilang dalam ingatan masyarakat Denpasar seiring dengan berjalanya waktu.

Tak disangka, para penikmat es krim tempo dulu hadir kembali, sekedar untuk menikmati kelezatan black forest atau banana split. Tapi, yang terpenting bagi mereka adalah merangkai kembali kenangan masa remaja dulu. “Wah, di sini dulu tempat tongkrongan zaman saya pacaran,” ungkap seorang pria paroh baya yang enggan disebut namanya.

Rumah Es Krim kini tidak hanya menjadi tongkrongan remaja tempo dulu, kaum remaja masa kini pun seakan tak mau ketinggalan. Setiap hari selalu dipadati oleh pelajar dan mahasiswa. Keberadaan Rumah Es Krim menjadi berita santer menyebar begitu cepat.



“Saya juga tidak tahu, dari mana mereka mendapatkan informasi. Tiba-tiba saja mereka berbondong-bondong ke sini. Ada yang bilang tahu dari facebook, twitter. Padahal saya nggak ngerti apa itu? Ternyata anak saya yang lagi kuliah di Jogja syang masukin,” tutur Monica dengan rona wajah sumringah.

Penggemar Rumah Es Krim yang datang tak sekedar penikmat es krim biasa. Ada ikatan emosional yang tertinggal pada setiap jilatan lembut es krim ramuan khas Rumah Es Krim. Dengan suka rela mereka menyebarkan aroma Rumah Es Krim.

“Saya sendiri banyak ditolong oleh anak-anak yang mampir ke sini; dimasukin di facebook-lah, twitter-lah, majalah dinding sekolah, majalah kampus, BMM (Black Berry Messenger), dan media massa,” ungkap Monica menambahkan.

Penikmat ramuan Rumah Es Krim paham betul akan sebuah cita rasa. Bisa jadi, es krim tidak sekedar sebuah menu makanan. Lebih dari itu, es krim menjadi bagian dari gaya hidup tersendiri. Traktiran secangkir es krim untuk sang kekasih, setera dengan pemberian sepotong coklat. Ada kesan yang tertinggal dalam setiap jilatan. Rumah Es Krim pun memahami kebutuhan tersebut. Makanya, setiap menu yang ditawarkan selalu ekslusif.

“Saya mengharapkan di sini itu orang makan sehat. Kami tidak menggunakan bahan sintetis, gitu, lho. Tidak menggunakan perasa buatan. Semua bahan fresh. Untuk rasa stroberi misalnya, yah kita pakai fresh stroberi, juga tidak pakai pemanis buatan. Kalau coklat yah kita bikin pure coklat,” kata Monica menutup pembicaraan.

(Tulisan dimuat di Majalah Bisnis M&I)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon