Jumat, 01 Agustus 2014

Diplomasi Kebudayaan

Ada banyak cara yang dilakukan oleh kepala negara untuk meningkatkan hubungan diplomasi dengan negara lain. Salah satu cara yang digunakan adalah melalui pendekatan kebudayaan.

Pada suatu hari Presiden Indonesia melakukan lawatan ke Jepang. Di Jepang disambut langsung oleh Perdana Menteri Jepang.

“Kira-kira apa yang mesti saya tampilkan ketika berhadapan dengan Perdana Menteri Jepang, yah?” tanya Presiden Indonesia pada staf, sesaat sebelum turun dari pesawat kepresidenan.

“Bapak pakai blangkon saja. Pasti Perdana Menteri Jepang terkesan,” kata salah seorang staf mengusulkan.

“Baik. Kalau Perdana Mentri memujinya, apa yang harus saya katakan?” tanya presiden.

“Langsung copot saja balagnkonnya, Pak. Berikan kepada Perdana Mentri. Bapak katakan, dalam budaya kita, jika ada yang memuji apa yang kita miliki, berarti dia menyukainya. Yah, hitung-hitung blangkon bisa dicari lagi di Indonesia,” jawab staf.

Presiden Indonesia pun turun dari pesawat dengan mengenakan blangkon. Di rungan khusus bandara sudah ditunggu Perdana Menteri Jepang.

“Wah. Bagus sekali topi yang Anda pakai,” kata Perdana Menteri Jepang.

“Ini namanya blangkon, Tuan Perdana Menteri,” kata Presiden sembari mencopot balngkon. “Ini saya hadiahkan buat Anda,” ujar presiden.

“Oh, tidak. Saya hanya memujinya saja.”

“Tidak apa-apa. Begitulah budaya kami. Jika ada yang memuji, barang itu harus diberikan padanya,” kata presiden.

Perdana Menteri Jepang pun tak keberatan. Dengan senang hati ia menerima dan langsung memakai blangkon hadiah dari Presiden Indonesia.

Suasana pun penuh persahabatan. Begitu akrabnya, Perdana Menteri Jepang ingin satu mobil dengan Presiden Indonesia. Presiden juga tak keberatan.

Dalam perjalanan, Perdana Menteri Jepang tak lupa memperkenalkan istrinya yang duduk di belakang.

“Pak Presiden, perkenalkan ini sitri saya,” kata Perdana Menteri.

“Oh, luar biasa. Isteri Anda cantik sekali, Tuan,” kata Presiden memuji.

Tiba-tiba saja Perdana Menteri Jepang mencopot blangkon di kepalanya. “Balangkon ini saya kemblikan, tuan. Budaya kami berbeda dengan budaya Anda,” kata Perdana Menteri.

Ilustrasi [google]
Catatan: cerita ini fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama dan peristiwa hanya kebetulan semata.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon