Sabtu, 04 Mei 2013

Mengenang Karya Fredy S

Beberapa karya Fredy S.
Pulang sekolah memang menjadi waktu-waktu terindah untuk dikenang. Beramai-ramai kami berjalan kaki dari sekolah (SMK N 1 Bima) menuju Alun-alun Istana Bima. Di alun-alun itu menjadi titik perpisahan kami sebelum menaiki bemo kota dengan jurusan masing-masing.

Sebelum sampai di alun-alun, kami akan melewati kawasan pertokoan. Saat melewati pertokoan itulah, saya dan teman-teman menyelinap keluar dari kerumunan menuju lapak buku-buku tua.

Tahap awal kami pura-pura membuka-buka buku yang lain. Tahap selanjutnya, perlahan tapi pasti, kami meraih karya-karya Fredy S. Kami memang terkesan nakal pada waktu itu. Tapi berkat novel-novel Fredy S itulah, disadari atau tidak—kami akhirnya mempunyai kebiasaan membaca.

Guru-guru di sekolah memang selalu berceramah agar siswa harus rajin membaca. Kami rajin memmbaca bukan karena terang-benderang oleh ceramah-ceramah itu. Tapi rasa penasaran akan sesuatu yang tak pernah kami lihat dan rasakan. Karya Fredy S menuntun jalan kami.

Kami tak pernah membeli novel-novel Fredy S, sebab di sekolah selalu diadakan razia rutin sekali seminggu. Seluruh murid disuruh keluar ruangan dengan meninggalkan seluruh barang-barang di atas meja, kemudian guru BP (Bimbingan Penyuluhan) akan mengeledah barang-barang bawaan kami.

Bagi yang kedapatan membawa barang-barang terlarang, seperti: senjata tajam, minuman keras, narkoba, rokok, atau buku-buku terlarang pasti akan berurusan panjang dengan guru BP. Dan, novel Fredy S menjadi salah satu buku terlarang.

Jadi, kami tak berani membeli karya-karya Fredy S. Kami kemudian mempunyai siasat agar tetap bisa mengikuti kisah-kisah dewasa dalam novel Fredy S. Pada kunjungan pertama, masing-masing menentukan satu novel.

Kami membacaya beberapa halaman sampai bosan. Kemudian memberikan sedikit lipatan sebagai batas penanda yang telah kami baca. Esok harinya kami akan datang lagi melanjutkan bacaan.

Begitu seterusnya sampai kami tuntas membaca satu novel Fredy S, kemudian berpindah ke novel Fredy S berikutnya.

Agar tetap bisa nyaman membaca Fredy S, tanpa menunggu diusir oleh penjual buku, sesekali kami patungan membeli buku-buku yang lain. Kalau tak membeli buku, poster Bon Jovi, Gun N’ Roses, Michael Jackson, atau si seksi Demi Moore bisa jadi alternatif.

***
Dulu, sewaktu duduk di bangku SMA, saya dan teman-teman sering menyamparinya di lapak lusuh pinggiran toko Kota Bima. Kami mampir sebentar demi menuntaskan rasa penasaran yang kemarin. Menyimak cerita-ceritanya membuat dada kami berdebar-debar kencang. Begitu terjadi hampir setiap hari, sepulang sekolah.

Kini, setelah belasan tahun saya melewati segala kenangan itu—dalam situasi tak disengaja, saya bertemu kembali dengan Fredy S. Dalam sebuah perjalan dari Pulau Lombok menuju Pulau Bali, di atas kapal penyeberangan, setelah saya bosan membolak-balik halaman koran, seorang pria tengah baya mendekat ke arah saya.

Pria itu membawa setumpuk buku di gendongannya. Beberapa buku tentang resep memasak, primbon mimpi, tuntunan sholat dan kumpulan khotbah jum'at. “Ada yang lain, Pak?” tanya saya. “Oh, ada. Sebentar saya ambilkan dulu,” jawab pria itu.

Tak lama berselang pria itu kembali dengan tumpukan buku. Dari jauh saya memandangi rupa buku yang dibawa pria itu. “Rasa-rasanya kok tak asing, yah?” gumam saya dalam hati.

Ukuranya, jenis kertasnya, dan tentu saja ilustrasi sampulnya sangat khas. Yah, ternyata pria itu menyodorkan kembali tumpukan karya-karya Fredy S di hadapan saya.

Awalnya saya menampik tawaran si penjual buku. Saya sudah bisa menebak alur cerita apa yang disuguhkan dalam novel-novel Fredy S. “Paling-paling cerita yang tak jauh dari adegan-adegan panas, gaya bercinta orang dewasa,” lagi-lagi saya bergumam dalam hati.

Apalagi saya baru saja menyelesaikan bacaan “20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas”. Orang-orang mengatakan 20 cerpen itu karya sastra tingkat tinggi. Karya yang telah diseleksi secara ketat oleh dewan juri.

Bagi saya saat itu, Fredy S hanyalah masa lalu. Setidaknya segala cerita yang membuat penasaran itu telah terkuak digantikan berbagai situs-situs yang menawarkan adegan dewasa. Atau saya telah melewati masa-masa penasaran itu dengan hasil dua orang anak.

“Saya ambil yang ini, Pak,” ajar saya. Akhirnya rasa penasaran saya yang lain membuat saya mengambil salah satu novel berjudul “Gadis Karaoke”.

Harga murah tentu saja. Dengan 10 ribu rupiah saya mendapat tiket menelusuri jejak-jejak penasaran yang lain. Apa kabar Fredy S hari ini? Masihkah dia seperti yang dulu? Lembaran-demi lembaran saya lahap dengan rakus dalam syahwat penasaran.

Belum sampai setengah perjalanan penyeberangan Lembar—Padangbai, seluruh isi novel Fredy S “Gadis Karaoke” setebal 128 halaman, tuntas sudah.

Entah di novel-novel baru Fredy S. yang lain, di “Gadis Karaoke” saya menjumpai Fredy S yang berbeda. Tak satupun dalam alur cerita yang memaparkan adegan-adegan yang dulu membuat saya penasaran.

Mungkinkah Fredy S telah berubah, seiring dengan tekanan regulasi yang melarang keras praktek pornografi? Atau Fredy S mungkin saja sudah “bertaubat”? Saya pun terbentur pada dinding gelap, tanpa jawaban.

Segelap dan seremang kisah dalam novel-novel Fredy S yang dulu saya dan kawan-kawan jamah diam-diam.

Gambar: Google Image

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon