Rabu, 17 Juli 2013

Nasi Jinggo

Nasi Jinggo dalam bungkusan daun pisang
Sekepal nasi putih, sedikit mie goreng, beberapa helai daging ayam suwir, tempe goreng kering dan sambal pedas dalam bungkusan daun pisang. Nasi Jinggo, begitu warga Denpasar mengenalnya.

Mengenai asal-usul nama Jinggo sendiri beragam. Ada yang bilang berasal dari bahasa China yang artinya 1.500. Ada pula yang bilang, dulu nasi ini incaranpara Jenggo, pengendara sepeda motor malam hari yang mencari makan, sepulang menikmati kehidupan malam di kawasan Kuta.

Apa pun itu, saya mencoba menelusuri lebih dari sekedar sejarah. Ada strategi bertahan di sana. Ada kemampuan baca peluang di sana. Dan, ada kehidupan tengah dipertaruhkan pada malam-malam nan sunyi.

Sebagai usaha kuliner, Nasi Jinggo dituntut licah, sebab dalam waktu bersamaan ia berlomba dengan para “jagoan” usaha kuliner lainnya.

Lihat saja, sepanjang jalan semakin banyak warung makan yang buka 24 jam. Mulai dari warung Padang sampai waralaba kuliner kelas dunia semacam McD juga ada. Nasi Jinggo tak mau takluk begitu saja.

Penjual Nasi Jinggo cukup jeli memilih tempat. Posisi Nasi Jinggo mengisi kekosongan yang belum terjamah oleh usaha kuliner lain.

“Dulu saya pernah jualan di dekat pertigaan Hayam Wuruk-Akasia, tapi kerena di dekat situ sudah ada mini market dan warung makanan yang jualan sampai malam, jualan saya kurang laku. Jadi lebih baik saya pindah di sini aja. Sekarang lumayan bisa terjual sampai 90 bungkus semalam,” ungkap Wayan Partha yang kini kerap berjualan di dekat pertigaan Jalan Hayam Wuruk-Merdeka.

Saya bertemu dengan Made Suparba (41), salah satu penjual Nasi Jinggo yang kerap mangkal di Jalan PB. Sudirman, tepat di depan Kampus Universitas Udayana.

Setiap hari, saat nasib lagi mujur, ia dapat menjual hingga 200 bungkus Nasi Jinggo untuk dua sesi penjualan. Jam 8 malam – jam 2 dini hari Made Suparba berjualan di depan kampus, pada pagi hari ia titipkan di warung-warung. Harga per bungkus Rp 2.500.

Ditanya prosentase keuntungan per bungkus, “Wah, saya nggak pernah hitung berapa keuntungan per bungkusnya, Mas. Kalau hitungan kasarnya, untuk membuat 100 bungkus nasi setidaknya habis Rp 100 ribu untuk beli bahan, termasuk daun pisang,” kata Made menjelaskan.

(Tulisan dimuat di Majalah Bisnis M&I)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon