Minggu, 24 Maret 2013

Pil Kades

Mendadak, Sudirman uring-uringan. Kepala Desa Sukaduit ini menderita sakit kepala akut seminggu belakangan. Ia kerap membating-bantingkan kepala di atas bantal. Sesekali meronta-ronta seperti orang mengamuk. Pak kades mengerang kesakitan.

Istrinya Habibah jadi panik. Habibah sudah melakukan berbagai upaya pengobatan demi kesembuhan suami tercinta: Mulai dari pengobatan tradisional sampai upaya medis, semua sudah Habibah lakukan. Tapi dukun dan dokter selalu mengatakan hal yang sama, “Tak ada penyakit diderita Sudirman.” Habibah semakin bimbang. Habibah tambah bingung.

Warga Desa Sukaduit menjadi kesal pada Kades Sudirman. Pembagian Raskin di balai desa jadi terhambat gara-gara Sudirman sakit. Tukang yang mengerjakan perbaikan balai desa belum dibayar. Gaji tenaga honor di Kantor Desa masih nunggak. Proposal permohonan bantuan dana pertandingan bola plastik, belum ditanggapi. Surat keterangan miskin warga yang ingin berobat di Rumah Sakit Umum Daerah, numpuk di meja Pak Kades. Semua urusan jadi macet.

Tapi ada juga yang senang mendengar Kades sakit. “Syukurin....syukurin. Ini berita baik. Mudah-mudahan Kades sakit terus sampai akhir bulan ini,” kata Abubakar pada pendukungnya.

Pemilihan kepala desa akan berlangsung empat belas hari lagi. Abubakar adalah satu-satunya penantang yang akan bertarung dengan Sudirman dalam pemilihan nanti. Selama ini belum ada yang berani menantang Sudirman. Sebab dalam pemilhan kepala desa sebelumnya, Sudirman meraih kemenangan di atas 70 porsen.Sudirman disegani kawan maupun lawan politik di desanya.

Tim pemenangan Abubakar semakin percaya diri. Berita kesakitan Sudirman bak santapan besar bagi Tim Abubakar. Berbagai isu menyudutkan Sudirman dihembuskan. Kemarahan warga diarahkan pada isu anti Sudirman. Hasil analisa kalangan mahasiswa Desa Sukaduit memprediksi: keberuntungan berpihak pada Abubakar. Angka 70 porsen untuk Abubakar, 30 porsen untuk Sudirman.

Abubakar kini tak segan lagi mencurahkan segala pengorbanan. Sepuluh ekor sapi, sepetak tanah sawah seluas 32 are telah ludes dijual. Sebuah sepeda motor bapaknya kini dalam tahap nego dengan calon pembeli.

“Walau kita hancur dan habis, kita hancur dan habis sekalian. Asalkan itu untuk kemenangan, tak mengapa,” kata Abubakar pada timnya saat pertemuan terakhir.

Sementara Tim Pemenangan Sudirman tampak layu. Kondisi Sudirman semakin mengenaskan. Terkadang ia suka mengigau dan tertawa sendiri. “Pil Kades... pil kades... pil kades.... ha ha ha....” begitu kata-kata Sudirman saat tertidur. Dukun desa menerjemahkan kata-kata Sudirman itu sebagai bentuk kekhawatirannya pada pemilihan kepala desa yang tinggal dua hari lagi.

Posko Sudirman sepi. Hanya kursi-kursi kosong tampak tak beraturan. Beberapa orang telah berpindah ke kubu sebelah. Tim inti dari keluarga dekat saja masih tertinggal. Seluruh keluarga pasrah pada nasib Sudirman. Ada yang menduga, Sudirman sakit lantaran diserang oleh kubu Abubakar dengan ilmu hitam. Keluarga berharap, Sudirman sembuh, walau tak menang dalam pemilihan kepala desa.

“Pada waktunya nanti, Sudirman akan sembuh. Menurut petunjuk yang aku peroleh melalui mimpi tadi malam, ada orang asing yang akan datang. Orang asing itu datang dengan sebuah bungkusan. Dalam bungkusan itu berisi semacam obat untuk menyembuhkan Sudirman. Beberapa jam setelah Sudirman meminum obat itu, dia langsung sembuh,” kata dukun. Ramalan dukun sedikit menghibur hati keluarga Sudirman.


***
Pada malam pemilihan, suasana Desa Sukaduit ramai. Tua muda keluar rumah. Warga desa tetangga juga turut meramaikan. Beberapa pedagang makanan dadakan muncul. Warga memasang lampu penerang di setiap sudut gang. Puluhan mobil berjejeran dipinggir jalan. Panitia telah menyiapkan tempat pemilihan di depan balai desa.

Di rumah Abubakar tak kalah ramai. Keluarga dekat, keluarga jauh, teman-teman, dan Tim Abubakar berkumpul malam itu. Tak tangung-tangung, dua ekor kambing dipotong untuk menjamu tamu yang datang. Pertemuan malam itu lebih tepat dibilang pesta kemenangan Abubakar. Semua sangat yakin, Abubakar akan meraih kemengan besar besok.

“Jangankan menang dalam pertarungan pemilhan, untuk bertarung dengan penyakitnya saja, Sudirman sudah keok duluan. Wua ha...ha...ha....,” ungkap Abubakar pada hadirin. Hadirin menyambut kata-kata Abubakar dengan tawa terbahak-bahak. Mereka menertawakan nasib apes diderita Sudirman.

Sementara, di rumah Sudirman diliputi suasana duka. Wajah-wajah cemas berjejer mengelilingi tubuh Sudirman yang terkulai lemas di tempat tidur. Tubuh Sudirman kini tak lagi gagah, segagah ketika ia mengenakan baju dinas saat pimpin rapat.

“Habibah, Coba lihat! Siapakah yang datang itu. Orang asing yang aku lihat dalam mimpi itu, kini datang,” kata dukun.

Habibah bangkit dari tempat duduk. Wajah Habibah mulai terang. Orang yang ditunggu-tunggu sebagai dewa penolong suaminya, kini datang juga. Persis seperti ramalan sang dukun.

“Baik, Pak Dukun. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Habibah.

“Keluarkan makanan paling enak. Gelar permadani paling baik. Minta seluruh keluarga dekat mendampingi beliau selama di sini,” kata dukun.

Habibah segera menyampaikan perintah dukun pada ibunya. Sementara ia keluar halaman menyambut orang asing.

Tamu istimewa itu memasuki halaman. Ia seorang lelaki tua. Badannya bungkuk. Songkok hitam menutupi rambutnya yang uban. Tangan kanan memegang sebuah tongkat kayu. Tongkat itu sebagai penyangga tubuhnya yang condong ke depan. Di tangan kiri tampak mengapit sebuah tas kain lusuh, selusuh pakaiannya. Telapak kaki tanpa alas.Ia tampak seperti petapa, bertahun-tahun baru turun gunung.

“Pak Dukun! Yakin ini orangnya?” tanya Habibah berbisik di telinga Pak Dukun.

“Iya, inilah orang yang kita tunggu-tunggu. Jangan dinilai dari penampilan. Ia persis seperti yang hadir dalam mimpiku,” jawab Pak Dukun.

Setelah itu tak ada lagi pertanyaan. Lelaki tua itu langsung dipersilahkan makan. Ia makan dengan lahap. Persisnya, seperti orang kesetanan. Seluruh hidangan tak lepas dicicipnya.

“Di dalam tasnya itulah obat yang akan diberikan pada Sudirman,” bisik Pak Dukun di telinga Habibah. Habibah manggut-manggut mengiyakan.

“Terimakasih telah memberikan saya makan. Sejak pagi saya memang belum makan. Sekarang saya mau melanjutkan perjalanan,” kata lelaki tua itu. Ia pun langsung berlalu begitu saja. Ia keluar rumah.

Semua tampak bingung. Habibah menatap Pak Dukun. Dukun kelihatan serba salah. Tak ada pula yang bertanya. Sumua hanya melongkok menyaksikan lelaki tua itu berlalu tanpa meninggalkan apa pun.

“Loh, ngapain orang tua itu kemari?” tanya Arifin, adik Sudirman yang baru datang. Ia berpapasan dengan orang tua itu di depan lawang rumah Sudirman. Tak ada yang menjawab.

“Itu kan pengemis yang kerap meminta-minta di pasar,” ujar Arifin menyambung pertanyaannya tanpa jawab.

Tak ada juga yang menyahut. Pak Dukun menunduk. Ia tak berani menganggkat muka sedikit pun. Ia merasa malu. Ramalannya meleset. Dalam hati ia berpikir, “Tamat sudah riwayatku sebagai dukun. Kini tak akan ada lagi yang percaya padaku. Gara-gara pengemis sialan!”

Suasana kembali hening tampa kata. Sampai akhirnya sebuah mobil jeep berhenti di depan rumah Sudirman. Seorang lelaki berpenampilan necis tengah baya turun dari mobil. Empat orang lelaki menyertai. Kejadian ini memecah kebekuan usai peristiwa pengemis tua.

“Perkenalkan, saya Ikbal. Saya telah mendengar kabar Pak Kades yang sakit. Saya memang tak kenal beliau. Tapi saya ikut prihatin” kata lelaki yang baru turun mobil.

“Keprihatinan saja tidak cukup, Pak. Sudah banyak yang ikut prihatin. Nyatanya? Suami saya tetap saja sakit,” ujar Habibah pada Ikbal.

“Oh, tenang saja. Saya telah membawa obat paling mujarab untuk menyembuhkan Pak Kades. Saya ini memang spesialis menyembuhkan para Kades maupun calon Kades yang mengalami penyakit semacam ini,” tutur Ikbal. Wajah Habibah kembali terang. Pak Dukun kembali percaya diri.

“Sam! Turunkan kotak itu dari mobil!” perintah Ikbal pada salah satu anak buahnya.

Tak lama berselang. Sam turun dengan sebuah kotak mungil sebesar batu bata. Kotak itu dibungkus kain hitam. Bungkusan itu kemudian diletakkan di atas meja kecil, disamping tempat tidur Pak Kades.

“Jangan ada yang coba-coba menyentuh atau membuka kotak ini. Besok sore Sudirman pasti sembuh. Sekarang kami pamit pergi. Malam ini kami akan bekerja keras demi kesembuhan Sudirman. Kami mau keliling-keliling desa dulu,” kata Ikbal. Ia pun berlalu bersama empat orang anak buahnya.

Sesaat setelah Ikbal pergi. Semua tampak bingung. Tak ada yang mengerti maksud orang yang memperkenalkan diri sebagai Ikbal itu. Pak Dukun pun tak berani berkomentar. Ia takut salah lagi. Mereka hanya memandang saja bungkusan yang ditinggal Ikbal. Tak ada yang berani menyentuhnya.Takut kena kutukan.

***
Desa Sukaduit sore itu diliputi ketegangan. Sebentar lagi penghitungan suara akan segera berlangsung. Abubakar, calon unggulan duduk di deretan depan. Ia tak lepas dari senyum. Setiap orang yang berhadapan mata dengannya, selalu kebagian senyum. Abubakar merasa sudah di atas angin. Sebuah kursi di sampingnya kosong. Kursi itu sedianya diisi oleh Sudirman. Sayang, Sudirman tak dapat hadir menyaksikan perhitungan oleh sebab ia sakit.

Usai penghitungan suara, Abubakar kejang-kejang. Pingsan dan jatuh dari tempat duduknya. Sebaliknya, Sudirman bangkit dan melompat dari tempat tidurnya di rumah. Sudirman sembuh seketika itu juga. Abubakar kalah tipis. Hanya terpaut 20 suara dari Sudirman. Bagaimana mungkin?

“Kotak itu berisi obat. Semacam pil paling mujarab untuk menyembuhkan Pak Kades. Tak perlu dimunum, memang. Tapi yang jelas, berkat pil itulah Pak Kades sembuh. Terimakasih Pak Kades. Anda sembuh, saya pun bahagia. Sekarang saya langsung pamit. Oh, iya. Kotaknya nanti boleh dibuka setelah kita tinggalkan tempat ini, ” kata Ikbal. Ia dan anak buahnya langsung meninggalkan Desa Sukaduit.

Sepeninggal Ikbal, Kades Sudirman tampak malu-malu. Wajahnya kini berseri-seri. Ia pun meraih kotak itu. Begitu kain hitam pembungkusnya ia buka. Di bagian atas terdapat tulisan “PIL KADES”. Di bawah tulisan besar itu terdapat tulisan kecil “Ini sekedar ucapan terimakasih dari saya”. Setelah dibuka, isinya duit lima puluh lembar Rp. 100 ribuan.

***
Semingu kemudian. Kesembuhan sekaligus kemenangan Sudirman masih menjadi teka-teki. Lama-lama, teka-teki itu akhirnya terungkap juga. Ternyata Ikbal, lelaki yang mendatangi Kades Sudirman malam itu, adalah seorang penjudi kelas kakap. Ia berani memasang Sudirman yang terpuruk. Semula ia diejek oleh lawannya gara-gara berani pasang Sudirman. Tak tanggung-tanggun, Ikbal mengajak lawanya bertarung hingga 100 juta.

Rupanya Ikbal punya “PIL” ajaib. Malam itu ia berani menggelontorkan 50 juta untuk dibagikan pada warga desa Sukaduit. Empat puluh lima juta ia kantongi. Lima juta ia berikan kepada Sudirman sebagai bonus.

“Warga senang, Sudirman tenang, saya pun menang. Setelah itu saya tak urus lagi. Desa, ya desa kalian. Duit, yah duit saya...” ucap Ikbal dalam hati.

Ikbal menang besar.

Bima, 24 Maret 2013

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon