Rabu, 20 Maret 2013

Serdadu Jamur

Ilustrasi anak desa
Subhan belum genap empat tahun. Kaki mungilnya lincah melangkah. Sesekali tangan kecil Subhan meretas belukar perintang jalannya. Di antara jemarinya aku lihat terselip kantong palstik kecil berwarna hitam. Bila Subhan mendapatkan buruan, ia segera menaroh dalam kantong plastik.

Tak ada kekhawatiran tergambar dari mukanya yang lugu-- meski ia seorang diri. Tak ada ketakutan menghadang langkahnya-- meski ia kecil. Subhan terus menyusup di antara semak belukar berburu jamur. Semangat petualang yang terinspirasi dari film-film kartun yang ia tonton, menebalkan semangat juang Subhan.

“Paman.....,”tiba-tiba aku mendengar teriakan Subhan. Dalam seper-sekian detik otakku memuntahkan banyak pertanyaan. Apa yang terjadi pada Subhan? Adakah bahaya sedang mengancam keselamatannya?

Ternyata benar! Otak orang dewasa itu, sudah terlalu banyak terkontaminasi oleh perasaan dan pikiran buruk. Ini terbukti, Subhan tampak tersenyum. Ekspresinya bak seorang Leonel Messi saat mengangkat tropi pemain terbaik dunia. Muka Subhan berseri-seri. Ia menganggkat kedua tangannya di atas kepala. Kedua telapak tangan mungil Subhan mengapit jamur selebar songkok orang dewasa.

“Wah... Hebat!” kataku memuji keberhasilan Subhan. Intonasiku tak begitu kuat, sebab pujian itu sekaligus ekspresi mengaburkan rasa khawatir sebelumnya.

Tak lama kemudian. Setelah Subhan mendapatkan buruan besar, sekelompok anak-anak kecil datang. Mereka juga “serdadu jamur” seperti Subhan. Meski sama-sama serdadu jamur, tapi kedisiplinan dan hasil buruan berbeda. Subhan lebih rajin bangun pagi. Sehingga ia leluasa mendapat buruan besar.

Berturut-turut, sekelompok serdadu jamur dari kampung berlainan datang mencari buruan. “Bagai jamur tumbuh di musim hujan...” ungkapan ini sebuah perumpamaan untuk jumlah berlipat ganda dalam waktu cepat. Aku ditantang kenyataan, bahwa di hadapanku memang nyata jamur-jamur yang tumbuh di musim hujan. Jumlahnya berlipat ganda, tak habis diburu sehari dua hari oleh serdadu jamur. Aku tak berhasil menemukan kalimat tepat, bagaimana aku mengungkapkan ketakjupanku.

“Tahun ini belum seberapa. Tahun lalu bukan hanya anak-anak dari kampung sebelah, anak-anak dari desa sebelah pun kemari berburu jamur,” ungkap Guru Rao, pemilik kebun sebelah. Ia memang sering menyampari aku di kebun. Ia adalah saksi perubahan alam dan lingkungan sekitar.

Tampaknya, bagi Guru Rao, menemukan aku sebagai penyimak kisahnya, laksana menemukan kertas dan pulpen untuk menuliskan perubahan dari waktu ke waktu. Termasuk alih fungsi lahan sawah dan kebun menjadi pemukiman: bagai jamur di musim hujan.

“Gubruakkkkkk!!!” tiba-tiba suara keras menghentak perhatian aku dan Guru Rao. Kami yang tengah asyik bernostalgia tentang pohon mangga besar yang dulu rindang, kini telah musnah sampai ke akar-akarnya dihantam galian fondasi rumah Pak Lukman. Suara itu ternyata muntahan batu kali dari sebuah dam truk-- Dae La Ami, pemilik lahan sawah di samping Pak Lukman itu akan membangun rumah.

“Mau bangun di mana lagi? Di perkampungan sudah penuh rumah. Sayang sih, sayang, lahan sawah dibangun rumah,” ungkap Dae La Ami suatu waktu, ketika aku iseng menanyakan rencana alih fungsi sawahnya menjadi bangunan rumah.

“Seandainya pemerintah mau meratakan lahan kritis di kaki bukit Oi Langawu itu. Pemerintah sediakan aliran listrik dan aliran air bersih. Terus ramai-ramai masyarakat diajak bangun rumah di sana, pasti orang rebutan. Hanya orang gila yang mau menghancurkan sawahnya. Tapi, jangankan kita, masyarakat biasa, pemerintah daerah aja sudah menghancurkan puluhan hektar lahan sawah untuk membangun komplek kantor Pemda di wilayah Godo, ” ujar Dae La Ami. Ia berdalih membenarkan tindakannya.

Guru Rao kini 80 tahun. Subhan belum genap empat tahun. Usia keduanya terpaut jauh. Tapi ada aku yang belum genap 34 tahun, jembatan sejarah dan peristiwa di antara keduanya. Serdadu jamur menghilang bukan lantaran Subhan dewasa. Menjamurnya tiang-tiang beton tak kenal musim, dan kekhilafan kolektif kita terhadap lingkungan yang disengaja, adalah pemusnah serdadu jamur.

Subhan pulang membawa sekresek jamur buruannya. Ia tampak seperti serdadu menang perang, ia pulang dengan bangga—mempersembahkan setumpuk jamur kepada ibunya. Halimah, ibu Subhan yang semenjak tadi berharap-harap cemas, bergegas menyiapkan bumbu dan daun pisang.

Jamur buruan Subhan dipepes Halimah untuk disantap sekeluarga. Keluarga Subhan tersenyum bahagia. Senyum itu entah untuk berapa musim. Sebab di musim hujan tahun depan, serdadu jamur belum tentu menemukan medan perburuannya.

Di suatu pagi belum terlalu terang. Awalnya samar-samar. Lama-lama semakin jelas. Aku lihat Subhan kecil, anak tetangga, berjalan ke arahku. Aku sedang memangkas belukar di kebun tak jauh dari rumah. Di musim hujan seperti ini, dua tiga hari saja ditinggal, belukar tumbuh cepat. Sebulan ditinggal, kebun berubah jadi setengah hutan.

ilustrasi: flickr.com

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon