Jumat, 01 Maret 2013

Peran Pers Mahasiswa

Ilustrasi Persma sebagai ujung tombak perubahan
Pengantar

Dalam kehidupan masyarakat pers memainkan peranan penting dalam proses demokrasi. Penyebaran informasi dan transparansi aparatur negara dalam menjalankan fungsinnya merupakan sebuah keniscayaan. Tidak ada demokrasi dalam sebuah nengara tanpa adanya informasi yang benar yang diterima oleh masyarakatnya.

Disinilah kemudian pers memainkan peranan penting dalam proses demokrasi suatu bangsa dan kenapa kemudian pers diposisiklan sebagai salah satu pilar demokrasi. Pers menjalankan fungsi kontrol terhadap kinerja paratur negara.

Namun yang menjadi pertanyaannya adalah apakah dalam menjalankan fungsinya pers sudah benar-benar inderpenden? Jawabanya bisa iya dan bisa tidak.

Banyak faktor yang mempengaruhi idialilsme pers sebagai pilar demokrasi. Kepemilikan modal dan tujuan untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya adalah salah satu faktor yang membuat pers tidak dapat leluasa dalam menjalankan fungsi idealnya.

Artinya lembaga pers di sini diposisikan tidak ubahnya sebagai suatu industri untuk melipat gandakan keuntungan. Sehinga yang menjadi tujuannya adalah semata-mata keuntungan. Misalkan tidak jarang kita lihat space berita harus disingkirkan jauh-jauh ketika terdesak oleh space iklan. Padahal berita tersebut sangat dubutuhkan oleh masyarakat.

Dan tidak jarang pula tulisan seorang wartawan harus ditelanjangi dan preteli oleh sang editor dibalik meja redaksi lantaran dikhawatirkkan akan menyinggung kepentingan pengusaha A yang paling sering memasang iklan atau menyinggung kepentingan penguasa yang menjadi backing media tersebut.

Di tengah krisis identitas pers mainstream inilah kemudian persma (pers mahasiswa) muncul sebagai media alternatif yang diharapkan independen dalam pemberitaan dan punya sikap kemana ia harus berpihak.

Ada yang istimewa di sini karena kata pers yang kemudian ditambahi dengan embel-embel kata mahaiswa memiliki makna yang sangat ideal. Artinya bahawa peranan persma tidak terlepas dari peran dan fungsi mahasiswa itu sendiri sebagai agen perubahan (agent of change).

Namun yang menjadi pertanyaanya sekarang apakah persma dalam lembaran sejarah dan hari ini telah menjalankan peran idealnya? Jawabanya juga bisa iya dan tidak. Sebaiknya kita mulai buka-buka lagi lembaran sejarah.

Sejarah Pers Mahasiswa


Usia persma nyaris setua dengan pers umum. Pers mahasiswa telah mulai ada sejak jaman kolonial Belanda. Saat itu beberapa mahasiswa pribumi yang sedang belajar di negeri Belanda yang terkumpul dalam Indische Vereneeging berusaha mengkampanyekan rasa kebangsaan dan kemerdekaan dengan menerbitkan media yang bernama Hindia Poetra.

Kemudian majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka yang diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia di Nederland. Majalah inilah yang oleh peneliti dianggap sebagai cikal bakal pers mahasiswa Indonesia[1].

Pada jaman kolonial Belanda persma lahir bersamaan dengan munculnya kebangkitan nasional yang dimotori oleh pemuda, pelajar dan mahasiswa. Pers pada waktu itu dijadikan alat propaganda untuk meyebarkan rasa kebangsaan dan arti penting kemerdekaan bagi sebuah bangsa.

Media yang diterbitkan diantaranya Hidia Poetra (1908), Jong Java (1914), Oesaha Pemueda (1923) dan Soera Indonesia Moeda (1938). Sedangkan pada jaman pendudukan Jepang pers mahasiswa tidak mengalami perkembangan yang cukup berarti karena pemuda dan mahasiswa sibuk dalam perjuangan politik untuk kemerdekaan.

Pada jaman pasca kemerdekaan 1945-1948 pers mahasiswa belum banyak yang lahir secara terbuka karena mahasiswa dan pemuda terlibat secara fisik dalam usaha membangun bentuk Republik Indonesia. Barulah kemudian mulai tahun 50-an pers mahasiswa muncul dengan warna intelektualisme yang bertindak obyektif dan kritis.

Bahkan pada era ini lahir tonggak sejarah berdirinya organisasi pers mahasiswa berskala nasional, yaitu IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) yang merupakan peleburan dari IWMI (Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia) dan SPMI (Serikat Pers Mahasiswa Indonesia).

Pers mahasiswa tahun 60-an berubah menjadi media politik yang penuh dengan provokasi, agitasi dan pengutamaan dengan nilai-nilai kelompok. Pada masa itu persma berorintasi untuk memaparkan dan membongkar kebobrokan sistem politik demokrasi Terpimpin.

Persma yang baru lahir itu antara lain, Mahasiswa Indonesia, Harian KAMI, Mimbar Demokrasi dan Gelora Mahasiswa.

Di sinilah, khusunya di Mahasiswa Indonesia, terhimpun tulisan-tulisan tajam sebagai “jalan pikiran” untuk gerakan mahasiswa 1966 . Sebut saja misalnya nama Soe Hok Gie (tokoh kunci gerakan mahasiswa 1966) yang sangat setia menulis di pers mahasiswa.

Di era kejatuhan Soekarno IPMI yang merupakan representasi dari persma pun ikut terlibat aktif. Hal ini ditandai dengan masuknya IPMI dalam KAMI (Kesatuan aksi Mahasiswa Indonesia). Bahkan IPMI nyaris menjadi corong utama dari aspirasi dan sikap KAMI.[2]

Pasca tragedi Malari 1974 terjadilah pembumihangusan pers mahasiswa. Para pentolannya ditahan dan medianya dilarang terbit. Sampai disinilah kisah dramatis dan heroik persma berakhir. Denyut nadinya sudah ditikam oleh tombak-tombak kekuasaan yang membunuh akar-akar gerakan persma.

Sampai pada jaman pemilu 1977 dengan protes keras bekerjasama dengan Dema (Dewan Mahasiswa), pesrma kembali menggeliat. Dimulai dari protes terhadap keinginan Soeharto cs untuk terus berkuasa. Persma berperan sebagai media gerakan mahasiswa bekerjasama dengan Dema.

Akibatnya satu-persatu persma di tanah air ini dibunuh oleh kekuasaan (Soeharto). Disinilah dimulainya pemberlakuan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) tahun 1978.

Setelah itu dimulailah cerita-cerita pembumihangusan gerakan mahasiswa dan aktivis persma di kampus-kampus di Indonesia. Mulai dari dijegal alasan akademis, disekolahkan ke luar negeri, dituduh berpolitik praktis sampai pada ditabrak mobil ketika sedang berjalan sedirian.

Sampai pada tahun 1985, persma mulai bangun dari tidurnya. Di kampus-kampus di Indinesia, pesrma kembali menggeliat dengan megadakan pelatihan-pelatihan kecil dan membangun jaringan informasi dengan persma yang lain.

Benih semangat ini membangun kembali denyut nadi kehidupan kampus yang dibungkam NKK/BKK. Isu-isu kampus dipakai sebagai alat untuk memperbaiki sistem pendidikan dan pemerintahan (negara) nantinya.

Maka mulailah persma ketika itu mengkritisi naiknya pembayaran SPP, kebebasan mimbar akademis, atau isu-isu seputar kampus lainnya. Memainkan isu-isu kampus untuk orientasi perbaikan sistem pendidikan dan negara dilakukan.

Penguasa ketika itu bukan tinggal diam. Penguasa kampus dan negara terus berusaha untuk mematikan denyut nadi persma. Tercatat pembredelan keras terjadi terhadap Majalah Solidaritas Universitas Nasional Jakarta, Majalah Arena IAIN yogyakarta. Di Bali, Majalah Kanaka Fakultas Sastra Unud.[3]

Pada awal 90-an beberapa aktivis persma mencoba menghidupkan kembali ghirah organisasi pers mahasiswa setelah “kematian” IPMI pada tahun 1982 akibat dari ketakutan rezim Orde Baru terhadap organisasi ini.

Akhirnya pada tahun 1992 diadakan kongres di Jogja yang menghasilkan organisasi pers mahasiswa yang bernama Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang kemudian pada kongres II di Jember kata penerbitan diganti dengan kata pers sehingga menjadi Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI).

Dihidupkan kembali organisasi pers mahasiswa berskala nasional dengan harapan bisa mengembalikan kejayaan IPMI yang mampu menjadi payung bagi pers mahasiswa dan mempunyai kekuatan serta bergaining position yang kuat ditingkatan eksternal.[4]

Penutup

Demikian uraian singklat di atas yang menggambarkan betapa sejarah persma sesungguhnya tak dapat dipisahkan dari sejarah gerakan kemerdekaan maupun gerakan mahasiswa Indonesia dalam memperjuangan kebenaran dan keadilan bagi rakyat Indonesia.

Dan hari ini kita semua merindukan kembali dimana pers mahasiwa mampu menjadi penyuara kebenaran, corong rakyat tertindas. Bukan sebagai media yang digunakan oleh penguasa sebagai alat untuk memperdaya dan membodohi rakyat demi melanggengkan kekuasan. Tetapi, persma yang obyektif dan kritis adalah harapan kitab semua. Semoga.

Karena tulisan di atas dibajak dari berbagai sumber, apabila terjadi perbedaan tahun dan lain-lain harap dimaklumi. Untuk itu medah-mudahan tulisan ini dapat menjadi pengantar diskusi bagi kita.

***

Makalah Disampaikan dalam Diklat Jirinalistik Tingkat Dasar LPM. Kertha Akasara FH UNUD 2 Desember 2005. Penulis Mantan Pemimpin Umum LPM. Kertha Aksara.

[1] Mustaqim, makalah yang disampaikan dalam Diklat jurnalistik BPM EQUILIBRIUM FE UGM, 8 Oktober 2003.
[2] Ibid
[3] Lihat Ngurah Suryawan, Simpang jalan Kekuatan Mahasiswa.
[4] Mustaqim, makalah yang disampaikan dalam Diklat jurnalistik BPM EQUILIBRIUM FE UGM, 8 Oktober 2003.

Comments
1 Comments

1 komentar so far

dimalang bukan dijogja PPMI didirikan

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon