Jumat, 10 Mei 2013

Mimpi Sehat

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika
 Sebuah Refleksi Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM)

Masih ingat Ponari? Bocah cilik asal Desa Megaluh, Jombang, Jawa Timur itu mendadak kesohor. Ponari memiliki batu ajaib sebesar kepalan tangan anak-anak. Batu ajaib itu diyakini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Kisah keajaiban batu Ponari perlahan-lahan menyebar— bermula ke tetangga rumah, kemudian meluas seantero nusantara. Ratusan hingga ribuan orang datang setiap hari. Mereka rela mengantri berjam-jam di bawah teriknya matahari menunggu giliran. Ponari mencelupkan batu ajaibnya ke dalam air, itulah saat dinanti-nanti. Air celupan batu Ponari itulah sebagai obat penyembuh segala penyakit.

Pada pertengahan tahun 2008, Pulau Dewata digemparkan oleh kemunculan sesosok pria pengembara. Pria tengah baya itu telah melakukan pengembaraan ke berbagai daerah di nusantara. Pengembaraan membuatnya matang.

Maka tak heran, kesaktiannya jauh melampaui Ponari. Semenjak ia mempraktekkan kemampuannya tahun 2010, tercatat 2.535.886 krama Bali menggunakan jasanya. Kabar berita kesaktiannya semakin meluas— pada tahun 2011 tercatat 2.936.886 krama Bali kembali menggunakan jasanya.

Siapakah pengembara itu? Dan dengan apakah ia melayani krama Bali. Perlahan-lahan identitasnya mulai terkuak. Ia diketahui berasal dari Buleleng. Ia lahir pada 22 Juni 1951. Rupanya ia juga orang yang berhasil membongkar pelaku Bom di Legian tahun 2002.

Pria itu bernama Made Mangku Pastika. Ia menjadi Gubernur Bali sejak 2008. Dengan program JKBM (Jaminan Kesehatan Bali Mandara) sejak tahun 2010 telah mampu memenuhi hasrat masyarakat Bali akan layanan kesehatan. Kesaktian JKBM telah menyedot perhatian masyarakat Bali.

Membandingkan fenomena Ponari dan batu saktinya dengan Made Mangku Pastika dan program JKBM menjadi kajian yang menarik. Dalam kasus Ponari, kita dapatkan gambaran masyarakat yang lelah. Masyarakat yang telah putus asa.

Di mana pada saat akses medis menjadi mahal dan tak terjangkau, orang pada akhirnya lari ke jalan lain yang mudah diakses. Jalan itu bernama pengobatan alternatif. Alternatif bukan hanya pembeda dengan sebutan jalan medis, tapi juga alternatif dalam arti mudah dijangkau dan murah.

Kesehatan itu mahal harganya, sebab sakit adalah fase di mana seseorang sudah dekat dengan kematian. Walau semua sadar kematian sesuatu yang pasti, cepat atau lambat, tapi tak ada orang yang rela begitu saja mati tanpa mau berusaha mencari jalan sembuh.

Harta benda yang berlimpah tak ada guna dalam keadaan sakit. Makanan yang dikunyah pun terasa pahit, apalagi untuk naik mobil mewah. Pasti tak akan nikmat. Maka tak heran, orang rela menghabiskan hartanya untuk menyembuhkan penyakit. Lantas bagaimana dengan yang tak berharta?

Oleh karena kesehatan itu adalah kebutuhan dasar setiap orang, maka semenjak Negara Republik Indonesia ini didirikan pada tahun 1945, secara sadar dalam konstitusi dirumuskan tujuan pembentukan negara dengan kalimat “…memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…”.

Dan salah satu indikator kesejahteraan itu adalah aspek kesehatan. Berangkat dari amanat konstitusi, akses terhadap layanan kesehatan itu bukan sebuah sedekah dari negara, melainkan hak setiap warga negara. Dan menjadi kewajiban negara. Dengan begitu, mereka yang tak punya harta berlimpah sekalipun berhak mendapatkan layanan kesehatan.

Sebelum bergulirnya orde reformasi 1998, pemerintah sebagai pengurus negara abai terhadap kewajiban-kewajibannya. Pun setelah reformasi, kewajiban-kewajiban itu tak lantas disegerakan. Pemimpin yang cepat merespon kewajiban ini, sudah tentu akan bersinar terang di hati masyarakat.

Apa sebab? Masyarakat lelah. Masyarakat jenuh. Masyarakat frustasi. Layanan kesehatan yang didambakan selama ini tergantung di langit. Dan ketika pertama kali diluncurkan tahun 2010, JKBM tampak seperti bintang jatuh. Ia masuk ke bilik-bilik gelap rumah warga. Ia mengalir dan membasahi kembali harapan yang telah lama mengering.

Pemerinthan Made Mangku Pastika telah memulainya dengan angka Rp 100 miliyar pada tahun 2010 untuk 2.535.886 jiwa. Kemudian merangkak naik ke angka Rp 104,272 milyar di tahun berikutnya untuk 2.936.886 jiwa.

Gerakan angka yang menanjak adalah gerakan eforia masyarakat terhadap hadirnya kembali harapan yang telah lama hilang. Jika hari ini masih sebatas layanan kelas III untuk rawat inap di rumah sakit. Sekiranya perlu dipertimbangkan untuk dinaikan ke kelas-kelas berikutnya.

Lebih baik pemerintah kecil menggunakan anggaran untuk sektor lain, lantas besar untuk anggaran kesehatan. Begitu lebih dicintai masyarakat. Masyarakat sudah biasa bertahan mencari nafkah dalam kondisi sesulit apa pun, tapi urusan kesehatan, pemerintah harus lebih besar mengambil porsi.

Daya tarik JKBM hari ini telah menggantikan kesaktian batu ajaib Ponari dengan memberikan harapan sebenar-benarnya. Bukan takhayul apalagi mimpi kosong. Angka pengguna JKBM yang meningkat dari tahun ke tahun memang sering dipelintiir sebagai rendahnya derajad kesehatan.

Tetapi tanjakan jumlah itu adalah luapan jumlah masyarakat yang gembira meraih kembali hak-haknya. Jika dulu orang sudah sampai kejang-kejang akibat malaria sekalipun, nggan ke rumah sakit untuk berobat. Sebab biaya mahal bergentayangan. Lebih menyakitkan ketimbang penyakit yang diderita. Sekarang? Mulai flu sedikit saja, orang langsung berobat ke rumah sakit. Berkat JKBM.

Di mana ada kebaikan, di situ ada keburukan. Di mana ada dharma, di situ ada adharma. Semua berpasang-pasangan. Begitu pula dengan JKBM. Meski ia telah diterima oleh masyarakat secara meluas dengan riang gembira, tetapi ada saja pihak-pihak yang tak merasa senang.

Bahkan secara sengaja bermaksud menghambat dengan cara-cara yang tak terhormat. Tetapi, seperti kata orang bijak, kebaikan berpasangan dengan keburukan adalah sebagai penyeimbang agar kebaikan tidak menjadi sombong. Keburukan harus dimaknai sebagai pengingat agar kebaikan tak lupadiri.

Seorang anak berlari tergopoh-gopoh. Hujan menghadang langkah kakinya, namun ia tak surut sedikit pun. Ia terus berlari menembus batas kelam kehidupan. Di benaknya ada kegalauan bersemayam, semenjak ayah tercinta gelap melihat dunia.

Bocah sekecil itu berusaha mencari secercah cahaya untuk dipersembahkan kepada sang ayah tercinta. Agar sang ayah kembali terang melihat dunia. Langkah kakinya terhenti di hadapan seorang pria tengah baya. Diadukan segala kegundahan hati dan derita sang ayah.

Esok hari, sang ayah kembali terang melihat dunia usai menjalani operasi katarak. Semua itu berkat perhatian dan kepedulian seorang pria tengah baya yang ditemui sang anak. Pria itu tak lain adalah Gubernur Bali, Made Mangku Pastika. (Terispirasi dari video sosialisasi JKBM di youtube).

JKBM telah hadir menghiasi senyum krama Bali. Dan kita semua tentu menginginkan agar senyuman itu tak berakhir sampai kapan pun. Tidak lekang oleh perbedaan pandangan politik. Tak sirna oleh kepentingan sesaat. Sebab kesehatan adalah milik kita semua. Dan kita ingin anak cucu kita mendatang juga tetap tersenyum. Ilusi sehat ala Ponari, cukup sudah! Semoga.

Gambar: Facebook Mangku Pastika

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon