Kamis, 28 Maret 2013

Warisan

Alkautsar, anakku bertanya:
warisan apa yang kau tinggalkan untukku, ayah?
puisi-puisi ini, anakku.

Tak ada lagikah, ayah?
Cerpen-cerpen ini, anakku.

Hanya itukah, ayah?
Tidak. Ada lagi. Esei-esei ini, anakku.

Tapi puisi tak dapat dimakan, ayah!
Kata akan mengajari kau makna.
Makna membersihkan yang kau makan, anakku.

Tapi cerpen tak bisa untuk belanja, ayah!
Dalam cerita engkau akan belajar.
Belajar tentang apa-apa yang perlu dan tak perlu kau belanja.

Dan esei-esei tak membuat wanita jatuh hati padaku, ayah!
Esei penuntun masa depan.
Wanita selalu berfikir untuk masa depan, anakku.

Lantas apa yang akan kuberikan pada wanita pujaanku, ayah?
Dongeng-dongen ini, anakku.

Dongeng tak membuatnya senang, ayah?
Keinginannya melebihi dongeng.
Dongengkan dia setiap saat, agar dia merasa lebih, anakku.

Terimakasih, ayah pandai merangkai kata.
Karena itulah ibumu senang, anakku...

Sie, 28 Maret 2013


Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon