Minggu, 18 Agustus 2013

Mengenang Perjuangan Bonjoran Bayupathy

Bonjoran Bayupathy
Pada tahun 1950 Republik Indonesia, sebagai negara baru, terus mengalami rongrongan politik dan militer dari bekas penjajah Belanda.Belanda tak rela membiarkan Indonesia merdeka tumbuh sebagai negara kesatuan.

Berbagai strategi pecah-belah dilakukan oleh Belanda. Negara Indonesia Serikat (RIS) dan negara-negara “boneka” bentukan Belanda adalah salah satu strategi untuk memecah Negara Kesatuan RI.

Di Bali kala itu situasi politik juga tidak menentu. Koferensi Meja Bundar (KMB) yang diselenggarakan di Den Haag, Belanda pada tanggal 23 Agustus 1949 sampai 2 November 1949 telah memutuskan, bahwa Negara Indonesia Serikat (RIS) tidak sesuai cita-cita proklamasi dan kembali ke bentuk NKRI. Sejumlah kalangan di daerah masih terjadi tarik ulur kepentingan dan tak berani mengambil sikap.

Adalah Bonjoran Bayupathy bersama 12 orang pemuda pejuang Bali lainnya dipanggil oleh Presiden Soekarno di Jakarta. Tujuan bertemu Presiden Soekarno untuk menyatakan, bahwa Bali akan bergabung dalam NKRI sesuai keputusan KMB. Perjalanan menuju Jakarta tidaklah mudah.Mata-mata Belanda terus mengintai dan melakukan pengawasan ketat terhadap aktivitas pemuda pejuang.

Sesulit apapun tantangan yang dihadapi, tak menyurutkan semangat Bonjoran Bayupathy dan kawan-kawan untuk bertemu Presiden Soekarno. Diam-diam Bonjoran Bayupathy dan kawan-kawan berhasil menyeberangi Selat Bali dari Pantai Rambutsiwi, Jembrana menuju Pulau Jawa menggunakan jukung (perahu cadik).

Kehadiran Bonjoran Bayupathy dan 12 pemuda pejuang Bali semakin meneguhkan tekad Presiden Soekarno mempertahankan kedaulatan NKRI.

Riwayat perjuangan Bonjoran Bayupathy tak banyak diulas dalam lembaran sejarah nasional Indonesia.Bonjoran Bayupathy lahir di Banjar Sengguan, Gianyar pada tanggal 10 November 1926.

Bonjoran kecil tumbuh dalam suasana keagungan puri (istana).Sebagai anak bangsawan, ia diberi nama lengkap: Ratu Agung Ngurah Agung Bonjoran Bayupathy Arya Kresna Kepakisan.Ia sangat lincah dan pintar. Ia juga gemar bermain perang-perangan. Masa remaja banyak dihabiskan untuk berlatih olah raga silat.

Masa-masa remaja Bonjoran Bayupathy dilewati dengan penuh pergolakan batin. Bonjoran Bayupathy menyaksikan penderitaan rakyat di mana-mana. Penjajah Belanda memeras keringat rakyat jelata. Ketika Jepang datang tahun 1942 pun hanya memberikan janji-janji kosong. Kerja rodi dan perampasan hasil pertanian milik rakyat jelata, pun kerap dilakukan oleh tentara Jepang.

Bonjoran Bayupathy sadar, untuk menjawab persoalan tersebut harus ditempuh jalan pencerahan melalui pendidikan yang baik.Pada tahun 1937 sampai 1941 ia menyelesaikan pendidikan Taman Dasar/Sekolah Dasar.

Selanjutnya, tahun 1942sampai 1945 menyelesaikan pendidikan Taman Dewasa/Sekolah Menengah Pertama. Di Taman Dewasa,Bonjoran Bayupathy mulai aktif melakukan berbagai gerakan bersama pemuda pejuang. Berbagai upaya dilakukan untuk memperkokoh persatuan menuju Indonesia merdeka.

Sebelum melanjutkan pendidikan di Sekolah Mengeah Atas (SMA), Bonjoran Bayupathy memilih berjuang total. Waktunya dicurahkan sepenuhnya untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI yang telah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta di Jakarta 17 Agustus 1945.

Bonjoran Bayupathy berperan aktif menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan RI di Pulau Bali, khususnya daerah Bali bagian timur, seperti Gianyar, Klungkung, Bangli dan Karangasem.

Begitu mendengar berita kemerdekaan, Bonjoran Bayupathy mendatangi para pemuda pejuang lainnya. Sebuah sepeda onthel(sepeda kayuh), di bagian belakangnya dipasang bendera merah putih menjadi sahabat Bonjoran untuk berkeliling ke teman-teman seperjuangannya.

Bonjoran Bayupathy dan pemuda pejuang akhirnya menyepakati membuat sebuah gerakan. Pertama, menyebarluaskan berita kemerdekaan ke daerah-daerah bagian timur pulau Bali.

Kedua, melakukan penurunan bendera Jepang diganti dengan bendera merah putih di daerah-daerah tersebut.

Dan yang ketiga, mengambil alih kekuasaan Jepang. Di daerah Gianyar dan Klungkung awalnya ditentang oleh Raja, namun setelah didesak oleh pemuda pejuang akhir Raja Gianyar dan Klungkung bersedia.

Pada tahun 1945-1948 Bonjoran Bayupathy menempuh pendidikan di Akademi Militer Jogjakarta, satu angkatan dengan pemuda-pemuda pejuang lainnya, seperti Susilo Sudarman (mantan Menteri Parpostel) dan Subroto (mantan Menteri Pertambangan dan Energi), Letjen Wiyogo Atmodarminto (mantan Gubnernur DKI Jaya).

Di tengah masa pendidikan itulah, ketika berpangkat Sersan Taruna di Akmil, Bonjoran Bayupathy dipanggil oleh I Gusti Ngurah Rai, pemimpin perjuangan Bali, untuk sama-sama berjuang di Bali.

Dalam perjuangan selanjutnya, Bonjoran Bayupathy terus mengikuti Pasukan Induk I Gusti Ngurah Rai dalam rangka Long March Gunung Agung.Long March Gunung Agung adalah bagian dari strategi pasukan I Gusti Ngurah Rai untuk mengecoh sedadu NICA.

Pasukan I Gusti Ngurah Rai sengaja dipindahkan ke arah timur supaya pasukan NICA terkonsentrasi ke bagian timur. Dengan begitu, bantuan pasukan pejuang dari Jawa bisa leluasa masuk dari arah barat.

Setelah melakukan Long March Gunung Agung, Bonjoran Bayupathy bersama beberapa orang pasukan pejuang mendapat tugas dari I Gusti Ngurah Rai untuk memantau situasi di wilayah Barat. Selain itu mereka bertugas menyambut kedatangan bantuan pasukan pejuang dari Jawa.

Sebelum pasukan pejuang dari Jawa tiba, Puputan Margarana terlebih dahulu meletus pada tanggal 20 November 1946. Bonjoran Bayupathy dan kawan-kawan yang melakukan perjalanan ke arah Barat selamat.

Karier kemiliteran Bonjoran Bayupathy terus menanjak: LETDA tahun 1948, LETTU tahun1950, KAPTEN tahun 1956, MAYOR tahun 1960, LETNAN KOLONEL tahun 1964, KOLONEL tahun 1966 dan BRIGADIR JENDRAL tahun1971. Dengan demikian, Bonjoran Bayupathy adalah orang Bali pertama yang mendapatkan pangkat jendral TNI. Tak berlebihan kiranya ia diberi julukan “Bintang Pratama Dewata”.

Berbagai perjuangan bersenjata dan operasi militer telah dijalani oleh Bonjoran Bayupathy. Pada tahun 1945-1947 bergabung bersama pasukan Gerilya di Bali. Tahun 1947-1948 terlibat dalam perang kemerdekaan I. Tahun 1948 bergabung dalam penumpasan pemberontak PKI Madiun. Tahun 1949 penumpasan DI/TII Karto Suwiryo.

Tahun 1952-1954 bergabung dalam penumpasan DI Kahar Mudjakardi Pare-Pare Sulawesi Selatan. Tahun 1953 penumpasan RMS di Maluku. Tahun 1961 penumpasan PRRI/PERMESTA di Padang. Tahun 1965 penumpasan G30S/PKI di Jakarta. Dan terakhir, tergabung dalam Operasi DWIKORA di kalimantan Barat tahun 1966.

Masa bertugas di Sulawesi Selatan dalam Penumpasan DI/TIIKahar Mudjakar meninggalkan kesan yang amat dalam bagi keluarga Bonjoran Bayupathy. Di sana Bonjoran Bayupathy diangakt sebagai anak oleh Raja Wajoyakni, A. Ninnong Datu Tempe Ranreng Tuwa Wajo. Kerajaan Wajo kini menjadi Kabupaten Wajo yang beribukota di Sengkang.

Selama mengikuti operasi militer penumpasan pemberontak Kahar Mudjakar, Bonjoran Bayupathy meninggalkan istri,yakni I Gusti Ayu Agung Puspawathydalam keadaan hamil tua. Pada tanggal 20 Oktober 1952, lahirlah putri pertama mereka.

Raja Wajo memberi nama anak itu dengan nama Bunga Pandanbau. Sekembali Bonjoran Bayupathy dari dari operasi militer, barulah diberi nama Bali, yakni Ratu Agung Ayu Agung Kentjanawathy alias Rataya B. Kentjanawathy.

Semangat Bonjoran Bayupathy dalam menuntut ilmu tak pernah padam.Selain mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan kemiliteran, Bonjoran Bayupathy terus menempuh pendidikan umum.

Tahun 1954 ia menyelesaikan pendidikan Taman Siswa di Yogyakarta. Tahun 1974 Bonjoran Bayupathy menyelesaikan kuliah di Fakultas Sosial Politik (Sospol) Universitas Jayabaya.Tahun 1997 menyandang gelar Magister Manajemen (MM).Sedangkan pada tahun 2000 menyandang gelar Doktor.

Setelah pensiun dengan pangkat terakhir Brigjen tahun 1971, Bonjoran Bayupathy mengisi masa tuanya dengan cara mengabdi di Markas Daerah Legiun Veteran Republik Indonesia (MADA LVRI) Bali.

Hingga usia senja, Bonjoran Bayupathy terus mengikuti perkembangan bangsa terutama menyikapi berbagai persoalan kebangsaan. Puncaknya adalah ketika gerakan Reformasi bergulir, tahun 1998, Legiun Veteran Bali mengeluarkan sikap mendukung gerakan mahasiswa dalam gerakan Reformasi.

Selain pada masalah-masalah kebangsaan, ia pun memberi perhatian pada dunia olah raga. Ia berperan besar dalam pengembangan olahraga karate dan silat di Bali.

Sepuluh tahun lamanya ia mengabdi di sana sebagai Ketua Pelaksana Harian hingga ia menghembuskan nafas terakhir.

“Selamat jalan, Sang Jendral… Generasi penerus bangsamu akan selalu mengenang dikau— Gelora jiwamu, perjuanganmu, jasa-jasamu adalah nyala api kebangsaan yang tak pernah padam”.

Nonton Video: Klik di sini 

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon