Jumat, 15 November 2013

Sisa Noda Sejarah di Sapu Tangan Fang Yin

Cuplikan Film Sapu Tangan Fang Yin.
Sapu tangan Fang Yin, sebuah film pendek yang diangkat berdasarkan sebuah puisi esai Danny JA. Film yang berdurasi kurang lebih 47 menit ini menceritakan kisah pilu seorang gadis etnis Tionghoa. Ia korban pemerkosaan kerusuhan Mei 1998 di Jakarta.

Fang Yin diperankan oleh artis cantik Leony Vitria Hartanti. Fang Yin tumbuh ceria seperti remaja putri umumnya. Bahkan ia dan kekasihnya Abert (diperankan Reza Nangin) sering meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anak jalanan.

Adegan di bagian ini seperti sedang mengkonfirmasi pertanyaan: sejauh mana kepedulian etnis Tionghoa pada persoalan sosial di sekitar?

Fang Yin punya impian mendirikan sebuah yayasan agar anak-anak jalanan memiliki tempat belajar yang lebih baik. Belum sempat ia wujudkan impian itu, peristiwa kerusuhan Mei 1998 merenggut impiannya.

Bahkan kehormatannya sebagai perempuan telah ternodai oleh beringas penuh konspirasi kekuasaan. Sungguh kak terbayangkan, nasib malang menimpa Fang Yin.

Fang Yin mengalami tekanan batin serta trauma berkepanjangan. Ayah Fang Yin berusaha mencari keadilan untuk mengungkap pelaku pemerkosa anaknya.

Namun usahanya sia-sia belaka. Berbagai upaya selalu membentur tembok. Aparat penegak hukum kerap berlindung di balik kerusuhan yang melibatkan massa.

Kelurga yang putus asa itu akhirnya memutuskan hijrah ke Amerika. Ayah Fang Yin memang berhasil memindahkan Fang Yin secara fisik ke Amerika. Akan tetapi, luka dan trauma yang diderita Fang Yin tetap tertinggal di dalam jiwanya yang berkecamuk.

Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata. Namun kenyataan itu pahit, sebab ia tak pernah diakui oleh negara sebagai sebuah peristiwa hukum yang telah mencederai rasa keadilan. Tak heran, dalam film ini ada beberapa hal yang disamarkan.

Simak kata-kata pembuka film ini, “Panggil saja ia Fang Yin. Hamparan rumput harum artinya. Nama sebenarnya dirahasiakan. Sampai semuanya berlalu…”

Bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejarah. Sejarah kemarin adalah pelajaran hari ini, untuk merenda esok yang lebih baik. Tetapi, pelajaran apa yang dapat kita petik dari sejarah kelam kemanusiaan yang tak kunjung usai? Sejarah kelam masa lalu hanya akan membuat bangsa Indonesia tergagap membicarakan sejarahnya sendiri. Maka, Fang Yin tetap akan menjadi samar, sebab semuanya tak akan pernah berlalu.

Film ini menjadi semacam resep untuk melawan “penyakit” lupa. Penyakit lupa bangsa pada kejahatan kemanusiaan masa silam. Meski film ini tercatat sebagai cerita fiktif, namun tetap kaya dengan fakta-fakta seputar kerusuhan Mei 1998.

Fakta yang menggambarkan gerakan mahasiswa yang mulanya berunjuk rasa. Pada layar tampak data: tercatat 78 perempuan Cina diperkosa; 85 orang mengalami kekerasan seksual; korban meninggal 1.217 orang; 1.190 diantaranya mati terbakar; 91 orang luka parah; dan 31 orang hilang.

Sebuah kejahatan kemanusiaan atau pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) tanpa penghukuman terhadap pelaku disebut impunitas. Bila impunitas tetap membayangi perjalanan bangsa ini, maka potensi terjadinya peristiwa atau pelanggaran yang sama di kemudian hari sangat besar. Tak ada efek jera terhadap pelaku akan membuat mereka kebal hukum.

Membuka kembali peristiwa kelam kerusuhan Mei 1998 memang menyakitkan. Akan lebih sakit lagi bila ia dibiarkan sebagai luka yang terpendam.

Peristiwa itu sebetulnya belumlah telalu lama. Toh, masih banyak saksi hidup untuk dimintai keterangan. Masih banyak yang mengingat peristiwa tersebut. Tetapi, negara sepertinya abai untuk menyeret mereka yang bersalah.

Peristiwa tersebut mengawali gelora tuntutan reformasi. Tetapi, empat presiden hasil reformasi, mulai dari B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri sampai Susilo Bambang Yudhoyono sekarang, pun tak pernah berhasil mengungkap peristiwa yang menodai harkat kemanusiaan tersebut. Semuanya lemah dan bertekuk lutut di hadapan pelaku kejahatan HAM.

Berbagai upaya pengungkapan dalang dan pelaku kerusuhan Mei selalu berakhir di jalan buntu. Bahkan ada semacam upaya sistematis untuk mengubur tragedi kemanusiaan tersebut. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hasil reformasi, pada tahun 2002 telah menyatakan bahwa tragedi Mei 1998 bukan merupakan pelanggaran HAM berat.

Dengan demikian, tentu saja para pelakunya tak akan pernah bisa dibawa ke pengadilan HAM. Bayangkan, sebuah peristiwa yang telah merenggut nyawa 1.217 orang dikatakan bukan sebagai pelanggaran HAM berat.

Peristiwa kemanusiaan itu tak hanya dikubur, tetapi yang lebih menyedihkan lagi, oleh pihak-pihak tertentu, peristiwa tersebut dituding sebagai sebuah rekayasa untuk mengambil keuntungan.

Berbagai tuduhan keji seakan meludah di atas luka kemanusiaan. Pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa dianggap sebagai persoalan sepele. Bahkan dikatakan mengada-ada.

Fadli Zon dalam sebuah dialog interaktif di salah satu stasion televisi swasta misalnya. Ia mengatakan, “Tidak ada pemerkosaan massal. Mana saksinya? Itu katanya. Ada yang kata dokter. Ada yang kata keluarga dekat. Jangan kita belajar dari sejarah yang salah. Jadi saksi-saksi itu tidak ada.”

Fadli Zon juga menuduh alasan pemerkosaan massal itu dijadikan sebagai alasan untuk meminta suaka politik ke Amerika agar mendapatkan green card.

Pernyataan semacam ini telah memperkosa rasa keadilan. Tak hanya bagi korban, juga bagi setiap insan yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.

Di ujung Sapu Tangan Fang Yin, Karin Binanto sebagai sutradara sekaligus penulis skenario Sapu Tangan Fang Yin tampaknya ingin membuat Happy Ending. Fang Yin akhirnya kembali pulang ke Indonesia setelah mengetahui berbagai perubahan kebijakan yang lebih toleran.

Berbagai ekspresi kebudayaan Tionghoa sudah dapat ditampilkan. Hari Raya Imlek menjadi hari libur nasional. Putra dan putri terbaik Indonesia beretnis Tionghoa turut berkontribusi di berbagai aspek kehidupan. Mereka menempati posisi-posisi strategis di ranah politik, perdagangan, olahraga, kesusastraan, dan lain-lain.

Kita semua tentu berharap, ending (bagian akhir) film ini tidak ditafsirkan sebagai kompromi untuk mengubur kejahatan HAM tanpa hukuman. Sebaliknya, ending film ini harus dimaknai sebagai pengingat, bahwa tuntutan agar negara segera mengungkap dan menghukum mereka yang telah menginjak-injak martabat kemanusiaan harus terus disuarakan.

Di bagian akhir Sapu Tangan Fang Yin menampilkan catatan singkat: “Setiap tahun, tragedi Mei diperingati komunitas Tionghoa. Mereka berharap kasus diskriminasi dan tragedi seperti Fang Yin tidak terjadi lagi”.

Meski Sapu Tangan Fang Yin berakhir dengan senyum. Karin Binanto nampaknya lupa mengingatkan, selama impunitas terus berlangsung, senyuman itu tetap menjadi senyum sesaat. Sewaktu-waktu ia bisa berubah seketika menjadi jeritan yang lebih menyakitkan.

Sesungguhnya masih ada noda sejarah tertinggal di Sapu Tangan Fang Yin. Impunitas masih berlangsung. Ia menunggu dibersihkan secara total melalui peradilan Hak Asasi Manusia. Kelak, anak-anak bangsa tak lagi dihantui oleh noda sejarah kelam masa lalu. Semoga!

 ----------------------------------------
PEMAIN
Leony Vitria Hartanti : Fang Yin; Reza Nangin : Albert Kho; Elkie Kwee : Ayah Fang Yin; Nina Indra : Ibu Fang Yin; Sally Hasan : Raisa; Verdi Solaiman : Pembaca narasi dan puisi
Eksekutif Produser : Denny JA; Produser : Hanung Bramantyo, Rudi Setiawan, Ardi Kurniawan Surtradara : Karin Binanto; Penulis Naskah : Karin Binanto berdasarkan puisi-puisi esai Denny JA; Editor : Wawan I. Wibowo

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon