Minggu, 01 Desember 2013

Tanam Kembali

Angin berhembus kencang sore itu. Langit tampak gelap. Sesekali kilat bermunculan membelah awan. Sejurus kemudian, suara gemuruh petir menyambar ruang angkasa. Hujan sebentar lagi akan turun. Ompu Hima dan Wa’i Sei tampak santai di serambi gubuknya. Gejolak alam seperti ini sudah biasa dilalui oleh mereka. Musim berganti musim telah dilewati bersama di gubuk tua itu. Ompu Hima telah mengenal betul bermacam isyarat alam.

Ompu Hima menggeser posisi duduk ke pinggir. Lelaki tua itu menatap ke depan, menyaksikan hamparan padi ditanamnya sebulan lalu. Melalui pandangan matanya, Ompu seakan sedang berdialog dengan mereka. Baginya, tanaman padi tak sekedar sebagai penghasil beras untuk dimakan dan dijual. Akan tetapi, ada ikatan batin melekat.

“Apa yang sedang Ompu pikirkan?” tanya Wa’i Sei menyentak lamunan Ompu Hima. Dalam waktu bersamaan Wa’i menyodorkan segelas kopi panas dan dua potong singkong rebus kegemaran Ompu.

“Oh, tak ada apa-apa, Wa’i,” jawab Ompu. Ia menyembunyikan pikirannya. Tak lama berselang ia mengambil sehelai daun lontar, dilintingnya bersama tembakau. Kepulan asap keluar masuk dari mulutnya beri isyarat, lelaki itu menyimpan beban pikiran teramat berat.

“Sudahlah, Ompu. Kita ini sudah tua. Tak perlu lagi kita memikirkan dunia. Manfaatkan sisa hidup kita ini dengan lebih banyak beribadah. Toh, anak-anak kita semuanya telah berkeluarga. Berkat hasil yang kita tanam di sawah ini, kita juga telah menyekolahkan mereka,” kata Wa’i memancing Ompu bicara.

“Justeru itu yang sedang kupikirkan, Wa’i. Kita telah membesarkan anak-anak kita. Kita juga telah menyekolahkan mereka. Andai tak ada yang kita panen dari sawah ini, tak tahu apa jadinya mereka,” kata Ompu menyambut umpan pembicaraan Wa’i.

Kala Ompu dan Wa’i muda, raga mereka masih kuat. Dalam satu kali musim tanam, Ompu dan Wa’i dapat menggarap sampai dua hektar sawah. Satu hektar sawah diwarisi Ompu dari orang tuanya. Setengah kehtar tanah warisan Wa’i. Sedangkan setengah hektar diperoleh dengan membeli sedikit demi sedikit. Ompu dan Wa’i menyisihkan hasil penjualan untuk menambah tanah.

Dua orang tua itu memang sering terlibat pembicaraan panjang tentang kehidupan anak-anaknya. Ada kegelisahan membayangi kehidupan mereka. Seharusnya mereka habiskan sisa hidup bahagia. Anak-anaknya telah mjadi orang sukses dan terpandang. Ompu dan Wa’i seakan merasakan ada semacam hutang yang tak terlunasi. Meski mereka tak pernah berhutang pada siapapun. Perasaan itu muncul beberapa bulan belakangan.

Ir. Umar, putra sulung mereka, kini jadi seorang kepala Dinas Pertanian. Sebagai kepala dinas, golongan IV/e, ia mendapat penghasilan cukup, fasilitas rumah dan mobil dinas tak luput diperolehnya. Belum lagi komisi disetor oleh rekanan yang melaksanakan pelbagai proyek dinas yang dipimpinnya. Hidup Umar bergelimang harta.

Amir, SE., anak kedua Ompu dan Wa’i bekerja di bidang swasta. Berkat pendidikan tinggi ilmu ekonomi yang ditempuhnya, ia mendapatkan kepercayaan menjadi Direktur Pemasaran Reginal Bali-Nusra, sebuah perusahaan dibidang telekomunikasi. Gajinya lima kali lipat gaji PNS golongan IV. Mobil dinas, tunjangan perumahan, asuransi kesehatan, dan segala macam kebutuhan ditanggung perusahaan.

Dra. Erni, putri bungsu dan perempuan satu-satunya jadi kepala sekolah SMU Negeri terkemuka di Ibukota Kabupaten. Suaminya hakim di Pengadilan Negeri setempat. Di halaman parkir, ada tiga mobil– satu mobil dinas suaminya, satu mebil dinas Erni, dan satu lagi mobil pribadi yang kerap digunakan anak-anaknya. Kehidupan Erni pun amat jauh dari kekurangan.

***

Sebulan lalu, ketiga anak Ompu dan Wa’i, lengkap menantu dan cucu-cucunya datang ke tempat tinggal Ompu dan Wa’i. Kehadiran mereka memang jadi acara rutin tahunan, saat Idul Fitri tiba. Selain sungkeman, memohon maaf lahir-batin pada Ompu dan Wa’i, kebun tempat tingga Ompu dan Wa’i jadi tempat paling digemari untuk acara makan-makan.

Ompu Hima selalu sediakan seekor kambing jantan peliharaannya untuk dipotong. Begitu istimewa Ompu sambut anak-anak dan cucunya. Kacang panjang, daun singkong, bunga pepaya, nangka muda dan kelapa sebagai bahan urap tak perlu dicari jauh-jauh, semunya tersedia di kebun Ompu. Buah kelapa muda dan tuak manis pun selalu tersedia.

Keluarga dan kerabat juga diundang untuk makan bersama. Bagi keluarga dan kerabat, acara tahunan ini selalu dinanti. Di sela-sela acara ngumpul kelurga, diselingi obrolan-obrolan ringan—saling tanya kabar keluarga, kesehatan dan kerjaan. Tak jarang, bagi anak-anak mereka yang menganggur, anak-anak Ompu Hima selalu berikan informasi lowongan dari tempat kerja mereka. Biasanya masuk dengan mulus setelah dapat rekomendasi khusus.

Setiap acara kumpul keluarga seperti ini, juga tak ketinggalan acara bagi-bagi “hagala”, semacam uang sedekah dari anak-anak Ompu Hima untuk keluraga dan kerabat. Tradisi bagi hagala dilaksanakan oleh mereka yang dianggap apan. Pada kesempatan itu: bapak-bapak mendapat 50 ribu rupiah, ibu-ibu 100 ribu rupiah, anak-anak remaja 30 ribu rupiah, dan anak-anak kecil tak ketinggalan mendapat 10 ribu rupiah. Semua tersenyum dan memuja kedermawanan keluarga Ompu Hima dan Wa’i Sei.

“Dalam kesempatan yang berbahagia ini, ada sesuatu hendak saya sampaikan pada seluruh keluarga dan kerabat. Enam bulan lagi, saya akan pensiun sebagai PNS. Dalam pemilihan Kepala Daerah tahun depan, saya bermaksud mencalonkan diri sebagai bupati. Untuk itu saya mohon do’a dan dukungan dari keluarga,” kata Umar. Keluarga yang hadir spontan menyambut dengan tepuk tangan yang meriah.

Di tengah kemeriahan, sanjungan dan pujian untuk Umar, Ompu Hima malah terlihat ganjil. Di wajahnya tak tampak kebahagian mendengar kabar putra sulungnya akan maju sebagai calon bupati. Umar memang sempat mengutarakan niatnya pada Ompu dan Wa’i terlebih dahulu, sebelum mengumumkan pada keluarga dan kerabat.

***

Pembicaraan Umar sebulan lalu itulah, kini selalu menjadi topik pembahasan Ompu Hima dan Wa’i Sei. Entah karena alasan apa, untuk pertama kalinya, Ompu Hima berseberangan dengan keinginan putra sulungnya. Sementara Wa’i Sei bersikap pasarah.

Selama ini, bisa dibilang, mereka tak pernah menolak permintaan anak-anaknya. Termasuk keinginan menempuh pendidikan tinggi. Ompu dan Wa’i sanggup membiayai sekolah mereka. Meski Ompu dan Wa’i sebagai petani, mereka bekerja keras demi mewujudkan cita-cita anaknya.

Dedaunan dan ranting masih basah oleh sisa hujan. Hari semakin gelap. “Allahu Akbar, Allahu Akbar...,” suara adzan magrib berkumandang dari surau kampung.

“Nanti saja kita lanjutkan obrolannya, Wa’i. Aku mau ke surau, sholat magrib berjamaah,” kata Ompu Hima. Ia turun dari gubuknya, danwudhu di padasan yang terletak di halaman. Kemudian ia berlalu menyusuri pematang sawah menuju surau di perkampungan.

“Suluruh warga kita sangat senang mendengar Umar bakal maju calon bupati. Para pengurus masjid sekecamatan kita juga menyambut baik. Apa lagi akhir-akhir ini, Umar rajin keliling masjid untuk menyerahkan sumbangan,” ujar Abu Beko kepada Ompu Hima usai sholat berjamaah.

Ompu Hima bersikap dingin tanggapi umpan obrolan Abu Beko. “Iya, Syukur Alhamdulillah.” Hanya itu yang keluar dari mulut Ompu. Ia lebih banyak menununduk. Tidak banyak beri tangapan. Kalaupun harus menjawab, hanya dengan kalimat-kalimat pendek.

Para pemakmur surau tampak bingung melihat sikap Ompu Hima. Mereka melirik satu sama lain. “Kelihatannya Ompu Hima ndak senang, yah? Umar jadi calon bupati. Kenapa, yah?” Samar-samar terdengar suara bisik-bisik seperti itu. Ompu Hima cuek saja. Tidak pula ia jelaskan apa yang ada dalam pikirannya.

Usai sholat isya berjamaah, Ompu Hima langsung pulang meninggalkan pemakmur surau lain. Ia tak ingin ditanya lagi perihal sikapnya terhadap pencalonan diri Umar. Sementara Abu Beko dan jamaah lain masih tinggal di surau. Mereka saling menanyakan sikap Ompu Hima. Barangkali ada yang tahu. Asrul, tak lain, keponakan Ompu Hima, ditanya, tak juga tahu apa-apa mengenai sikap Ompu Hima.

***

Enam bulan kemudian. Siang hari yang terik. Iring-iringan mobil sepanjang satu kilometer melintasi jalan desa tempat tinggal Ompu Hima. Di bagian depan berjejer mobil mewah. Di tengah, terdapat mobil jenis bus. penumpangnya penuh sesak hingga di bagian atap. Di bagian belakang berjejer truk yang juga penuh penumpang. Bendera, poster, spanduk, umbul-umbul menghiasi setiap kendaraan. Mereka menuju lapangan kota kecamatan, mengikuti kampanye akbar salah satu calon pasangan bupati dan wakil bupati.

“Hudup MARI! Hidup MARI! Hidup MARI!” teriakan simpatisan pasangan Umar – Bakri dari atas kendaraan—begitu melewati kumpulan orang di tepi jalan raya. Umar, tak lain putra sulung Umpu Hima. Sedangkan Bakri, calon wakil bupati: putra daerah, pungusaha sukses di Jakarta.

Sesampai di lapangan kampanye, rombongan massa berkendaraan telah disambut pula lautan massa yang hadir lebih awal. “Hudup MARI! Hidup MARI! Hidup MARI!” teriakan massa makin ramai hingga bakar semangat tiap orang yang ada di situ. Semua optimis, pasangan MARI akan menang dalam satu kali putaran pemilihan. Para pengamat dan hasil survey pun meyakini, MARI bakal mendulang kemenagan di atas 50 porsen.

Sementara di gubuk tua, seorang lelaki renta sedang berjuang antara hidup dan mati. Ompu Hima mengalami koma setelah menderita demam tinggi dua hari belakangan. Kini ia terbaring kaku. Tak pula dapat diajak bicara. Hanya denyut jantung dan gerak nafasnya saja isyarat ia masih hidup. Tak pernah Ompu mengalami sakit seperti ini.

Gubuk Ompu Hima sepi. Hanya Wa’i sei setia berada di samping tubuh Ompu. Wanita tua itu tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa meneteskan air mata sembari mengusap kepala Ompu yang tak bergeming. Tak ada kelurga dan kerabat yang hadir. Amir dan Erni pun sedang mendampingi kampanye Umar.

Tak lama kemudian, Abu Beko datang. Ia datang setelah melaksanakan tugas rutin adzan dan pimpin sholat berjamaah di surau. Namun, untuk dzuhur dan ashar kali ini harus dilewatinya seorang diri, sabab pemakmur surau telah berbondong-bondong hadiri kampanye pasangan MARI.

“Sakit apa yang diderita Ompu, Wa’i? Apa sudah diobati?” tanya Abu Beko.

“Awalnya hanya demam biasa. Sudah aku buatkan ramu-ramuan yang bisa ia minum di kala sakit. Dan biasanya langsung sembuh. Paling dua hari sudah bisa kerja lagi di sawah. Sudah pula diantar Asrul ke Puskesmas. Tapi, kondisi Ompu malah makin parah. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa,” kata Wa’i.

“Maaf sebelumnya, Wa’i. Apakah ada kaitannya dengan pencalonan diri Umar?” tanya Abu Beko menyelidik.

Wa’i Sei diam saja. Tak menjawab umpan pertanya Abu Beko. Tak pula membantah.

“Sebab, selama ini kuperhatikan sikap Ompu, sepertinya tak begitu gembira mendengar pencalon diri Umar, ada apa sebetulnya, Wa’i?” tanya Abu Beko berusaha menggoyah pertahanan Wa’i Sei yang membisu.

“Baiklah Abu, karena Abu masih terbilang keluarga dekat. Akan kuceritakan mengapa Ompu tak setuju Umar ikut calon bupati. Sebetulnya, Ompu tak tahu apa-apa dengan soal calon atau apa itu. Tapi, yang buat Ompu tak setuju dan kecewa, Umar mau jual semua tanah untuk biaya ikut calon itu,” tutur Wa’i terbata-bata. Di wajahnya yang telah keriput dibasahi air mata.

“Lantas bagaimana? Apakah tanah-tanah ini jadi dijual?” tanya Abu Beko.

“Iya, Abu. Sekarang seluruh sawah-sawah ini bakal dijual Umar. Kami deberi waktu sampai masa panen ini saja. Setelah itu, kami diminta ikut tinggal di rumah Umar. Lahan ini akan dibagun perumahan oleh pembelinya. Itu yang buat Ompu tak setuju dan kecewa. Itulah yang membuat Ompu kepikiran. Setiap saat itu saja yang dibicarakannya. Akhirnya Ompu jatuh sakit,” kata Wa’i Sei.

“Uuu... uuu... uuu... mar...” tiba-tiba terdengar suara samar dari mulut Ompu Hima. Beberapa kali ia sempat mengucapkan kata itu. Seperti orang mengigau. Kemudian Ompu Hima tertidur lagi. Wa’i Sei dan Abu Beko terkejut. Wa’i berusaha mengajak Ompu bicara, namun usaha itu sia-sia, Ompu tak bergeming. Abu Beko memegang pergelangan tangan lalu mendekatkan telinganya di dada Ompu Hima—masih terasa detak jantung Ompu Hima.

“Begini, Wa’i. Sepertinya waktu Ompu tak lama lagi. Aku harus segera ke lapangan kecamatan untuk memberitahukan Umar dan keluarga yang ikut kampanye,” kata Abu Beko

“Baik, Abu. Terimaksih dan maaf telah merepotkan,” tutur Wa’i Sei.

Sejam kemudian. Disamping tempat tidur Ompu Hima telah dikelilingi oleh ketiga anaknya—Umar, Amir dan Erni. Umar duduk persis disamping kepala Ompu. Sedangkan di halaman, penuh dengan kelurga dan kerabat. Dokter yang datang bersama rombongan Umar pun sudah tak bisa berbuat banyak. Kondisi Ompu sudah tak mungkin dipulihkan lagi. Dokter hanya meminta keluarga memperbanyak do’a.

Seperti mukjijat. Perlahan-lahan Ompu Hima membuka kedua matanya. “Ba... ba.. ba..,” suara Ompu sembari berusaha mengangkat kepalanya.

“Sepertinya Ama mau bangun, kak,” kata Amir pada Umar. Keduanya pun memapah punggung dan kepala Ompu Hima. Perlahan-lahan didorong, hingga kepala dan punggung Ompu tegak. Ompu Hima pun duduk dengan kaki terlentang di kasur.

Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Ompu. Sesaat kemudian, ia menunjuk ke arah peti kayu, tempat menaroh barang-barang berharga, seperti Al-Qur’an kono warisan ayahnya. Sepertinya ia ingin menunjukkan sesuatu pada anak-anaknya.

Ketiga anaknya saling pandang. Seperti saling menanyakan maksud Ompu. Erni pun melangkah ke arah peti. Erni kemudian membuka tutup peti dan menatap ke arah Ompu Hima. Ompu Hima mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda itulah yang ia maksud. Erni menerjemahkan maksud Ompu—ada sesuatu yang diperintahkan untuk di ambil.

Erni mengamati isi peti. Di bagian atas terdapat sebuah gulungan kertas. Ompu kembali mengangguk-anggukkan kepala. Erni kemudian menyerahkan gulungan kertas itu pada Ompu. Tak lama Ompu memegangnya, lalu diberikan pada Umar.

Perlahan-lahan Umar membuka gulungan kertas itu. Dari bentuk tulisannya, Umar tahu itu tulisan Ompu Hima. Ompu Hima memang tak sampai tamat SR (Sekolah Rakyat), tetapi ia sudah bisa baca tulis. Meski bacaan dan tulisannya tak begitu lancar. Ompu jarang menulis, kadang-kadang saja. Biasanya beberapa terjemahan ayat dan hadis ia tulis. Dan entah apa yang dituisnya di gulungan kertas itu.

“Tuhan menciptakan kita dari segumpal tanah, akan kembali ke tanah pula. Sejengkal tanah adalah karunia-Nya. Barang siapa yang memakmurkan tanah, ia akan memetik kemakmuran untuk dirinya dan keturunannya.

Aku dan Ibumu telah memetik kehidupan di atas tanah ini. Di atas tanah ini pula roh kehidupan kalian dititipkan pada kami. Tanah ini pula yang telah menumbuhkan rejeki yang berlimpah untuk menghidupi kalian. Tak ada uang yang berlimpah keluar dari tanah, tapi rahmatNya yang mengalir melalui tanah ini tak membuat kita susah. Hingga kalian pun dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Kini waktu kami telah senja. Sebentar lagi kami akan kembali ke kampung kekal. Sebelum tiba waktunya, penuhilah permintaan kami. Kalian adalah buah yang tumbuh dari tanah ini. Tanamlah kembali di tempat asalnya. Ingatlah kembali ke tanah asal.

Umar! Ama tak pernah menghalangi apa pun niat dan keinginanmu. Apa lagi itu keinginan baik. Menjadi pemimpin itu baik. Akan tetapi, sebelum kau menjadi pemimpin di daerah ini, tanamlah kembali apa-apa yang telah kau petik di tanah ini. Bukan untuk kami—untuk tanah ini. Tak sejengkalpun tanah ini boleh hilang.”

Sejenak setelah Umar membaca tulisan itu. Perlahan-lahan Ompu Hima membenamkan mata untuk selama-lamanya. Tepat saat matahari kembali ke peraduannya di ufuk barat. Air mata duka membasahi tanah, antarkan kepergian Ompu Hima ke tanah asal sebenarnya.

Seminggu kemudian. Seantero wilayah geger. Umar membatalkan pencalonan dirinya. Ia memilih kembali ke kampung halaman. Segera ia mengajukan pembatalan transaksi jual beli tanah pada calon pembeli. Dari pensiunan Kepala Dinas Pertanian, kini menjadi petani. Segala ilmu, pengalaman, jaringan dan peluang yang diperolehnya selama ini—Umar tanam kembali. Kini ia menjadi pemimpin kaum tani, sebagai kaum 85 porsen penduduk daerahnya. Pemimpin sebenar-benarnya pemimpin.

Begitu terjemahan Umar dari pesan terakhir Almarhum Ompu Hima.

Bima, 2013

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon