Kamis, 20 Februari 2014

Untuk Ibu dan Pertiwi

“Bayangkan kawan-kawan. Sudah hampir tiga jam kita menunggu di sini. Tak satu pun anggota dewan menyambut kedatangan rakyatnya. Sudah butakah mereka? Sudah tulikah mereka ? Ataukah terlena dengan segala fasilitas yang telah mereka dapatkan? Jelas-jelas di luar gedung ini, rakyat menderita. Bubarkan saja parlemen karena tak ada gunanya.”

Orasi yang disampaikan oleh “si raja mimbar” Dewo, di depan membakar semangat demonstran.

Teriakan demi terikan bergemuruh. Amarah tak terbendung lagi. Beberapa polisi muda dengan seragam lengkap plus tameng dan pentungan terlihat berjaga-jaga di depan gedung. Mereka tak terima, gedung semegah itu harus diinjak oleh mahasiswa dekil dan berpakaian yang katanya tak etis.

“Bubarkan !!!”

“Seret saja mereka biar keluar dari gedung ini. Mereka hanyalah sampah tak berguna !!!”, teriak beberapa mahasiswa. Keringat dan amarah bercampur. Kata-kata umpatan pun keluar.

Sebagai korlap, aku dituntut agar mampu menguasai keadaan. Semuanya masih aman terkendali. Asal masih lempar kata, berarti masih dalam batas kewajaran. Tetapi kalau benda-benda lain sudah melayang, itu sudah pertanda bahaya.

Tadi salah satu pegawai mendatangiku. Ia minta mengisi buku tamu. Aku tolak. Tak pantas wakil rakyat meminta rakyat untuk melapor kalau hanya untuk menyampaikan aspirasi. Kami tak pernah merasa jadi tamu. Sebab kami adalah bagian dari pemilik gedung ini.

“Bim, kawan-kawan sudah tak sabar menunggu lebih lama lagi. Ini sudah benar-benar keterlaluan” Hery Gondrong membisikan kata-kata itu di telingaku.

“Baiklah, kita beri waktu sepuluh menit. Kalau mereka tak keluar juga, kita akan masuk secara paksa.” Aku berusaha memberi batas toleransi. Sekalian manarik waktu untuk mengkondisikan barisan.

Lagu-lagu sindiran dinyayikan. Batas waktu toleransi selama sepuluh menit yang diberikan telah lewat.

“Lihatlah kawan-kawan! Betapa angkuhnya wakil kita. Saya minta agar kawan-kawan berdiri. Kita akan masuk dan memakasa mereka untuk berdialog.” Aku berikan aba-aba kepada ratusan demonstran.

“Bersiap-siaplah! Bagi setiap yang menginginkan perubahan, maju tiga langkah.” Kembali aku berteriak dengan suara lantang di depan.

Aksi dorong-dorongan dengan petugas tak terelakkan lagi. Begitulah ketika dua generasi harus berhadapan dalam tugas berbeda. Usia pun tak begitu jauh terpaut. Polisi muda menjalankan tugas pengamanan dan ketertiban, sedangkan mahasiswa menjalankan tugas sebagai penyambung lidah rakyat. Barisan depan sudah tak terhindarkan dari hantaman pentung dan tendangan sepatu petugas.

***

Selanjutnya aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Saat mata mulai kubuka, okh... di manakah aku sekarang? Kenapa ruangan yang aku tempati didominasi oleh satu warna. Mulai dari dinding, langit-langit, meja, kursi dan semuanya berwarna putih.

Saat kugeser tubuhku semua terasa berat seakan tertimpa oleh sebuah benda yang amat berat. Apa yang terjadi denganku, Tuhan. Aku berusaha bangkit dengan sekuat tenaga. Lagi-lagi aku tak mampu.

“Jangan dulu terlalu banyak bergerak, dik. Kondisi tubuh adik masih labil.” Tiba-tiba seorang perawat menegurku.

“Apa yang terjadi dengan saya, Mbak? Bagaimana saya bisa sampai di sini? Ce...ce...rita-kanlah, Mbak?” Tak sabar aku ingin segera tahu apa yang menimpa diriku.

Sejenak keadaan begitu sunyi. Tidak ada jawaban. Dan ini semakin membuat aku penasaran apa sebenarnya yang terjadi denganku. Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku. Dari balik pintu, sosok yang tak asing bagiku masuk. Dialah kawan paling dekat denganku. Dewo. Sejak masa perpeloncoan awal memasuki universitas kami sudah cukup akrab.

“Wo, katakan kenapa aku bisa sampai di sini?” Pertanyaan yang sama pada perawat yang membisu aku arahkan pada Dewo.

“Sudahlah, Bim. Sekarang kamu istirahat aja dulu. Kalau kondisimu udah mendingan, nanti akan kuceritakan semuanya.” Lagi-lagi, Dewo berusaha menyembunyikan sesuatu dariku.

“Ti…ti…tidak! Sekakarang aku sudah tidak apa-apa lagi. Ceritakan. Ceritakanlah, Wo. Aku sudah siap menerima kenyataan apapun yang terjadi.” Aku memaksa Dewo bicara.

“Baiklah Bimo. Aku harap kau bisa menerima kenyataan ini. Semua terjadi ketika kita melakukan aksi ke gedung dewan tiga hari lalu.” Sambil membetulkan tempat duduk ia bercerita, wajah Dewo terlihat pucat dan matanya mulai berkaca-kaca dibasahi air mata.

“Kau masih ingatkan? Saat aksi dorong-dorongan dengan petugas. Ketika massa kita mulai dibubarkan secara paksa oleh aparat. Saat tembakkan peluru karet menyasar kawan-kawan dan tembakkan gas air mata mulai membuat massa kocar-kacir...”

“Lantas apa hubungannya aku kemari?”

“Dalam keadaan huru-hara sebuah peluru tajam mengenai pahamu. Menurut dokter jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawamu adalah harus diamputasi. Sekali lagi aku harapkan agar kau bisa menerima kenyataan ini. Begitulah yang terjadi.”

Dewo tertunduk menahan air mata. Air mata seorang lelaki, air mata seorang pegiat, air mata seorang sahabat.

***

Ya Tuhan, kakiku, kakiku diamputasi? Aku menerawang ke langit-langit dengan tatapan kosong. Pikiranku melayang menyeberangi dua selat dan dua pulau ke kampung halaman. Aku bayangkan wajah bapak, wajah Ibu, wajah tiga saudaraku dan wajah-wajah yang menaruh harapan padaku. Bagaimana aku akan memenuhi harapan mereka?

Aku teringat saat pertama kali aku datang ke kota ini untuk melanjutkan pendidikan di sebuah universitas. Selain Bapak, Ibu dan tiga orang saudaraku, tetangga dan kawan-kawan sekampung turut mengantarkan keberangkatanku sampai di dermaga. Tradisi mengantar seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan di kampung ketika ada warga kampung yang akan merantau.

“Bimo, kau adalah satu-satunya anak bapak yang kuliah di keluarga kita. Belajar yang giat dan jangan lupa selalu mendekatkan diri pada Tuhan. Bapak sudah tua, tidak bisa bekerja di sawah terus-menerus. Bapak berharap kelak kau menjadi orang yang berhasil, orang yang akan mengharumkan nama keluarga kita.” Itulah pesan Bapak terakhir kali sebelum aku menaiki kapal. Yah, kapal yang akan mengantarkanku ke pulau seribu harapan. Harapanku, harapan bapak, harapan ibu, harapan saudara-saudaraku dan harapan orang-orang di kampung.

Lambaian tangan dan air mata melepas kepergianku. Perlahan-lahan kapal yang kutumpangi merenggang dari bibir dermaga. Dermaga tempat aku dulu sering bermain menghabiskan masa kecil bersama sahabat-sahabatku. Bila larut malam aku belum pulang ke rumah, Bapak pasti akan menjemputku di sini. Entah apa yang membuat aku betah berlama-lama di dermaga ini.

Kadang-kadang aku memandangi lautan, menyaksikan setiap kapal yang berangkat. Aku selalu berharap agar suatu hari nanti aku tidak hanya berdiri di bibir dermaga ini. Aku ingin pergi bersama perahu yang berlayar, pergi bersama angin ke suatu negeri yang jauh. Hari ini, keinginan itu telah terkabulkan.

“Sudah hampir tujuh tahun kamu kuliah, Bim. Kapan kau diwisuda, nak?” tanya Bapak, saat aku mudik tiga bulan yang lalu. Pertanyaan seperti ini tidak hanya sekali ini saja. Setahun yang lalu bahkan dua tahun yang lalu saat aku mudik pertanyaan yang sama juga pernah terlontar.

“Sebenarnya semua mata kuliah sudah selesai, pak. Sekarang tinggal menyelesaikan skripsi saja.” Jawabku singkat.

“Dari dulu juga kamu selalu bilang begitu. Tinggal skripsilah, tinggal inilah, tinggal itulah. Macam-macam saja kamu ini! Sebenarnya apa sih… yang kamu lakukan di sana. Sudah bebereapa kali abang melihat nama dan fotomu dipajang di harian Nasional Post. Ikut demolah, mengkritsi pemerintahlah. Bimo...Bimo.....ingat kita ini orang kecil. Kita bisa makan dan minum saja sudah cukup. Sekarang coba lihat, kulihmu jadi berantakan. Kalau begini terus, lalu kapan kau bisa memenuhi harapan kami ?” Bang Indra, kakak sulungku yang bekerja sebagai staf di kelurahan itu nampaknya tidak bisa lagi menahan uneg-unegnya.

“Suatu hari nanti itu pasti pak, itu pasti bang. Bimo akan memenuhi harapan keluaraga. Bimo akan menjadi kebanggaan keluarga. Sekarang tidak hanya harapan keluarga yang harus Bimo penuhi. Tapi, juga harapan bangsa ini, bangsa yang kian terpuruk. Siapa lagi yang akan memperhatikan nasib bangsa kalau bukan kita sendiri. Bila Bimo dan kawan-kawan harus turun ke jalan, itu adalah jalan yang terpaksa kami lakuka untuk menyampaikan jeritan rakyat.” Aku mencoba memberikan pengertian kepada mereka sesederhana mungkin.

Pesan Bapak, desakan Bang Indra kembali muncul dalam benakku. Aku kini terbaring di atas ranjang ruangan ICU tanpa daya. Aku kini sedang bertarung melawan maut. Semakin lama kurasakan tubuhku semakin ringan. Hari ini harapan-harapan itu telah aku penuhi. Bukan hanya harapan keluarga, bukan hanya harapan orang-orang di kampung, tetapi juga harapan bangsa ini. Kembali kutatap wajah Dewo yang duduk di samping pembaringanku.

“De...De...Dewo, maukah kau… me-nyam-paikan pesanku pa - da keluargaku?”

“Yah, tentu saja. Kenapa kau berkata begitu kawan ?”

“To...to...tolong, katakan pada mereka ha…ha…ri ini, aku telah memenuhi harapan me…me…me-re-ka!”

Itulah kata-kata terakhir yang sempat aku ucapkan ketika jiwa masih menyatu dengan ragaku. Selanjutnya kurasakan diriku terbang meningggalkan Dewo dalam kamar perawatan. Dewo menangis sejadi-jadinya, memeluk tubuhku yang kini beku. Menghentak-hentak memanggil namaku.

Pulau Dewata, 2005

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon