Jumat, 01 Maret 2013

Tentang Kehidupan

Ilustrasi

Kehidupan telah dimulai entah berapa juta tahun yang silam. Namun, anehnya belum aku temukan sebuah penjelasan pasti tentang arti dan makna kehidupan. Terlalu banyak dan terlalu rumit untuk menciptakan sebuah definisi tentang kehidupan.

Para ahli biologi pun mengartikan kehidupan hanya sebatas hidup. Yah, hidup yang hanya nampak dari segi fisik– bernafas, bergerak dan berkembang biak adalah adanya tanda-tanda kehidupan.

Hanya sebatas itukah arti kehidupan? Tidak! Karena seandainya manusia yang mesti menerima pengertian itu dia tidak akan puas. Atau setidak-tidaknya bagi aku. Hidup ini terlalu kompleks dan semakin rumit.

Untuk memberikan sebuah pengertian tentang hidup mari memulainya dari proses adanya diri. Pertama-tama kita dilahirkan ke dunia. Dalam proses prakelahiran adalah masa-masa sulit untuk dijelaskan. Adakkah jiwa telah ada mendahului raga? Adakah jiwa pernah ada pada jiwa-jiwa yang telah mati sebelumnya?

Sungguh rumit untuk dijelaskan, karena jiwa yang sekarang adalah jiwa yang mencari pengertian itu. Seandainya jiwa itu ada sebelum raga dan jiwa itu meninggalkan secarik catatan kecil tetang identitasnya, mungkin tidak tetrlalu sulit untuk menelusuri asal-usul dan identitas jiwa.

Satu hal lagi yang perlu dipertanyakan, akankah jiwa yang sekarang akan terus mencari hakikatnya setelah ia pergi meninggalkan raga yang sekarang. Ukh...... andai saja kita mampu menembus batas ruang dan waktu, setidak-tidaknya tak terlalu banyak hal yang akan dipertanyakan. Kita ada dalam satu waktu dan satu ruang.

Bilakah jiwa tercipta bersama raga, tidak akankah jiwa juga akan lenyap bersama kematian raga? Adalah sebuah misteri sepanjang jaman tentang kematian. Banyak referensi yang mengatakan bahwa jiwa abadi adanya.

Menurutku, sesuatu yang abadi tidak akan ada kelahiran. Hanya zat Tuhan sajalah yang abadi. Aku pun tidak berani memberikan sebuah jaminan akan keabadia jiwa. Karena bila ia abadi tentu saja akan menyaingi zat Tuhan.

Yah, Tuhan yang telah menciptakan jiwa-jiwa itu. Kenapa aku mengatakan hal yang demikian, karena aku tidak ingin ada Tuhan-Tuhan yang lain.

Bila misteri kehidupan terus kita renungi dan mencoba untuk menyingkap tabir gelap yang selama ini tertutup rapat, tak akan pernah ada akhir yang memuaskan. Jiwa akan terus mencari jati dirinya meskipun raga telah jenuh.

Selama ini, aku rasakan jiwa tak akan mampu untuk berpisah dari raga. Keduanya masih seperti sepasang kekasih yang telah terikat dalam sebuah jalinan abadi. Pasangan yang benar-benar setia sehidup semati.

Kematian salah satu diantaranya adalah kematian bersama. Kematian raga juga berarti kematian jiwa. Tidak akan ada perselingkuhan. Satu jiwa adanya hanya untuk satu raga. Tidaka akan ada perselingkuhan jiwa atau perselingkuhan raga. Jiwa yang satu tidak akan pernah bersemayam dalam raga yang lain atau sebaliknya.

Selanjutnya mari kita telusuri petualangan jiwa dalam rimba kehidupan dunia. Namun, sebelumnya mari kita membahas terlebih dahulu tentang batasan-batasan pengertian dunia. Dalam istilah geografi dunia berarti globe atau bumi. Misalkan kita selalu menyebut bola dunia yang berarti sebuah miniatur planet yang dihuni oleh manusia dan mahluk-mahluk bumi lainnya.

Dalam membahas mengenai jiwa yang mencari batasan-batasan pengertian dunia tidak diartikan dunia dalam pengertian fisik. Dunia adalah batasan antara kelahiran atau kehadiran manusi di tengah-tengah mahluk bumi lainnya melalui proses kelahiran. Dan bila ia telah melewati proses kematian, maka berakhirlah kehidupannya.

Dalam realita yang aku lihat, kehidupan begitu tergambar dengan sangat sederhana. Pertama-tama manusia melewati proses kelahiran dari jiwa dan raga yang lain. Di sini jiwa begitu tidak bebas. Jiwa tidak boleh memilih dari mana ia harus dilahirkan, ia hanya menuruti tanpa harus ikut merencanakan.

Setelah jiwa manusi terlahirkan bersama raga maka mulailah ia meraba-raba akan identitas dirinya sebagai sorang bayi. Proses selanjutnya adalah melewati masa kanak-kanak. Dalam proses ini ia selalu bertanya-tanya apa ini dan apa itu.

Mengapa begini dan mengapa begitu. Dari mana ini dan dari mana itu, serta berbagai macam pertanyaan lainnya selalu muncul, karena ia selalu mencari-cari jawaban dari sesuatu yang janggal pada dirinya maupun pada lingkungan di sekitarnya.

Selanjutnya manusia melewati masa remaja. Masa ini adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Masa remaja dalam kehidupan adalah masa yang masih sangat labil. Segala sesuatu belum mampu diputuskan berdasarkan pertimbangan yang rasional. Keputusan-keputusan masih diwarnai oleh dominasi emosional.

Pada masa setelah manusia dewasa segala sesuatu mulai diputuskan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Manusia dewasa selalu merasa dirinya independen, dalam artian segala sesuatunya harus mampu diputuskannya sendiri tanpa ikut campur orang lain. Saran dari orang lain hanyalah sebagai referensi saja.

Manusia hanyalah berati bila berada di tengah-tengah manusia lainnya. Karena kemanusiaanya diperoleh dari legitimasi manusia lainnya. Karena itu manusia selalu punya hasrat untuk berada dan bergaul dengan manusia laninya. Karena diciptakannya manusia yang dilengkapi dengan segala macam nafsu.

Selanjutnya yang aku perhatikan, umumnya manusia dewasa akan menikah. Menikah adalah mengikat diri dalam sebuah jalianan yang sah menurut legitimasi hukum maupun legitimasi agama yang dipercayaiinya.

Menikah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan seksual dan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang memerlukan kerja sama. Atau dalam pengertian ekonomi menikah ini juga bermanfat sebagai bentuk kerja sama untuk membangun kekuatan ekonomi bersama.

Setelah menikah lalu punya anak, selanjutnya punya cucu atau kalaupun umurnya lebih panjang maka ia punya kesempatan untuk melihat cicit. Kemudian jadilah ia seorang lansia (manusia lanjut usia). Masa lansia adalah masa-masa untuk menunggu kematian.

Sebagai catan yang aku lihat bahwa rata-rata usia manusi paling banter 90 tahun. Selanjutnya tamatlah riwayat manusia dalam kehidupan dunia. Selanjutnya terserah Anda dalam menafsirkan apa itu kehidupan......!??

Ilustrasi: flickr.com

Dari Catatan Harian: Denpasar, 21 Juli 2003.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon