Kamis, 22 Agustus 2013

Menata Konflik Sosial di Bali

Dialog berlangsung santai walau diwarnai perdabatan hangat.
Menyebut kata “Bali” pikiran langsung mengasosiasikan sebuah pulau yang indah. Pulau yang menawan dengan bentangan alam bak surga. Orang-orang yang ramah. Adat-istiadat dan tradisi yang adiluhung.

Tak terbantahkan lagi bahwa Bali itu eksotik, indah, menawan dan menakjubkan. Pada saat yang sama, segala keindahan dan keagungan itu dilihat sebagai berkah yang menguntungkan. “Malaikat Pariwisata” datang menghampiri menjajikan harapan.

Di balik segala pesona Pulau Surga dan janji-janji manis “Malaikat Pariwisata”, diam-diam masyarakat Bali sesungguhnya sedang membungkus bibit-bibit konflik. Bibit konflik itu ibarat bom waktu yang akan meledak pada saatnya--tatkala surga yang dijanjikan berbuah petaka.

Ketika tanah warisan telah digantikan oleh mobil mewah. Ketika padi di sawah tak lagi mampu bersaing dengan laju pertumbuhan beton.

Ketika pantai dan sungai semakin sempit oleh desakan hotel dan restoran.

Ketika teluk dan tanjung dicabut dari fungsi alaminya.

Ketika semuanya telah hilang dan surga pariwisata dinikmati hanya segelintir orang, barulah kita sadar janji-janji itu palsu belaka.

Seiring dengan pesatnya laju investasi pariwisata semenjak tahun 1980-an di Bali, sesunguhnya telah menjadi bibit konflik yang berkepanjangan.

Konflik yang paling menonjol adalah terusiknya kepentingan komunal oleh kepentingan pariwisata. Kenyataan yang sering kita jumpai misalnya, pantai yang seharusnya menjadi domain publik, kini semakin diramaikan oleh berbagai properti hotel dan restoran.

“Menjual view laut,” begitu dalih pelaku pariwisata yang berminat khusus di laut. Macam-macam rupa dan minat khusus para investor. Ada yang gemar menjual danau. Ada yang suka menjual tebing. Ada yang ahli menjual sawah. Ada yang mahir menjual gunung. Dan yang gencar mengisi halaman berita koran dan televisi akhir-akhir ini, ada investor yang berminat menjual Tanjung Benoa.

Lebih baik terlambat, asal selamat. Sebab jangan sampai sudah terlambat, juga tak selamat. Dalam suasana perayaan hari kemerdekaan RI yang ke-68, kami ingin mengajak dialog semua pihak tentang upaya menata konflik di Bali. Di sini, mari kita duduk dan bicara, sebab penguasa lokal dan penguasa uang menginginkan kita diam.

Pengantar Dialog KNPI Bali 22 Agustus 2013

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon