Jumat, 05 April 2013

Di Bawah Naungan Kubah

Aku berjalan menelusuri jejak kota
Sang Maha dikerdilkan dalam pot-pot mungil
jadi bonsai pemanis—wajah kota beranjak dewasa

Sang Maha disalib di pojok-pojok jalan utama
terpampang berebut ruang
laksana papan pariwara
cari perhatian untuk dipilih

Wajah langit bermuram durja
ratapi laku kota makin genit
parade bulan sabit dan bintang
berlomba menuding angkasa

Pilar dan kubah ditegakkan
kardus dan drum jadi andalan
di jalan raya menjaring iba

di lorong-lorong sempit malam buta
kelelawar burkumpul susun strategi
mata merah teguk racikan
agar tak gentar hadapi malu
pagar rapuh jadi incaran

pengemis tua jadi santapan
nasib malang menjemput ajal
pengintai penyebar racun beraksi

dua penjual obat dibakar amarah
tumbal musim hidup tak menentu
nyawa manusia jadi sasaran

seorang bapak tak berdosa
di negeri air kehidupan
dipaksa tutup usia
korban main hakim bersama

matahri tak bergeming
bulan sabit menahan malu
bintang kurus kehabisan dalil
pilar dan kubah menjadi nisan

negeri sejuta kubah dicekam kegelapan
setiap mata memandang curiga
juru terang sibuk berebut tahta
matahari disembunyikan di bawah atap rumah sendiri

Kediri, 5 April 2013


Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon