Jumat, 01 Maret 2013

Mengais Rejeki di Atas Jerami Keberagaman

Perempuan Bima mengenakan Rimpu
Selayang Pandang MPBD Bali

Seperti suku-suku lain di tanah air, Dou Mbojo (sebutan untuk suku yang mendiami wilayah Bima dan Dompu, NTB) juga gemar merantau. Bagi Dou Mbojo, merantau tidak sekedar dimaknai sebagai sebuah proses migrasi dari kampung halaman menuju daerah lain. Akan tetapi, Dou Mbojo memaknainya sebagai proses hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Sebagaimana diketahui Dou Mbojo mayoritas memeluk Agama Islam. Sudah tentu, makna merantau pun berakar pada nilai-nilai Islamiyah.

Para tetua dan alim ulama seringkali memberi nasehat berkaitan dengan merantau yang bersumberkan pada Al Qur’an dan Hadits. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka. QS 13:11”. Kemudian ada juga hadits yang mengatakan, “tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina”.

Merantau akhirnya diberi makna dalam dua aspek pragmatis. Pertama, merantau dimaknai sebagai sebuah proses mencari kehidupan ekonomi yang lebih baik, di mana pun di luar kampung halaman. Kedua, merantau dimaknai sebagai sebuah proses menuntut ilmu di negeri yang jauh sekali pun. Dan, pada akhirnya apapun orientasinya bermuara pada upaya peningkatan kesejahteraan.

Merunut kembali sejarah kedatangan Dou Mbojo di Pulau Dewata memiliki sejarah yang cukup panjang. Namun, dalam kesempatan ini diulas secara singkat saja. Pada jaman prakemerdekaan misalnya, sudah ada Dou Mbojo yang menuntut Ilmu di Singaraja. Tercatat dalam sejarah, para pelajar Bima yang menuntut ilmu di Singaraja inilah yang membawa berita kemerdekaan Indonesia kepada Sultan Bima.

Pascakemerdekaan dan sampai saat ini semakin banyak Dou Mbojo yang datang ke Pulau Dewata. Berdasarkan catatan Majelis Paguyuban Bima Dompu (MPBD) Bali, saat ini terdapat lebih kurang 1500 KK yang bergabung dalam MPBD Bali. Mereka tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. Dari angka tersebut diperkirakan masih banyak yang belum tercatat sebagai anggota.

Majelis Paguyuban Bima Dompu (MPBD) Bali merupakan organisasi payung dari seluruh organisasi paguyuban Bima Dompu di Bali. Sementara ini MPBD Bali terdiri dari: Rukun Keluarga Bima Dompu (RKBD) Kab. Badung; RKBD Kotamadya Denpasar; RKBD Kab. Buleleng; RKBD Kab. Gianyar; dan Perhimpunan Mahasiswa Bima Dompu (PMBD) Bali.

Dalam konteks keorganisasian, MPBD Bali menjadi wadah pemersatu Dou Mbojo yang berada di Bali. Keberadaan organisasi ini bukan untuk mengentalkan rasa primordialisme sempit. Sebaliknya, untuk memberikan pencerahan dan kesadaran nilai-nilai kebergaman yang harus dijunjung tinggi. Bukan sekedar tempat nostalgia kampung halaman, melainkan untuk menabuh gema persahabatan.

Keberadaan MPBD Bali juga dalam rangka menunjang pemerintah setempat dalam hal pendataan kependudukan. Setiap anggota baru yang tergambung, pengurus MPBD Bali selalu melaporkannya kepada Banjar maupun Kepala Dusun di tempat tinggal mereka.

“Kami titipkan anggota kami di lingkungan Bapak. Apabila ada permasalahan apapun yang berkaitan dengan lingkungan yang melibatkan anggota kami, jangan segan-segan mengubungi kami sebagai pengurus MPBD. Insya Allah kami dapat membantu, bersama-sama mencarikan solusi penyelesaian,” begitu kira-kira kata pengantar pengurus MPBD Bali kepada pemegang otoritas sekitar lingkungan tempat tinggal anggota baru.

Dou Mbojo di Bali cukup adaptif dengan lingkungan sosial dimana pun mereka tinggal. Semangat gotong-royong dan saling membantu merupakan sifat bawaan Dou Mbojo. “Keluarga paling dekat adalah tetangga,” itu prinsip-prinsip yang selalu dipegang teguh. Bila ada oleh-oleh yang dibawa dari kampung sekembali dari mudik lebaran, mereka dengan senang hati berbagi bersama tetangga.

Akulturasi Pencerahan

Dalam uraian berikut ini saya mencoba merefleksikan pengalaman pribadi saya sebagai anggota MPBD Bali dalam proses akulturasi budaya. Selama 12 tahun tinggal di Bali, cukup banyak persinggungan kebudayaan yang saya rasakan. Tidak hanya persinggungan dengan kebudayaan Bali, namun juga berhadapan dengan berbagai kebudayaan-kebudaan lain.

Kehidupan di dunia kampus dan pergaulan organisasi yang saya geluti mempertemukan saya dengan komunitas dan individu yang berbeda-beda. Bersinggungan dengan kawan Batak, kawan Papua, kawan Bugis, kawan Jawa, kawan Sunda, kawan Ambon, kawan Flores, kawan Sumba, kawan Timor, kawan Madura, kawan Dayak, kawan Sasak, kawan marga Tionghoa, kawan marga Arab dan juga kawan-kawan dari berbagai belahan dunia dari negara lain.

Apabila ditelusuri lebih dalam lagi dalam perbedaan kebudayaan tersebut, terdapat perbedaan bahasa, adat istiadat, keyakinan, karakter, makanan, pakaian dan lain-lain. Bagi saya, segala perbedaan itu menjadi butiran mutiara pengetahuan yang memberikan pencerahan diri.

Berdasarkan pengalam empiris dalam persinggungan dengan kebudayaan yang berbeda-beda itulah memperkaya cara pandang saya. Cara pandang terhadap segala kebudayaan Dou Mbojo yang melekat pada diri saya sebelumnya. Di sana ada ruang-ruang pemahaman yang terbentuk. Di sana ada aroma saling menghargai yang berhembus. Di sana ada pula benih-benih toleransi yang ditumbuhkan.

Interaksi dengan kawan-kawan yang beragam latar belakang tersebut mengendapkan satu kemampuan komunikasi kepada saya. Di kemudian hari, jika saya bertemu orang baru, maka saya tahu persis apa topik pembicaraan, bagaimana cara berbicara agar lebih akrab dengan mereka.

Kita Butuh Uang Tak Berbudaya


Pada suatu malam saya melakukan sebuah riset kecil-kecilan di Pasar Badung, Denpasar. Pasar yang terletak di tengah-tengah kota Denpasar ini memang terkenal sebagai pasar malam. Puncak transaksi jual beli berbagai komoditi dagang dilakukan pada malam hari.

Tak lupa saya mampir sebentar di warung kopi favorit saya. Warung kopi milik Bu Agung yang letaknya di bantaran Tukad Badung, persis sudut jembatan. Baru 10 menit saya nongkrong disana, saya bertemu Mas Marno yang mengantar isteri belanja untuk kebutuhan rumah makannya. Saya juga bertemu dengan Cak Hasan yang istirahat usai belanja daging sapi bahan baku bakso buatannya.

Usai menghabiskan secangkir kopi panas, saya beranjak dari warung Bu Agung untuk mengelilingi Pasar Badung. Saya mengamati proses transaksi dan tawar-menawar pembeli dengan pedagang. Dari logat dan cara bicara serta pakaian penjung pasar, saya dapat menerka dari mana daerah asal mereka. Selain mengandalkan pengamatan, jika sempat saya ajak bicara beberapa pengunjung pasar. Sekedar untuk mendalami latar belakang mereka.

Puas bercengkrama dengan pedagang dan pengunjung pasar di sebelah barat Tukad Badung, saya pun kemudian melangkah menuju sebelah timur Tukad Badung. Di sana terdapat pusat bongkar komoditi dagang menggunakan mobil pick up. Ada yang membongkar sayur-sayuran, buah-buahan, ikan air tawar, ikan laut, tahu tempe, ayam kampung, beras, jagung, janur bahan baku banten, buah kelapa, dll.

Mata saya semakin takjub menyaksikan transaksi yang ada di sana. Sebab berbagai komoditi dagang yang dibongkar di sana tidak hanya berasal dari berbagai pelosok Bali, akan tetapi juga berasal dari berbagai daerah luar Bali. Bagi saya saat itu, apa yang mereka bawa tak terlalu penting. Karena yang paling penting adalah orang-orang yang membawa komoditi tersebut. Mereka datang dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda.

Setiap malam, transaksi seperti itu terjadi. Setiap malam, komunikasi di antara mereka berlangsung. Di luar konteks barang dan harga, mereka juga membicarakan tingginya kebutuhan buah dan janur menjelang Galungan, Kuningan, Nyepi dan hari-hari besar Umat Hindu Bali. Mereka juga membicarakan pedagang dari Jawa yang jarang bawa barang menjelang Idul Fitri dan Idul Adha.

Pukul 05.00 Wita adzan subuh berkumandang dari arah Masjid Suci di kawasan Pasar Badung. Beberapa pedagang asal Jawa menitip barang dagangannya pada kawan Bali yang berdagang di sebelahnya. Mereka bergegas ke Masjid untuk menunaikan sholat subuh.

Bias-bias cahaya matahari pagi memantul di antara gedung tua kawasan Gajah Mada. Samar-samar dan semakin jelas, tampak Bu Agung pemilik warung kopi semalam, jalan ke arah Pura di sudut Pasar. Bu Agung menjujung nampan. Ada setumpuk canang di sana. Asap dupa mengepul ke udara, menyebarkan aroma khas pesan damai.

Matahari semakin tinggi. Toko-toko kain milik golongan Arab di sepanjang jalan Sulawesi mulai dibuka. Begitu pula toko perabot rumah tangga dan toko emas milik marga Tionghoa di Jalan Hasanudin bergegas menyambut rezeki. Usai sudah riset kecil-kecilan ini. Mata saya sudah terasa berat. Lalu saya melangkah ke arah parkir sepeda motor.

Di sepanjang perjalanan pulang, prosesor otak saya masih juga berkutat pada berbagai macam data hasil searching di Pasar Badung. Belanja mata saya berhasil membawa pulang beberapa paket kesimpulan sederhana. Ternyata, interaksi secara alamiah berbagai arus perbedaan kebudayaan akan berlangsung dengan sendirinya di pasar.

Di pasar, saya menemukan ruang-ruang netral. Di pasar pula, akan melahirhan satu kepentingan bersama, yakni berlangsungnya transaksi yang saling menguntungkan. Dan, oleh karena itu pula lah sub tema ini saya namakan “kita butuh uang tak berbudaya”.

Atau jika berangkat dari beberapa referensi yang pernah saya baca, bahwa apa pun idiologi yang ditawarkan bermuara pada cara menuju kesejahteraan bersama. Interaksi di Pasar Badung bukan konsep hasil perdebatan. Interaksi di sana bukan pula hasil resolusi setelah peperangan atas dalih perbedaan idiologi.

Meramu Keberagaman


Berdasarkan berbagai macam pengalaman empiris di atas. Baik dalam konteks keorganisasian MPBD Bali, maupun dalam konteks pribadi saya. Maka, ada beberapa tips meramu keberagaman yang saya tawarkan.

Pertama, merantau atau proses migrasi setiap orang dari kampung halamannya menuju daerah lain merupakan proses alamiah dalam sejarah peradaban manusia. Manusia purba di masa berburu dan meramu misalnya, selalu berpindah-pindah tempat mencari sumber daya yang lebih menjanjikan. Di masa bercocok tanam pun selalu berpindah-pindah mencari lokasi lahan yang lebih subur.

Di masa modern ini, manusia juga menyimpan sifat alamiah itu. Ibarat pepatah “ada gula ada semut,” berbondong-bondong menuju daerah yang menjajikan. Termasuk Dou Mbojo yang datang ke Pulau Bali ini, juga untuk turut mencicipi nikmatnya kue pariwisata yang menjadi mimpi setiap orang. Terbentuknya berbagai paguyuban ke daerahan kaum urban juga menjadi sifat alamiah masyarakat suku bangsa Indonesia yang tak dapat dihindari.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka langkah nyata yang dapat dilakukan untuk menyelaraskan berbagai perbedaan kebudayaan antara penduduk setempat dengan kaum urban adalah memberikan ruang ekspresi kebudayaan yang seimbang. Tidak saling mendominasi dan meniadakan yang lain.

Sebagai contoh, misalnya dalam festival Kota Denpasar atau Pesta Kesenian Bali yang diselenggarakan setiap tahun, juga memberikan ruang bagi tampilnya berbagai kebudayaan yang dibawa oleh kaum urban. Sebab berbicara kebudayaan bukanlah membicarakan benda mati yang diam. Akan tetapi kebudayaan adalah sesuatu yang hidup dalam keseharian.

Kebudayaan dalam lokus geografis tentu diusung oleh masyarakat pendukung kebudayaan itu sendiri. Dan ketika penduduk suatu wilayah telah mengalami percampuran sedemikian rupa, maka kebudayaan masyarakat tersebut adalah seluruh kebudayaan yang lahir dari proses akulturasi dan asimilasi alamiah di wilayah tersebut.

Kedua, mengacu dari pengalaman empiris saya secara pribadi. Bertemu dan bersinggungan dengan berbagai macam individu yang berbeda latar belakang merupakan sebuah proses yang bersifat perorangan dan kebetulan semata.

Pelajaran penting dari pengalaman tersebut adalah bahwa wilayah pemahaman dan saling menghargai perbedaan akan muncul ketika komunikasi antar kebudayaan yang berbeda-beda tersebut terjadi. Kunci sederhananya di sini adalah, kita semua dapat menciptakan kesempatan komunikasi dengan sengaja melalui forum-forum dialog dan ruang bicara lainnya.

Ketiga, mengacu pada observasi saya di Pasar Badung di atas, maka sebagaimana juga proses akulturasi kebudayaan Indonesia melalui perdagangan, mengendapkan satu pengetahuan terhadap pola-pola pendekatan kebudayaan. Interaksi kebudayaan di pasar mengambarkan keharmonisan antar kebudayaan yang berbeda akan terus berlangsung selama tidak ada faktor-faktor lain yang menggangu kepetingan ekonomi.

Sejarah konflik masa lalu di beberapa wilayah antar pendukung kebudayaan yang berbeda selama ini lebih banyak dipicu oleh faktor ekonomi. Kesenjangan dan perbedaan kesempatan menjadi percikan api dendam yang gampang berkobar setiap saat. Saatnya menciptakan kebijakan yang memberi kesempatan yang sama. Paralel dengan hal tersebut, saatnya merivisi kembali segala kebijakan dan peraturan yang bersifat diskriminatif.

Keempat, bicara arah baru politik keberagaman di Indonesia; strategi dan tantangan, maka kita akan membicarakan kerja-kerja jangka panjang. Pekerjaan ini tentu tak bisa hanya dilakoni oleh segelintir orang saja. Perlu banyak tangan. Butuh banyak kepala. Penting melibatkan multipihak.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, strategi dan tantangan politik keberagaman sesunggunnya paralel dengan kerja penanaman nilai-nilai nasionalisme bangsa Indonesia. Simbol-simbol pemersatu, semisal semboyan “Bhineka Tunggal Ika” dan Pancasila sebagai dasar Negara ini perlu dibedah kembali dalam konteks kehidupan kita masa kini.

Terakhir, saya sebagai perwakilan Majelis Paguyuban Bima Dompu (MPBD) Bali maupun secara pribadi sungguh berharap, arah baru politik keberagaman di Indonesia memberikan angin segar bagi tumbuh-kembangnya beragam kebudayaan di tanah air. Perbedaan merupakan Sunatullah, dan tugas kita seluruh umat manusia sebagai penghuni planet yang sama di muka bumi ini untuk saling menghargai perbedaan tersebut. Semoga!

 Gambar : Rimpu Pakaian tradisional Bima (www.wego.co.id)
Makalah disampaikan pada acara Konferensi dan workshop “Arah baru Politik Keragaman di Indonesia:Strategi dan Tantanga” ,yang diselenggarakan oleh Yayasan Manika Kauci bersama Centre for Religious and Cross-cultural Studies, 25 – 27 Juni 2012 di Hotel Puri Dalam, Denpasar. Penuis adalah Sekretaris Umum Majelis Paguyuban Bima Dompu (MPBD) Bali. 

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon