Minggu, 05 Mei 2013

Siapakah Fredy S Itu?

Beberapa novel karya Fredy S.
Terkadang kita abai pada sesuatu yang bahkan sudah menjadi hal-hal yang biasa kita lakukan. Seperti halnya karya-karya Fredy S yang mungkin pernah kita baca, kita dengar dan kita pergunjingkan—jarang yang bertanya: sesungguhnya siapakah sang penulis yang bernama Fredy S itu?

Model penulis seperti apakah dia, hingga karya-karnyanya yang khas dengan aroma “panas” telah beredar begitu luas.

Dari berbagai data yang saya dapat, karya Fredy S mencapai 500 novel. Roman percintaan yang dibuatnya telah memasuki lorong-lorong sempit lapak buku, hingga memenuhi kamar kaum remaja 70-an hingga remaja 90-an.

Bahkan karya Fredy S yang berjudul “Senyumku adalah Tangisanku” pernah di filmkan. Film itu dibintangi Rano Karno dan Anita Carolina. Karya-karya Fredy S tak lepas dari perdebatan: di manakah ia ditempatkan dalam kancah kesusastraan tanah air?

Perdebatan karya Fredy S saya sudahi dengan meminjam istilah Oscar Wilde, seorang novelis, dramawan, penyair dan cerpenis asal Irlandia: tak ada buku bermoral dan tidak bermoral. Yang ada, buku itu ditulis dengan baik atau buruk. Itu saja.

Sekarang saya ingin mengajak mencari tahu, siapakah seseorang yang bernama Fredy S itu? Di mana alamatnya? Bagaimana sejarah hidupnya? Bagaimana proses kreatif menulisnya yang seakan tiada henti. Dan banyak lagi pertanyaan lain yang berkaitan dengan diri Fredy S.

Berangkat dari rasa ingin tahu yang teramat besar, saya pun melakukan semacam riset kecil-kecilan. Cara yang paling primitif di era modern adalah dengan bertanya pada mesin pencari google.

Alhasil, jangankan jawaban terang-benderang yang muncul, malah sekian banyak artikel berkaitan dengan Fredy S ternyata adalah artikel orang-orang yang sama, tersesat seperti saya—tak menemukan jejak siapa sesungguhnya sosok Fredy S.

Tumben-tumbennya, Paman Google tak bisa diandalkan. Tak satu jawaban pun memuaskan hati. Saya kembali dengan cara-cara manual—bertanya pada siapa saja yang kira-kira menurut saya, paling tidak pernah menemukan jejak Fredy S.

Ada dua pertanyaan kunci yang saya ajukkan. Pertama, apakah pernah membaca atau mendengar karya-karya Fredy S? Kedua, apakah pernah melihat, mendengar, dan mengetahui tentang sosok yang bernama Fredy S?

Pertanyaan itu selalu saya bawa ke mana pun pergi. Setiap ketemu teman di warung makan, di tempat tonkrongan, di sela-sela acara diskusi, usai seminar-seminar formal. Bahkan, suatu ketika usai pengajian, saya iseng bertanya pada Pak Kyai yang baru selesai membahas soal perzinahan. Saat peserta lain mulai lenyap, perlahan-lahan saya dekati Pak Kyai.

“Maaf, Pak Kyai. Saya ada sedikit pertanyaan terkait riset saya. Tapi agak melenceng dari topik, neh. Pernah mendengar nama Fredy S, nggak?” tanya saya pada Pak Kyai. “Kepalamu itu yang Fredy S! Aneh-aneh saja pertanyaanmu. Saya tidak tahu!” kata pak Kyai menghardik saya. Saya pun langsung ngacir.

Tapi saya menyimpulkan Pak Kyai tahu, atau mungkin pernah membaca, entah disengaja atau tidak karya Fredy S. Toh, buktinya beliau langsung marah. Andai Pak Kyai tak tahu, setidaknya dia akan bertanya balik, “siapa itu?”. Jadi Pak Kyai tahu tentang karyanya, walau tidak tahu orangnya.

Orang-orang yang saya tanya rata-rata tahu tentang karya-karya Fredy S. Paling tidak, walau tak pernah membaca langsung, tahu dari teman yang pernah membaca. “Penulis roman-roman adegan panas itu, kan?” begitu jawaban yang paling minim mengetahui karya Fredy S.

Yah, Fredy S dengan roman beraroma birahinya memang bagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Tetapi, pekerjaan saya sekarang memang sedang ingin mengambil salah satu sisinya, yakni sisi sosok Fredy S yang sesungguhnya.

Semua jalan yang saya tempuh tak ada yang terang-benderang soal sosok Fredy S. Hanya sisi karyanya saja yang diketahui. Dalam diam bercampur keragu-raguan saya mencoba mencari-cari perbandingan.

Dibanding Moeamar Emka, penulis yang berbau seks yang “meledak” bersama karya jurnalisme investigasinya “Jakarta Undercover”, harusnya Fredy S dengan segudang karyanya “meledak” bak taburan kembang api di langit biru—beratus-ratus kali meledak.

Perbandingan saya yang lain—sekarang ini kan media massa gandrung pada sosok yang khusus dan unik. Sepengetahun saya, tak sekali pun profil Fredy S pernah dimuat media cetak maupun media televisi.

Padahal, bila menyaksikan beberapa sosok yang diangkat oleh media selama ini, ada juga yang rasanya tak khusus-khusus amat. Dugaan saya, oleh karena media kehabisan stok sosok khusus dan unik, yah yang biasa-biasa saja digoreng dan dibumbui beranake cerita pun jadi gurih.

Lantas, Fredy S? Sudah tak perlu dibumbui cerita macam-macam. Sebab bumbu pedas dan panas dalam karya-karyanya sudah cukup menggugah selera ingin tahu setiap orang. Nilai beritanya jauh di atas rata-rata.

Seharusnya, wajah Fredy S nampang tiap hari di berbagai acara talk show sebagaimana Moeamar Emka membahas topik-topik seputar dunia yang ditulisnya. Fredy S, tidak! Dia tidak pernah hadir dalam dunia nyata sebagai sisi individu. Fredy S samar-samar bersama riuh rendah karya-karyanya di kalangan pembaca.

Sebetulnya terlalu dini untuk menyimpulkan. Atau sebetulnya ini hanya kesimpulan di tengah keputusasaan yang menjerat saya. Saya tak tahu ke mana lagi harus bertanya. Dan saya tak hendak bertanya pada rumput yang bergoyang, sesuai saran Ebiet G. Ade dalam lirik lagunya.

Akhirnya saya membuat beberapa kesimpulan kecil-kecilan, sebab riset ini juga riset kecil-kecilan, jadi antara sumberdaya dan hasil riset imbang. Kesimpulan gegabah ini toh masih dapat diperdebatkan. Atau munkin menjadi awal pembuka perdebatan dalam rangka menemukan Fredy S.

Pertama, tokoh yang bernama Fredy S. memang benar-benar nyata adanya. Fredy S hanyalah nama pena belaka. Hal ini dilakukan oleh penulis oleh karena berbagai karyanya, selain menebar aroma panas yang mendebarkan jantung penggemarnya, sekaligus juga menebar bau resistensi di kalangan pebaca yang mengklaim diri berada di gerbong pembaca bermoral.

Untuk mendapat posisi aman tetap berkarya, penulis memendam hasrat untuk membuka jati diri yang sesungguhnya. Di era kebebasan informasi sekarang ini, pun penulis rupanya telah keasyikan bersembunyi di balik nama Fredy S.

Bandingkan dengan novelis yang memiliki genre serupa, semisal Motinggo Busye yang terkenal di era 70-an. Mutinggo Busye merupakan nama pena yang digunakan. Tapi diketahui jelas nama aslinya sebagai Bustami Djalil. Mutinggo Busye diketahui pula lahir di Bandar Lampung, 21 November 1937. Riwayat hidupnya begitu jelas. Karya-karyanya juga jelas riwayatnya.

Pembanding kedua ialah Abdullah Harahap. Ia juga tergolong novelis yang beraroma seksualitas. Abdullah Harahap diketahui lahir di Tapanuli Selatan, 17 Juli 1943. Ia duduk di bangku SMA tahun 1960 di Medan. Kemudian melanjutkan pendidikan di IKIP Bandung tahun 1963. Ia juga diketahui pernah berpofesi sebagai jurnalis di Mingguan Gaya dan Gala. Ia pernah menjadi perwakilan Majalah Selecta Grup untuk wilayah Jawa Barat.

Satu lagi novelis bergenre seksualitas yang tak mudah dilupakan oleh remaja era 1970 sampai era 1990-an adalah nama Enny Arrow. Novelis yang satu ini sangat vulgar dan blak-blakan dalam mengeksplorasi adegan seks.

Ia tak segan-segan menyebutkan bagian-bagian vital tubuh pria dan wanita yang menjadi bintang ceritanya. Bahkan jalan cerita yang disuguhkan tak begitu jelas, namun pengagum karyanya tetap saja memburu adegan panas yang disuguhkan Enny Arrow.

Lagi-lagi, dibanding nama Frady S, Enny Arrow sosok yang utuh. Ia nyata adanya. Enny Arrow memang nama pena. Nama sebenarnya Enny Sukaesih Probowidagdo, lahir di Hambalang, Bogor 1924. Karirnya di dunia jurnalistik juga tergambar. Dan nama pena “Enny Arrow” pertama kali ia gunakan dalam karyanya yang berjudul “Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta” pada tahun 1965.


Para novelis segenre dengan Fredy S pun memiliki rekam jejak yang jelas—dari mana asal-usulnya, di mana ia pernah menempuh pendidikan, di mana ia pernah beraktifitas. Fredy S? Tidak!

Muhidin M. Dahlan, seorang yang penasaran dengan sosok Fredy S pun hanya berani menduga-duga—Fredy S adalah orang Sunda atau paling tidak lama hidup dalam tradisi oral Jawa Barat. Dugaan ini deperkuat oleh karena Muhidin kerap memergoki Fredy S yang kerap membolak-balikkan menulis frase seperti “Fasilitas” ditulis “Pasilitas”.

Alasan Muhidin bagi saya tidak cukup kuat. Sebab di tradisi oral masyarakat selain Jawa Barat pun memiliki kebiasaan yang sama. Budaya oral masyarakat Bali dan Lombok juga kerap membolak-balikkan antara “F/V” dengan “P”.

Jadi, Fredy S adalah penulis yang tenggelam dibalik nama penanya. Kemudian keasyikan bersembunyi alias tak menampakkan diri sebagaimana dilakukan oleh penulis-penulis yang lain.

Kedua, nama Fredy S hanyalah menjadi nama simbol bersama dari sekian banyak penulis yang bergenre seksualitas. Fredy S dapat diartikan sebagai semacam nama payung bersama bagi para penulis.

Kesimpulan ini kuat diduga oleh karena, meski karya-karya yang berlabel Fredy S memiliki ciri khas cerita “panas”, akan tetapi sering memiliki perbedaan dalam gaya bahasa maupun kekhasan kemasan cerita.

Kemudian dari segi jumlah karya, memang belum ada catatan resmi berapa banyak novel yang ditulis Fredy S. Dari ungkapan para penggemar Fredy S, ada yang pernah mengoleksi hingga 500 novel berlabel Fredy S.

Jumlah koleksi ini belum tentu mencakup semua novel berlabel Fredy S. Artinya novel-novel yang berlabel Fredy S yang lain diperkirakan masih ratusan yang beredar. Dari sisi angka produktivitas seorang penulis, tentu saja meragukan—mana mungkin seorang dapat menulis karya sebanyak itu.

Dan yang paling menonjol, lazimnya setiap novel, di bagian akhir ada riwayat penulisnya. Sedangkan novel-novel yang berlabel Fredy S, tak satu kalimat pun menjelaskan tentang riwayat penulis. Kecuali di sampul depan terdapat tulisan “Fredy S”.

Jika ini sebagai alasan untuk melindungi diri dari cercaan pembencinya, toh banyak penulis-penulis lain yang karya roman seksnya jauh lebih vulgar. Mereka tetap diketahui asal usulnya. Sekali lagi, dalam kesimpulan kedua ini—Fredy S hanyalah sebagai nama simbol dari sekumpulan orang-orang yang membuat roman seks. Fredy S sebagai seorang individu itu benar-benar tak ada.

Terakhir, siapa pun dia, apa pun dia, mungkin tak lagi begitu penting. Bagaimana pun Fredy S telah turut andil dalam memperkaya khasanah kesusastraan di tanah air. Menguras tenaga dan pikiran berburu Fredy S, memang tak seasyik dan setegang saat-saat memasuki lorong adegan panas yang kerap disuguhkan dalam karyanya.

Gambar: Google Image

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon