Kamis, 11 April 2013

Kuda Tuli

Di negeri bernama Padang Safana hiduplah warga kuda. Warga kuda sangat giat bekerja. Setiap pagi mereka mendaki bukit dan menjelajahi padang rumput untuk mencari makan. Sore hari pulang ke rumah masing-masing. Warga kuda hidup rukun dan damai di bawah perlindungan Raja Kuda yang perkasa.

Setiap tahun, Raja Kuda selalu mengadakan lomba lari untuk melatih ketangkasan warga. Peserta loba diperuntukkan bagi kuda-kuda remaja beranjak dewasa. Raja Kuda selalu berpesan kepada warganya untuk selalu meningkatkan kemampuan berlari. Warga kuda terkenal sebagai bangsa pelari ulung.

Pada loba lari di tahun-tahun sebelumnya, peserta wajib mengitari perkampungan kuda sebanyak tiga kali. Siapa yang paling cepat, dia memenagangkan perlombaan. Sang juara akan mendapatkan sejumlah hadiah dari Raja Kuda. Selain piala tetap, pemenang akan diangkat sebagai angota pangawal kerajaan.

Pada perlombaan kali ini, Raja Kuda membuat aturan berbeda. Peserta lomba akan melewati rintangan yang teramat berat. Pada tahap pertama, peserta akan mengitari perkampungan sebanyak sepuluh kali. Tanpa boleh istirahat, peserta kemudian harus mendaki bukit terjal dengan menarik gerobak bermuatan penuh. Siapa sanggup sampai lebih awal di puncak bukit, Raja Kuda akan memberikan hadiah khusus. Hadiah itu dirahasiakan. Raja Kuda hanya akan mengumumkan dan menyerahkan hadiah bila benar-benar ada pemenang.

***
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Perlombaan akan segera dimulai. Di halaman kerajaan Negeri Padang Safana telah dipenuhi warga kuda. Selurauh Kedutaan Besar bangsa hewan pun mendapat tempat di tribun utama. Mereka jadi tamu kehormatan Raja Kuda. Di deretan depan, tanpak duta bangsa kelinci, duta bangsa kura-kura, duta bangsa harimau, duta bangsa gajah, duta bangsa banteng, duta bangsa jerapa, dan juga duta bangsa tikus. Mereka membicarakan kehebatan Raja Kuda yang agung.

Perlombaan tahun ini sungguh luar biasa. Berbagai kesenian khas bangsa kuda disajikan untuk memeriahkan perlombaan. Tari kuda lumping jadi sajian utama yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga kuda. Tapi belakangan ini, kesenian tradisional itu mulai luntur dan kalah tenar dibanding tarian Oppa Ganam Style yang dipopulerkan oleh bangsa Kuda Putih.

Peserta lomba mulai memasuki arena. Mereka kuda-kuda muda terpilih—bertubuh tinggi, otot kekar dan berbulu indah. Sesekali ada yang jingkrak-jingkrak sambil bersorak, “nghi hi hi hi....”. mereka saling memamerkan kebolehan. Penonton sepanjang lintasan berteriak menyanjung jagoan masing-masing.

Di antara puluhan peserta lomba, tampak seekor kuda berpenampilan ganjil. Badannya kurus, pendek, berbulu lusuh dan bergerak lamban. Tak pelak, ia sangat jauh dari kriteria peserta lomba umumnya. Peserta lomba dan penonton mencemooh kehadiran Si Kurus.

“Waduh, Mas Bro... Jangankan untuk ikut lomba, jadi penonton aja kayaknya udah semaput duluan tuh. Hi hi hi hi....,” ujar salah satu peserta lomba, disambut gelak tawa penonton. Tapi, Si Kurus tak lantas putus asa. Ia tetap berjalan santai dan melempar senyum pada penonton.

Panitia lomba menghetikan Si Kurus sebelum sampai di garis awalan. Ia dianggap tak pantas dan hanya jadi bahan umpatan penonton. Rasanya memalukan bila dilihat oleh para Duta Besar bangsa lain. Tapi Si Kurus tetap berkeras hati, ngotot ingin ikut lomba. Terjadiah kerusuhan kecil di situ.

Kejadian itu ternyata menyita perhatian Raja Kuda. Kemudian, Raja Kuda yang bijaksana memerintahkan panitia agar membiarkan Si Kurus tetap masuk arena. “Di sini bukan tempat untuk menentukan pemenang. Di puncak bukit itu kita akan lihat siapa yang akan sampai,” ungkap Raja Kuda penuh wibawa.

Raja Kuda memukul gong sebanyak tiga kali, lomba lari dimulai. Peserta berpacu berebut yang terdepan. Si Kurus terhuyung-huyung, terdesak oleh peserta lain yang unggul secara fisik. Tapi Si Kurus tak pernah patah semangat. Ia terus memacu langkah meski mulai tertinggal oleh peserta lain.

Pada putaran ke-tiga, beberapa peserta sudah mulai berguguran. “Akh! Tak mungkin ada yang bisa sampai ke puncak bukit. Baru tiga kali putaran saja, mereka sudah kewalahan,” ungkap penonton. “Iya, yah. Rintangan ini benar-benar mustahil untuk ditaklukkan,” kata penonton yang lain.

Beberapa peserta pun tampaknya mulai mempertimbangkan pendapat penonton. Mereka akhirnya memilih keluar lintasan. Mereka berpikir: dari pada buang-buang tenaga, padahal sudah bisa dipastikan tak mungkin ada yang bisa menang, lebih baik berhenti sekarang saja. Mungkin raja Kuda akan membuat aturan baru yang lebih ringan.

“Waka ka ka ka.... Hai, Kurus! Emangnya kamu mau mati dalam lintasan, yah? Tahu dirilah. Kuda-kuda tangguh saja memilih istirahat. Sudah, istirahat sini!” cemooh penonton pada Si Kurus. Sepanjang lintasan, Si Kurus selalu mendapat kata-kata serupa. Tapi Si Kurus senyum-senyum saja. Ia terus berlari tanpa menghiraukan kata-kata penonton.

Tahap pertama, putaran ke-sepuluh, tinggal lima peserta yang bertahan. Salah satu peserta tampak Si Kurus berlari terengah-engah. Sebagaimana aturan Raja Kuda, peserta yang lolos sampai putaran sepuluh tak boleh istirahat. Mereka harus langsung memasang grobak di punggung dan lari menuju puncak bukit. Dengan kondisi tergopoh-gopoh, kelima peserta yang tersisa memasang tali pengait gerobak di punggung. Mereka kemudian berusaha berlari mendaki bukit. Langkah kaki terasa berat.

Jarak puncak bukit belum separoh, kondisi lima peserta teramat lelah. Penonton lagi-lagi berkomentar, ”Sudahlah, tidak mungkin kalian bisa sampai di puncak bukit.” Empat peserta akhirnya benar-benar kandas di tengah jalan. Tapi ada satu peserta yang memilih bertahan. Ia terus berusaha mendaki bukit. Akhirnya dia sampai di puncak bukit. Peserta itu ternyata Si Kurus yang diremehkan.

Seluruh penonton bertepuk tangan atas keberhasilan Si Kurus. Raja Kuda dan para pengawal segera menuju puncak bukit untuk memberikan ucapan selamat pada pemenang. Di atas bukit, Raja Kuda memberi sambutan.

“Sebagaimana kalian mengagumi sang pemenang, saya pun sungguh mengaguminya. Sengaja saya membuat aturan yang teramat berat. Dengan begitu, saya dan kita semua telah menemukan calon yang tepat sebagai pengganti saya. Siapkan upacara pelantikan untuk raja kita yang baru.” ungkap Raja Kuda.

Tak lama berselang, seekor kuda betina mendekat. Ia tak lain adalah ibu dari Si Kurus. Kuda betina itu bercerita kepa Raja Kuda bahwa anaknya itu tuli sejak lahir. Walau Si Kurus tuli, ia tetap dilantik sebagai Raja Kuda yang baru, mengggantikan Raja Kuda yang lama. Sebab berdasarkan petunjuk yang diperoleh Raja terdahulu, syarat raja baru adalah siapa yang bisa mencapai puncak bukit. Tak ada syarat lain.

Sejak saat itu negeri padang Safana dipimpin oleh Raja Kuda Tuli. Seluruh rakyat Padang Safana mengagumi rajanya. Bangsa kuda dan bangsa-bangsa lain mengampil pelajaran dari situ.

Denpasar, 11 April 2013

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon