Kamis, 19 Juni 2014

Singa Betina Mengalahkan Raja Singa : Sebuah Catatan Keberanian Bu Risma

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini
Pada tahun 2006 saya pernah membuat tulisan yang berjudul “Legalisasi Prostitusi”. Dalam tulisan tersebut saya memberikan argumentasi, legalisasi diperlukan untuk memudahkan kontrol terhadap berbagai penyakit menular kelamin, terutama HIV/AIDS.

Legalisasi diperlukan sebagai pengakuan keberadaan tempat-tempat prostitusi di Bali. Dengan begitu, petugas penyuluh kesehatan tidak perlu datang dengan ragu-ragu lagi di tempat-tempat tersebut, karena legal. Membaca berbagai artikel terkait penutupan kawasan prostitusi Dolly, membuat saya harus membuat tulisan ini.

Semula tak ada yang menyangka, kawasan prostitusi Dolly, Surabaya akan ditutup. Pusat prostitusi yang ditengarai sebagai kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara tersebut dihuni oleh sekitar 1080 PSK (Pekerja Seks Komersial).

Mereka yang meraup keuntungan dari kegiatan prostitusi di kawasan Dolly mati-matian mempertahan, agar kawasan prostitusi Dolly tidak ditutup. Menurut mereka selain PSK, ada ribuan nyawa yang menggantungkan hidup dari prostitusi Dolly.

Beberapa hari sebelum batas akhir penutupan kawasan Dolly, 18 Juni 2014, ratusan orang berjaga-jaga. Warga dan PSK menggelar aksi demonstrasi. Berbagai bentuk protes dilakukan. Termasuk aksi mengirim surat kepada presiden oleh PSK.

Pada hari penutupan pun, ratusan orang membentuk pagar manusia untuk menghalau petugas yang akan melakukan penutupan. Namun, semua usaha warga dan PSK sia-sia belaka. Kawasan prostitusi Dolly tetap ditutup pada hari yang ditentukan.

Apapun alasan bagi mereka yang menolak penutupan kawasan prostitusi Dolly, tak meluluhkan hati Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini atau yang biasa disapa Bu Risma.

Bu Risma berpendapat, penutupan kawasan Dolly adalah kebijakannya yang justru untuk membebaskan rakyat, terutama kaum perempuan dari penindasan.

Bu Risma telah menyiapkan dana kompensasi milyaran rupiah untuk PSK dan mucikari. Bu Risma juga berencana mengubah kawasan tersebut menjadi ruang publik yang lebih manusiawi.

Perputaran uang di kawasan Dolly memang sangat menggiurkan. Bagaimana tidak? Menurut hitungan APF, setiap malam uang yang beredar di Dolly mencapai Rp. 300 juta – Rp. 500 juta. Ini berati bisa mencapai Rp. 15 milyar per bulan.

Angka yang fantastis, bukan? Tetapi, bagi Bu Risma tidak! Bu Risma tidak tergiur dengan angka tersebut. Angka yang juga menjadi bagian dari pendapatan daerah melalui beberapa obyek yang ditarik retribusi.

Keputusan Bu Risma menutup kawasan prostitusi Dolly sebuah keputusan berani. Wali Kota perempuan pertama Surabaya ini telah menetapkan harga mati, agar kawasan Dolly tetap ditutup.
Meski kematian mengancam dirinya, Bu Risma tak takut.

Ini terbukti dari pernyataannya menjelang hari penutupan Dolly. Ia telah pamit kepda keluarga dengan mengatakan, “saya telah pamit kepada keluarga untuk menutup kawasan Dolly tanggal 18 besok, kalau saya mati, ikhlaskan”. Sebuah pernyataan berani dari seorang perempuan, bukan?

Meski Dolly menjadi salah satu mesin uang di Kota Surabaya, tetapi kawasan tersebut juga tidak bebas masalah. Masalah yang paling mendasar, terutama masalah sosial dan kesehatan. Di tengah buaian Dolly yang menggiurkan, beberapa warga ada pula yang merasa resah.

Setiap pagi dan sore kawasan tersebut dilewati oleh anak-anak mereka yang berangkat sekolah. Tak dapat dihindari, anak-anak harus menyaksikan pemandangan yang seharusnya tak terjadi: wanita-wanita dewasa yang berpakaian minim tengah menunggu lelaki.

Kelak, ketika anak-anak itu beranjak dewasa, tentu tak bisa melepaskan diri dari lingkungan yang telah membentuk mental mereka selama bertahun-tahun. Seorang warga mengungkapkan, Dolly telah meracuni teman-temanya. Dari 9 orang teman masa kecilnya, 6 orang telah menjadi mucikari.

Di tengah himpitan ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan, maka ketika di depan mata ada tawaran pekerjaan menggiurkan, mereka tak akan berpikir dua kali untuk mengelak. Toh, pekerjaan itu juga dilakukan oleh orang-orang yang menjadi panutan mereka.

Masalah kesehatan juga menjadi ancaman bagi warga. Pada bulan Maret 2010, Kompas.com merilis berita, sebanyak 76 persen dari 1.287 pekerja seks komersial yang bekerja di lokalisasi Dolly, Jalan Putat Jaya dan Jalan Jarak, Surabaya, mengidap infeksi penyakit seks menular.

Data ini diperoleh dari Puskesmas Putat Jaya yang secara rutin melakukan pengontrolan. Adapun jenis penyakit yang diderita para PSK, antara lain, HIV/AIDS, gonore, sipilis, herpes, kondiloma, kandida, dan trikomonas vaginalis.

Jenis penyakit kelamin menular tersebut bisa menjadi pembuka jalan masuknya virus HIV ke tubuh manusia dan risiko tertularnya sangat tinggi melalui proses hubungan seks.

Menurut catatan Puskesmas Patut Jaya, sepanjang 2010 ini, 16 pengidap HIV baru terdeteksi di Dolly dan Jarak. Dalam lima tahun terakhir, angka pengidap HIV/AIDS di Dolly dan Jarak mengalami fluktuasi.

Pada tahun 2006 tercatat ada 65 pengidap, pada 2007 ada 95 pengidap, pada 2008 ada 72 pengidap, dan 2009 ada 46 pengidap.

Penyakit kelamin yang menjadi langganan pengguna jasa PSK adalah penyakit sipilis atau yang juga disebut penyakit “Raja Singa”.

Puluhan tahun berbagai penyakit tersebut berkuasa, menjalar setiap saat di kawasan Dolly. Kini semuanya berakhir di tangan “Singa Betina”, Bu Risma, perempuan pemberani yang akan dicatat dalam lembaran sejarah.

Foto: Tempo.co

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon