Minggu, 10 Maret 2013

Masjid, Istana dan Aku

Istana Kesultanan Bima
Lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an berkumandang dari arah Masjid Raya Kota Bima. Saban sore tiba, suara-suara itu selalu diperdengarkan. Sungguh diperdengarkan dengan alat pengeras suara. Begitu keras, hingga masuk ke lorong-lorong kota. Membangunkan mereka yang terlelap. Mengingatkan mereka yang lupa. Menghadirkan mereka yang alpa.

Sementara aku tengah menikmati segelas kopi panas di warung Bu Mae, depan Istana Kesultanan Bima. Sesekali kulempar pandangan ke dalam halaman istana, menyaksikan beberapa ekor kijang bermain. Tiba-tiba saja pikiranku merangkai gambar– Masjid, Istana dan geliat warga di sore itu. Semuanya terlintas begitu saja, bagai orang-orang suci mendapat wangsit.

Berkali-kali kutatap kembali. Berulang-ulang kuselidiki lagi. Kuamati dalam-dalam. Jangan-jangan aku salah melihat. Mungkin aku keliru menilai. Barangkali aku hanya diliputi halusinasi. Tetapi gambar ini begitu jelas.

Kulihat masjid, istana dan geliat warga dalam satu bingkai. Tetapi mengapa ketiganya seakan berjauhan. Mereka berada dalam satu nyanyian. Tetapi, mengapa tak seirama. Masing-masing berlomba menojolkan warna sendiri. Masing-masing berjalan pada arah bersimpangan. Tak ada lagi sudut-sudut persamaan yang dapat dipertemukan. Tak tersisa bias warna serupa untuk disatukan.

Ah, mungkin aku salah menilai. Kuyakinkan lagi diri, aku salah. Sejurus kemudian, entah dari mana datangnya, pikiranku yang lain menantang sekaligus menguji dugaan. Aku kumpulkan kepingan-kepingan fakta. Aku beranjak pada kenyataan, senyata-nyatanya. Agar kudapat menerima kenyataan. Aku harus berlari sejauh mungkin dari sekedar menduga-duga.

Coba tengok berita koran ini hari! Beranekaragam berita menyesakkan dada– Pelaku Pembunuh Guru Talabiu Diringkus; Batal Nikah, Calon Pengantin Wanita Lapor Polisi; Pelaku Pelecehan Siswi Jadi Tersangka; Warga Talabiu Masih Blokir Jalan; dan banyak lagi. Kabar seperti ini tak lagi heboh, sebab warga sudah terlalu sering mendengar di hari-hari kemarin.

Aku tinggalkan Bu Mae yang kesepian di warungnya. Sebab, sejak dari tadi warungnya sepi pengunjung. Aku melangkah ke arah masjid untuk menunaikan kewajiban sore itu. Mungkin disana aku mendapatkan jawaban. Setelah iqomah diserukan, aku bergegas dari tempat wudhu menuju ke dalam masjid.

Begitu memasuki masjid, aku mendapatkan imam Sholat Asar tampak gusar. Sebelum mendapat kehormatan memimpin robongan penghadap Tuhan, ia berpaling ke belakang. “Rapatkan dan luruskan shaf!” ucapnya ragu. Ragu, sebab shaf makmum yang diperintahkan lurus dan rapat tak penuh satu shaf. Itu pun kebanyakan kaum tua. Mungkin Sang Imam malu membawa rombongan sedikit ke hadapan Tuhan.

Usai menghadap Tuhan sore itu, aku tinggalkan Sang Imam yang kesepian di dalam masjid. Aku melangkah kembali ke arah istana. Dalam langkah kakiku yang gontai, kepalaku kembali dirasuki gambaran masjid. Yah, setidaknya, imam yang gusar dan makmum yang sepi adalah kenyataan, senyata-nyatanya.

Kali ini aku tidak mampir di warung Bu Mae. Aku berlalu begitu saja di depanya. Aku hanya melempar senyum pada Bu Mae yang tampak sedikit sumringah, sebab ada tiga orang pelanggan mampir di warungnya. Aku memasuki gerbang istana yang sepi.

Istana tampak bertuah alias mendekati kesan angker ketimbang megah. Halaman istana kelihatannya tidak terurus dengan baik. Untung ada beberapa ekor kiijang, sehingga rumput tak perlu dicukur khusus. Batang dan ranting mangga berserakan.

Dua orang penjaga berseragam PNS tampak kurang gairah. Mereka berada di istana hanya kerena menjalankan kewajiban semata-mata. Bukan karena panggilan jiwa. Sehingga wajar, jika keberadaanya sebatas menghabiskan waktu dinas belaka. Penjaga istana dikala pemerintahan kesultanan sedang berjaya dan kala sekarang semangatnya berbeda. Dulu, seseorang yang dapat memasuki halaman istanya saja sangat bangga dan terhormat. Apa lagi menjadi pengabdi, tentu hanyalah orang-orang pilihan.

Kedatanganku ke istana saat ini bukalah kali yang pertama. Sewaktu aku duduk di bangku SMA, aku sering menghabiskan waktu di istana. Maklum, waktu itu aku sekolah di SMK, jurusan pariwisata. Aku dituntut untuk menguasai segala hal menyangkut istana, sebab sewaktu-waktu aku sering ditugaskan oleh sekolah mengantar tamu ke istana. Hanya saja kedatanganku kali ini, yang pertama setelah 12 tahun aku kembali dari tanah rantau.

Aku duduk sejenak di teras. Kuamati beberapa bagian luar istana. Warna cat bangunan bersejarah itu mulai memudar. Sarang laba-laba bergelanyut di langit-langit. Sementara, di halaman istana tiang bendera yang berasal dari bekas tiang kapal itu, mulai reot dimakan usia.

Istana menjadi simbol kekuasaan. Pikiranku langsung menuju pemerintahan yang sedang berlangsung saat ini. Sulit rasanya menemukan pemimpin yang betul-betul memiliki sifat “Langgusu Waru”, sebagaimana sifat-sifat yang konon katanya dimiliki oleh para sultan yang pernah memimpin negeri Bima. “Maja Labo Dahu”, slogan sebagai pandangan hidup hanya sekedar basa-basi politik semata. Ia digunakan saat kampanye. Setelah itu dilupakan begitu saja.

Kepalaku benar-benar terasa berat merangkai gambar masjid, istana dan warga. Sebelum aku melangkah pulang, aku hanya setengah berhasil menarik benang merah. Bahwa, peran alim ulama, pemerintah dan masyarakat sendiri (termasuk aku) menjadi satu kesatuan utuh dalam menjawab berbagai persoalan yang muncul setiap detik.

Gambar : awaluddintahir.wordpress.com

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon