Jumat, 01 Maret 2013

Legalisasi Prostitusi?


Ilustrasi penari club.
Prolog

Dua tahun yang lalu saat penulis masih aktif di Lembaga Pers Mahasiswa FH UNUD pernah melakukan reportase tentang fenomena trafficking (perdagangan manusia). Berdasarkan hipotesa awal, Bali merupakan salah satu daerah tujuan trafficking khususnya perdagangan wanita. Mereka dipaksa bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK).



Hipotesa ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Kerthi Praja Bali, yakni yayasan yang bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS bahwa jumlah PSK di Bali mencapai 3000 orang. Di mana 95 persen berasal dari Jawa Timur, 3 persen dari luar pulau Bali dan 2 persen masyarakat asli.



Untuk membuktikan hipotesa tadi, reportase pun dilakukan dengan menggunakan metoda jurnalisme investigasi. Sebagai salah satu tim investigasi yang ditugaskan mencari data lapangan, penulis mencoba menelusuri tempat-tempat prostitusi yang tersebar di beberapa tempat seluruh Bali. Terlepas dari data yang penulis cari untuk membuktikan praktek trafficking, kenyataan menjamurnya tempat prostitusi di Bali cukup mencengangkan.



Keberadaan komplek prostitusi yang tersebar di beberapa kawasan di Bali sudah menjadi rahasia umum. Biasanya komplek prostitusi selalu ada di setiap pusat kawasan wisata atau di sekitar kawasan terminal dan pelabuhan.



Beberapa diantaranya seperti: komplek prostitusi di sekitar jalan Danau Poso dan jalan Danau Tempe kawasan wisata Sanur, komplek prostitusi di sekitar terminal Pesiapan Tabanan dan komplek prostitusi di kawasan Bias Tugel dekat Pelabuhan Padang Bai. Serta masih banyak lagi tempat-tempat prostitusi yang tersebar di beberapa kawasan lainnya yang penulis ketahui dari hasil investigasi lapangan yang menghabiskan waktu hampir tiga bulan lamanya.



Kenyataannya sangat ironis memang. Bagaimana tidak! Dari seluruh komplek prostitusi yang tersebar di Bali tidak ada satu pun yang dilegalkan oleh Pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Daerah Bali selaku penerbit SK Perizinan. Sehingga bisnis “lendir” ini dilakukan terselubung walaupun telah menjadi rahasisa umum.



Penulis sangat yakin, pihak aparat pun telah mengetahui keberadaan tempat-tempat praktek prostitusi, tetapi tidak pernah melakukan penertiban, kalaupun ada, itu paling sebentar dan sifatnya simbolik belaka. Sebaliknya para mucikari harus mengeluarkan biaya ekstra untuk disetorkan kepada pihak aparat agar tidak kena razia.



Bahkan berdasarkan informasi yang penulis peroleh di lapangan, terdapat beberapa tempat prostitusi yang dibekingi oleh “oknum” aparat.



Legalisasi demi mencegah HIV/AIDS

Berdasarkan keterangan yang penulis peroleh di lapangan, saat komplek prostitusi ramai dikunjungi pelanggan, setiap orang PSK mampu melayani sepuluh sampai lima belas orang laki-laki untuk short time (sekali main) lebih kurang 15 menit.



Bila kita mengambil rata-rata minimal tiga tamu saja yang dilayani seorang PSK setiap malam, berarti setahun setiap orang PSK akan melayani seribu delapan puluh transaksi seks. Ini baru dihitung seorang PSK, lalu bagaimana dengan jumlah PSK yang mencapai 3000 orang? Dipastikan jutaan kali transaksi seks di tempat prostitusi terjadi di Bali setiap tahun.



Dari jutaan kali transaksi seks tersebut, tentu rawan terjadi penularan berbagai macam penyakit, terlebih penularan HIV/AIDS yang sangat dikhawatirkan. Di mana virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) hidup di dalam empat cairan tubuh manusia, yaitu: cairan darah, cairan vagina, cairan sperma dan air susu ibu. Kemudahan penularan HIV diperparah lagi oleh karena perilaku sebagain besar laki-laki pengguna jasa PSK yang tidak mau menggunakan kondom dengan alasan kurang menikmati hubungan seks dengan kondom.



Untuk mencegah terjadinya penularan HIV/AIDS yang lebih luas di tempat-tempat prostitusi di Bali, perlu upaya penanggulangan yang sungguh-sungguh. Penanggulangannya tentu saja mengalami kesulitan bila praktek prostitusi dilakukan secara terselubung.



Di satu sisi orang-orang yang terlibat dalam usaha prostitusi seperti; pengusaha/germo, PSK dan laki-laki pengguna jasa PSK akan terus menutup diri. Kemudian di sisi lain pemerintah tidak mengakui adanya praktek prostitusi. Bila keadaan seperti ini dibiarkan terus-menerus berkepanjangan, maka penularan HIV/AIDS semakin tidak terkontrol dan akan terus menggerogoti masyarakat.



Legalisasi komplek prostitusi bertujuan agar pengelolaananya lebih professional dan terpadu. Dengan begitu, penanggulangan HIV/AIDS dapat terkontrol dengan melibatkan lintas sektoral. Contoh sederhana penanggulangan di komplek prostitusi seperti; melalui penyediaan informasi bagi PSK dan penguna jasa PSK, penyediaan akses pelayanan kesehatan, memacu pemeriksaan HIV/AIDS yang konfidensial dan disertai konseling, meningkatkan partisipasi PSK, serta meningkatkan kerja sama dalam upaya pencegahan.



Terakhir

Fenomena prostitusi di Bali merupakan satu kenyataan yang harus kita terima. Penulis sangat menyadari ide ligalisasi prostitusi akan mengundang kontroversi berbagai pihak. Untuk menyikapi hal tersebut, sangat tergantung dari sudut pandang masing-masing. Mau tetap mempertahankan standar moralitas “semu”, atau generasi bangsa akan tamat sampai disini karena terjangkit oleh HIV/AIDS, virus mematikan itu.



Menurut penulis, prostitusi tidak mungkin dapat dihapuskan begitu saja karena sejarah profesi prostitusi hampir sama usianya dengan sejarah peradaban manusia itu sendiri. Keputusan legalisasi memang tidak perlu terburu-buru, perlu kajian yang konprehensif untuk merasionalisasikannya.



Pada penghujung tulisan ini penulis berharap semoga generasi bangsa Indonesia menjadi generasi yang sehat, terbebas dari berbagai macam penyakit terutama HIV/AIDS penyakit yang menjadi momok di masyarakat karena sifatnya yang dapat membunuh pengidapnya secara perlahan-lahan. Semoga.



Tulisan ini mendapat penghargaan sebagai Juara I (satu) dalam lomba menulis masalah HIV/AIDS yang diselenggarakan oleh Panitia Pekan Renungan AIDS Nusantara (PeRAN) Bali 2006.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon