Selasa, 17 September 2013

Sebatang Rokok untuk Calon Pemimpin

Kubiarkan ia masuk dalam hidupku. Lama-kelamaan ia mulai mengendalikan hidupku. Hidup terasa ganjil tanpa kehadirannya. Lalu , oleh karena ia telah menjadi bagian penting dalam hidupku: bagaimana pun caranya, berapa pun harganya, di mana pun tempatnya ia harus selalu ada di dekatku.

Aku tak mungkin lagi berpisah darinya. Tetapi, kehadiran “buah hatiku” yang pertama akhirnya mampu menggantikannya. Berikut kisahku meninggalkan kebiasaan buruk merokok demi memenuhi nutrisi untuk anakku. Demi calon pemimpin bangsa yang sehat jasmani dan rohani.

Kebiasaan buruk merokok sudah mulai aku lakukan semenjak duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas). Aturan sekolah melarang keras siswa yang merokok. Namun, aku dan kawan-kawan selalu punya cara agar tak ketahuan merokok. Sebuah warung di depan sokolah menjadi pangkalan yang aman bagi kami untuk mencoba kebiasaan buruk tersebut.


Kebiasaan buruk merokok berlanjut saat aku memasuki perguruan tinggi. Dunia kemahasiswaan adalah dunia baru yang sangat berbeda dengan dunia siswa. Di sini tak ada larangan merokok. Jadi, ia semakin akrab dalam hidupku. Kepulan asap tembakau melayang-layang memenuhi ruangan kantin kampus sembari menunggu masuk ruangan kuliah. 

Malam-malam panjang dalam dinamika kampus dan dunia diskusi tak pernah lepas dari asap tembakau. Oh, betapa indahnya hari-hari terlewati bersamanya. Dan kini bukan lagi hitungan batang per hari, tetapi sudah meningkat menjadi hitungan bungkus.

Kebiasaan buruk merokok masih tetap aku lakukan setelah tamat kuliah. Apa lagi setelah bekerja dan punya penghasilan sendiri, tak sulit bagiku untuk membeli rokok. Pada suatu hari pernah aku menghadiri sebuah seminar kesehatan. 

Seminar tersebut membahas bahaya racun tembakau bagi kesehatan. Walau materi seminar tersebut sangat menggugah, tetapi begitu pulang dari seminar, sama sekali tak merubah kebiasaan burukku.


Aku kemudian menikah. Fase baru dalam hidupku pada akhirnya mulai menyingung kebiasaan buruk merokok yang aku lakukan. Sang istri tercinta perlahan-lahan mulai mengingatkan dengan cara yang bijak nan santun. Dan aku tahu, ia tak ingin membuat aku tersinggung. 

“Pap, sejak pacaran dulu hingga kini, tak ada apapun yang mengurangi perasaan cinta mama pada papa. Tetapi, akan lebih bahagia rasanya andaikan papa bisa mengurangi kebiasaan merokok,” tutur sang istri.

Aku sangat memahami keinginan istriku. Tetapi, candu yang telah melapisi rongga dadaku bertahun-tahun terasa berat untuk ditinggalkan. Dengan kata lain, saran istriku tak berlaku efektif. Kebiasaan buruk tersebut masih terus berlangsung. Sampai akhirnya aku berada pada satu waktu yang istimewa.


“Pap, sudah hampir sebulan mama telat datang bulan,” kata istriku di suatu sore. Aku terdiam sejenak sembari menatap wajah istriku. “Iya, pap. Hampir sebulan!” ucap istriku mengulang. 

Istriku meyakinkan aku yang tampak bengong. Aku seakan-aka tak percaya dengan ucapan sang istri. Maklum, hampir tiga tahun kami berumah tangga belum juga dikaruniai “momongan”. 

Kehadiran buah hati telah lama kami ridukan, terutama aku. Apa lagi setiap bertemu keluarga, sahabat dan kerabat, pertanyaan yang serupa selalu kami dapatkan: udah ada momongan belum?

Malam itu juga aku mengajak istri berangkat ke dokter kandungan untuk memastikan kehamilannya. Ada senyum tertahan di raut wajah kami yang penuh berharap. Begitu keluar ruang pemeriksaan, sang dokter langsung mengulurkan tangan sembari berucap,”selamat menjadi calon bapak.” Kebahagiaan yang lama terpendam akhirnya hadir pula.

Sekali sebulan aku selalu mengajak istri memeriksa dan konsultasi ke dokter kandungan. Aku selalu duduk di samping istri mendengarkan arahan dokter. Lalu mulailah sang dokter menyinggung bahaya asap tembakau bagi janin dan ibu hamil. 

Ibu hamil sebagai perokok pasif sangat beresiko menyebabkan gangguan kehamilan. Selain itu, janin yang dikandung juga bisa beresiko menyebabkan cacat lahir.


Mulai saat itulah aku berpikir untuk meninggalkan kebiasaan buruk merokok. Kabar kehadiran sang buah hati perlahan-lahan mulai menggeser kebiasan yang telah menyatu dalam hidupku. Caranya pelan-pelan. Mula-mula aku dan istri membuat kesepakatan, aku tak boleh merokok di dekat istri. Perlahan-lahan aturan mulai ketat, aku tak boleh merokok selama berada di rumah. Istriku semakin senang melihat perubahanku.

Menjelang tiga bulan usia kandungan istriku, ia akhirnya mengajak aku ngobrol serius tentang persiapan menyambut kehadiran si buah hati. Harus kuakui, istriku cukup cerdas dan teliti mempersiapkan segala sesuatu untuk sang buah hati. 

Dan aku bangga dan bersyukur untuk itu. Mulai dari pernak-pernik bayi, tempat tidur sampai rencana klinik bersalin tempat melahirkan sudah kami bahas. Dan yang tak kalah pentingnya yang aku ingat sampai sekarang adalah memenuhi nutrisi yang seimbang untuk sang ibu dan jabang bayi yang dikandung.


“Nah, coba papa berpikir sekarang. Gimana kalau uang jatah rokok papa setiap bulan dialokasikan buat memenuhi nutrisi mama dan bayi kita dalam kandungan?” tutur istriku menyodorkan pilihan barat buatku. 

Tetapi, istriku tahu benar, demi si buah hati aku pasti akan luluh. Sang istriku kini seakan menemukan senjata pamungkas untuk memberantas sisa-sisa kebiasaan buruk merokokku. 

“Emm… gimana caranya, mam?” tanyaku setengah ragu.

“Begini, pap. Setiap papa berangkat kerja, mama tetap memberikan jatah belanja papa, termasuk jatah uang buat beli rokok. Nah, setiap papa pulang, bawakan mama buah-buahan. Jadi, duit jatah rokok papa itu mending papa relakan buat memenuhi gizi bayi kita, pap,” ucap istriku menjelaskan. 

Ada kesungguhan yang terpancar dari wajah istriku. Aku pun bahagia melihatnya. Lalu aku menyerah tanpa syarat. Aku turuti kata-kata istriku.

Pernah aku hampir tergoda. Suatu saat aku tak tahan ingin merokok. Aku melangkah ke sebuah warung di samping kantor. Belum sampai warung langkahku terhenti. Aku bayangkan lagi kata-kata istriku, “…relakan uang rokok papa buat memenuhi gizi bayi kita…” 

Langkah kakiku berbalik arah kembali ke kantor. Niat membeli rokok akhirnya batal. Dan setiap aku pulang ke rumah tak lupa membelikan buah-buahan buat sang istri. Aku bahagia melakukannya.

Setiap fantasi keinginan merokok muncul, seketika itu pula aku bayangkan wajah sang bayi yang akan lahir kelak. Matanya bening, kulitnya bersih, dan berat badannya seimbang. Kata istriku begitu. 

Jadi, semakin banyak istriku mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran, maka semakin sehat bayi yang dilahirkan. Dan ahirnya kebiasaan buruk merokok lenyap selamanya dalam hidupku. Demi kesehatan janin yang dikandung istriku dan memenuhi nutrisinya sejak dalam kandungan, apa pun akan aku lakukan.

Pada tanggal 6 Oktober 2011 lahirlah bayi laki-laki kami dengan selamat. Berat badannya 3,8 Kg, panjang 50 Cm. Sinar matanya berbinar-binar memenuhi ruang harapan kami. Sang bayi tergolong normal dan sehat ketika lahir. 

“Benarkan, pap?” ucap istriku seraya menatap aku yang tak henti-hentinya memandang sang buah hati. 

“Iya, mam. Bayi kita sehat dan normal. Ini semua berkat mama yang selalu ngingatin papa untuk merelakan duit rokok buat menuhin gizi mama dan bayi kita,” jawabku yang sudah tahu maksud ucapan sang istri. Kami tersenyum bahagia.

Aku sangat bangga kepada istriku. Kalau bukan karena ketelatenannya, tak mungkin kami mendapatkan bayi yang sehat. Banyak saudara-saudara kita yang tak beruntung. Oleh karena kekurangan gizi saat mengandung, banyak bayi terlahir tak sempurna.

Terimakasih istriku, berkat kecerdasanmu, sang calon pemimpin bangsa nan tangguh telah lahir ke dunia. Dan kini, asap tembakau itu lenyap selamanya dalam hidupku. 

Setiap batang rokok yang kutinggalkan adalah sejengkal nutrisi penting buat anak kita. Kelak ia akan tumbuh sehat dan menjadi pemimpin bangsa yang tangguh. Semoga!

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon