Sabtu, 30 Maret 2013

Cintaku Dihadang Jalan

Namaku Nurbaya. Aku kuliah di sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan, jurusan matematika. Tak terasa, kini aku duduk di semester tujuh. Setiap semester aku lewati dengan hasil yang cukup baik. Nilai A dan B selalu menghiasi kartu hasil studiku. Sejak kecil aku memang menonjol dalam hal matematika.

Kini aku memasuki masa KKN (Kuliah Kerja Nyata). “Nurbaya, kamu mendapatkan lokasi KKN di desa Sambori. Silahkan bergabung dengan teman-temanmu yang mendapatkan lokasi yang sama,” ucap Pak Burhan, Pembantu Ketua Jurusan, urusan kemahasiswaan dan pengabdian masyarakat.

Kami kemudian berkumpul di halaman rumput kampus untuk rapat persiapan. Ridwan, kakak tingkatku menjadi ketua kelompok yang kami pilih secara aklamasi. Dia memang yang paling senior di antara kami. Seharusnya ia sudah KKN tahun lalu. Segudang kesibukannya di organisasi kampus membuat ia telat. Dia dikenal sebagai pegiat sosial yang sangat disegani.

“Saya akan menjalankan amanat ini sebaik-baiknya. Dan, jika saya boleh meminta. Saya minta kesediaan saudari Baya untuk menjadi sekretaris kelompok. Bukanya apa-apa, saya perhatiakan dari tadi, Baya cukup aktif memberikan usulan. Bagaimana teman-teman?” ungkap Ridwan sekaligus meminta persetujuan anggota kelompok.

“Setuju! Setuju! Setuju!” secara aklamasi pula, seluruh angota kelompok menyetujui usulan Ridwan.

“Jdear!!!” jantungku seperti meledak. Dadaku berdebar-debar. Bukan hanya perasaan terhormat sebagai sekretaris kelompok. Tapi ada perasaan aneh menghinggapi pikiranku—aku tangkap Ridwan tersenyum-senyum seperti menang perang, ketika seluruh anggota kelompok mengiayakan usulannya.

“Baik teman-teman sekalian. Kelompok kita ini tentu bukan kelompok arisan, bukan kelompok anak nongkrong, bukan pula kelompok penggemar artis. Akan tetapi, inilah kelompok mahasiwa, kaum terpelajar yang akan membawa perubahan desa tempat kita berkarya nyata. Soekarno pernah berkata, ‘Berikan aku seribu kaum tua, akan kupindahkan gunung berapi. Tapi, berikan aku sepuluh pemuda saja, akan kuguncangkan dunia!’. Sedangkan kelompok kita ini terdiri dari 20 kaum muda terpelajar, maka kita guncangkan jagad raya!” ungkap Ridwan sebagai kata penutup rapat siang itu.

***
Rombongan tiba sore hari di Desa Sambori. Pak Ahmad, Kepala Desa Sambori menyiapkan tiga rumah warga tempat kami menginap. Aku, Sita, Rahmah, Tina dan Rita akan tinggal di rumah Pak Ahmad. Sedangkan yang laki-laki dibagi dua kelompok. Separoh akan tinggal di rumah Pak Basri—beliau sekretaris desa. Sedangkan separohnya lagi, termasuk Ridwan akan tinggal di rumah Pak Jalal—beliau ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Kami lewati hari-hari di desa Sambori dengan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Program perbaikan sanitasi, lomba baca puisi, lomba bola volly, lomba menggambar dan lomba cerdas cermat menjadi program awal kami sebagai perkenalan dengan warga.

***
“Baya, pagi ini kita akan turun ke kota. Persediaan kertas HVS, spidol, pensil dan krayon untuk anak-anak yang akan mengikuti lomba menggambar habis. Sekalian kita telusuri proposal permohonan bantuan dana di kantor Pemda. Mudah-mudahan sudah bisa cair,” kata Ridwan mengajakku. Ia datang ke tempat penginapan kelompok putri, di rumah Pak Kades. Sebuah sepeda motor yang ia pinjam dari Pak Jalal tampak sudah siap di halaman.

“Loh, kenapa mesti aku yang diajak? Yang lain kan banyak?” jawabku.

“Sudahlah, Baya... Sana pergi. Iya, pergi sana... Hung uh..! Kami menyiapkan ruangan perlombaan saja...” kata Sita, Rahmah, Tina dan Rita berturut-turu dengan berbisik. Mereka mendesak aku pergi bersama Ridwan. Desakkan mereka tak didengar oleh Ridwan. Dan aku berharap, Ridwan tidak mendengarkannya. Aku khawatir Ridwan menggunakan alasan yang sama.

“Kenapa harus dengan Nurbaya? Yah, jelas dong. Untuk pencairan dana proposal yang kita ajukkan, dibutuhkan tanda tangan ketua dan sekretaris. Saudari Nurbaya adalah sekretaris kelompok yang telah membubuhkan tanda tangan. Bagaimana, cukup jelas, bukan?” jawab Ridwan. Sebuah jawaban yang tak aku sangka-sangka. Akhirnya aku menurutinya.

“Apakah tuan putri sudah siap? Kereta kencana telah siap membawamu terbang menuju negeri di awan,” ucap Ridwan. Dia telah siap di atas motor dalam keadaan hidup, menunggu aku naik.

“Pak, kalau ngojek, ngojak aja. Nggak usah lebai, gitu deh. Please dong, ah!!” jawabku disambut gelak tawa teman-teman. Kami pun meluncur ke kota.

Urusan proposal di kantor Pemda selesai. Belanja kebutuhan untuk lomba menggambar anak-anak sudah beres. Kini saatnya kembali ke lokasi Sambori. Setelah mengisi bahan bakar motor di POM bensin Ama Hami, Ridwan mengajak aku makan siang di sebuah warung di samping POM bensin.

Perjalanan kami lanjutkan. Belum terlalu lama meninggalkan warung tiba-tiba Ridwan mengambil haluan kanan. Motor berhenti di Pantai Lawata. “Tunggu... tunggu... tunggu... mau kemana neh, kog ga ada pemberitahuan sebelumnya?” tanyaku.

“Tenang aja, aku mau terapi mata sebentar.” Jawab Ridwan.

“Maksudnya?”

“Yah, perjalanan dari Sambori ke Kota sangat melelahkan. Mata jadi merah. Ada terapi sederhana untuk memulihkan lelah dan mata merah. Nanti lihat saja,” ujar Ridwan. Aku ikut saja. Lagi pula aku penasaran terapi sederhana macam apa yang akan ia lakukan. Hitung-hitung menambah pengetahuan baru.

Ridwan menghentikan motor di bawah naungan pohon waru. Begitu turun dari motor, ia membuka jaket dan sepatu. Ridwan langsung mendekat ke bibir pantai. Aku memperhatikan saja apa yang ia lakukan. Kedua kakinya masih menyentuh pasir, sementara kedua tangannya masuk ke air laut. Kemudian ia tenggelamkan mukanya ke dalam air laut. Ia celupkan mukanya berkali-kali.

“Ketika muka menyentuh air laut, mata harus dalam keadaan terbuka. Tujuannya agar bola mata basah oleh air laut. Debu dan kotoran dalam mata akan larut bersama air laut. Terbukti! Sekarang mataku terasa segar.” kata Ridwan menjelaskan.

“Wah, boleh juga terapimu. Ngomong-ngomong belajar dari mana?” tanyaku.

“Jangan salah. Ini warisan leluhur. Waktu kecil aku sering dibonceng ayahku ke kota. Setiap perjalanan kembali dari kota, ayahku mengajak singgah di pantai ini. Dan dia melakukan seperti apa yang baru aku lakukan. Ayahku juga menjelaskan padaku seperti aku menjelaskan padamu. Jadi, kamulah orang terpilih sebagai pewaris terapi ini,” ucap Ridwan.

“Loh, kok bisa aku?”

“Yah, karena aku memilihmu.”

“Kenapa kamu memilih aku?”

“Hanya Tuhan yang tahu. Sebab pertanyaanmu itu akan menanyakan kembali sederet peristiwa di belakangnya: Kenapa kamu kuliah di STKIP? Kenapa kamu bisa KKN dalam periode yang sama dengan aku? Kenapa kamu bisa kebagian lokasi KKN yang sama dengan aku? Kenapa kamu bisa jadi sekretaris kelompok?”

“Pertanyaan terakhir aku bisa menjawabnya: yah gara-gara kamulah yang mengusulkan. Jadi ada unsur kesengajaanmu,” kataku.

“Betul aku yang mengusulkan. Kenapa aku mengusulkanmu? Bukankah itu juga rahasia Tuhan.”

“Ok deh, kalau begitu. Tak mungkin menang berdebat denganmu. Dengan senang hati aku terima warisan leluhurmu.” ucapku.

“Nah, sekarang saatnya memperdalam. Kamu harus mencobanya. Aku harus memastikan, kamu melakukannya dengan benar,” kata Ridwan.

Aku nurut saja. Rasanya aku kehilangan kata membantah Ridwan. Aku pun melangkah ke hamparan pasir. Kedua kakiku menyentuh pasir. Perlahan kuturunkan kedua tanganku ke air. Perlahan-lahan kuturunkan muka ke air laut. Aku sedikit kehilangan keseimbangan.

“Maaf. Demi keselamatanmu, izinkan aku memegangi kedua pangkal lenganmu,” ucap Ridwan. Aku hanya mangut-manggut, tanda mengiyakan.

Aku berhasil mempraktekkan metode terapi penyegaran mata ala leluhur Ridwan. Aku merasakan, mataku benar-benar segar. Kami melangkah ke pinggir pantai. Lalu duduk di hamparan rumput kering di bawah pohon waru.

“Baya, aku mau mengatakan sesuatu padamu,” kata Ridwan. Ia menggeser duduk lebih dekat denganku.

“Bukannya kamu telah mengatakan banyak hal padaku hari ini? Kenapa baru sekarang ada pengumuman lebih awal sebelum mengatakan sesuatu?”

“Aku serius!”

“Berarti yang sebelumnya tidak serius dong? He he he... Ya. Ya. Ya... katakan saja. Mumpung gratis,” ucapku.

“Sudah siapkah kau dengarkan? Jika kau siap, tolong pejamkan matamu sejenak” ucap Ridwan.

“Yyyaaa... Tentu. Aku siap! Ba... baik” jawabku. Aku segera memejamkan mata. Ya ampun... sekarang tiba saatnya. Aku merasa bagai terpidana mati menunggu eksekusi: mata ditutup kain hitam lalu juru tembak akan mengarahkan moncong senjata, lalu memuntahkan peluru tepat di kepalaku.

“Baya, aku mau mengatakan.... aku mau...’proakkk’ kentut! Ha ha ha ha... waka ka ka....” Ridwan tertawa terbahak-bahak. Ternyata dia mau kentut. Ia tampak puas telah menjahili aku.

“Dasar! Cowok Jahil! Engmhhhh... bau, Tau? Puas yah? Udah ngerjain orang,” hardikku. Ini benar-benar mimpi buruk bagiku. Aku tak menyangka suasana romantis ini akan diluluhlantakkan semburan gas beracun Ridwan.

“He he he... yah, maaf. He he he... sekali lagi maaf. Emmm...Jika kamu mencari pria jujur dalam hidupmu. Yah, inilah aku dengan segala kejujuranku. Berani mengungkapkan kebenaran, mesti itu bau. Heheh....” kata Ridwan. Lagi-lagi berusaha mencari pembenaran.

“Jujur dari Hongkong! Jujur sih, jujur. Tapi baunya bikin pusing....”

“Ya, udah. Sekarang saatnya kembali ke Sambori. Udah keburu sore,” ucap Ridwan mengajakku pergi. Kami pun melangkah mendekati sepeda motor.

“Sebelum tuan putri menaiki kereta kencana ini, tolong buka dulu tasnya. Lihatlah sesuatu di kantong sampingnya,” ucap Ridwan.

“Jangan main-main, akh! Kamu pasti mau ngerjain aku lagi,” kataku. Aku enggan mengerjakan permintaannya. Aku tak mau seperti keledai bodoh—jatuh ke lobang yang sama untuk kedua kali.

“Ya, sudah. Kalau kamu nggak mau buka sekarang, yah setelah sampai di Sambori saja. Tapi ndak baik lho, sepanjang perjalanan, kamu membawa beban penasaran. Emang kuat, bawa beban sampai sana? Lagi pula, jalan pulang nanjak. Ya ampun.... berat amat,” kata Ridwan. Lagi-lagi, dia menggoda aku.

“Bismillah,” ucapku pelan. Aku tarik resleting kantong samping tasku. Di sana aku liha sebuah kotak sebesar bungkus rokok—dibungkus rapi dengan kertas kado merah muda bermotif jantung. Sebuah pita merah mengitari bagian tengah. Ujung-ujung pita membentuk simpul bak kupu-kupu. Aku robek sedikit ujung kertas pembungkus. Aku tarik ujung kotak. Sebuah lipatan kertas ada di dalamnya. Kujepit dengan ujung jempol dan ujung telunjuk. Lalu menariknya keluar. Aku buka dan aku baca:

“Baya, aku rasa tak perlu menghabiskan banyak kata untuk menjelaskan perasaanku padamu. Bagaimana sikapku kepadamu, sebagai NURBAYA, bukan sebagai sekretaris kelompok, cukup mewakili perasaanku. Tapi jika itu tidak cukup, pendek saja: Aku mencintaimu. Dan aku ingin menikah denganmu.”

Tiba-tiba aku merasa ringan. Kakiku seperti tak menyentuh tanah. Aku seperti kehilangan kesadaran. Ini memang bukan pengalaman pertamaku “ditembak” cowok. Sewaktu SMA aku pernah ditembak cowok dan mengajakku pacaran. Aku menolaknya. Sekarang aku tidak kaget. Tapi yang membuatku kaget, di zaman facebook ini, ada lelaki mengungkapkan perasaan cinta dan langsung ingin menikahiku.

“Jangan mempermainkan perasaanku.”

“Aku tulus. Aku sungguh-sungguh. Bagaimana denganmu?” Ridwan meluncurkan sebuah pertanyaan. Aku menatap wajahnya. Ada genanan air di pelupuk matanya.

“jika kamu sunguh-sungguh aku terima kau sebagai kekasihku. Tapi untuk menikah, temui orang tuaku di rumah, setelah selesai KKN nanti,” jawabku mantap.

Kami pun meluncur tinggalkan segala goresan kenangan di Pantai Lawata. Sesampai di perempatan Tolobai, Ridwan tiba-tiba mengijak rem. Di depan, sekelompok anak muda melambai-lambaikan tangan. Mereka meminta kami berhenti. Aku tangkap tanda bahaya. Aku sangat khawatir. Apa salah kami?

“Ada apa, Bang?” tanya Ridwan.

“Kita bicarakan di dalam saja,” ujar salah seorang pemuda yang berbadan tegap. Mereka menuntun Ridwan ke dalam sebuah warung.

Tak lama berselang, Ridwan keluar warung diikuti kelompok anak muda tadi. “Jangan khawatir. Mereka ini teman-temanku. Beberapa orang masih punya hubungan keluarga. Meski aku dan orang tua tinggal di Sila, ibuku bersal Tolobai,” ujar Ridwan. Aku menghela nafas panjang. Bersyukur tak terjadi seperti yang aku khawatirkan.

“Tapi begini, aku harap kau mau mengerti. Seorang warga di sini menjadi korban pembunuhan semalam. Teman-teman menuntut pelaku ditangkap. Mereka minta bantuanku. Sore ini juga aku harus bersama mereka guna menyusun strategi. Aku harap kau bersedia diantar Bang Usman ke Sambori. Dia kakak misanku. Aku nyusul setelah selesai urusan di sini. Di sana aku jelaskan panjang lebar,” ucap Ridwan.

“Baiklah,” jawabku. Kemudian aku langsung menaiki motor, dibonceng Bang Usman. Dia melambaikan tangan. “Hati-hati,” katanya. Aku balas lambaiannya. Hmm... begitu manis.

Malam telah larut. Ridwan belum juga kembali. Perasaan khawatir bergelanyut dalam benakku. Ada apa gerangan? Aku gelisah. Berkali-kali aku hubungi lewat telepon genggamnya, namun jawaban sama aku dapatkan, “nomor yang anda hubungi tidak aktif atau berada diluar jangkaun”. Pesan singkat yang kukirimkan, selalu saja masuk daftar tunda. Akhirnya aku tertidur tanpa kabar.

***

“Kau mainkan untukku... sebuah lagu... tentang negeri di awan.....” suara nada dering telepon genggamku membangunkan aku pagi ini. Setengah sadar aku meraihnya di samping tempat tidur. Aku berharap Ridwan menghubungiku. Di layar tampak nama “Bang Syahrir”.

“Baya, tolong kembali dulu ke rumah. Ama sedang sakit,” kata Bang Syahrir kakak Sulungku.

“Teman-teman, aku harus segera kembali ke rumah. Amaku sakit,” ucapku singkat pada teman-teman KKN. Bang Dirman, tukang ojek langganan mengantarku. Aku minta Bang Dirman melaju lebih kencang agar aku cepat sampai.

Belum sampai di rumah, di mulut gang aku jumpai sebuah mobil ambulan. Aku minta Bang dirman berhenti. Aku mengintip dari balik kaca ambulan. Aku lihat Bang Syahrir dan seorang perawat menemani Ama yang terbaring di matras. Jarum infus menancap di atas pergelangan tangan ama.

“Ama jatuh dari pohon nangka saat menebang dahan dan ranting. Waktu itu ama lagi nyari makanan kambing,” kata Bang Syahrir pelan. Dalam hati aku berdo’a, semoga tak terjadi sesuatu yang fatal pada ama.

Saat ambulan mendekati perempatan pasar kecamatan, kami terjebak macet. Aku tengok ke luar jendela—puluhan kendaraan numpuk di bahu kanan dan kiri jalan. Sementara deretan kendaraan di depan kami berjalan lambat. Di belakang kami, juga diikuti kendaraan sejauh mata memandang. Suara sirine ambulan yang mengaung-ngaung tak diindahkan lagi. Sebab kendaraan di depan sudah tak ada ruang gerak untuk menghindar. “Ya, Tuhan... apa yang terjadi?” kataku dalam hati.

“Pak, sebaiknya ambil jalur lingkar luar saja. Di depan ada pemblokiran jalan oleh sekelompok warga,” kata seorang pria yang secara sukarela mengatur kemacetan lalulintas. Sopir ambulan pun nurut. Sebab di depan, sepanjang jalan, ratusan kendaraan yang terlanjur mengarah ke sana macet total. Tidak bisa bergerak sama sekali. Tidak ada pilihan lain, kami harus menuruti pria tadi.

Jalur lingkar luar diambil pun tidak menjamin lancar. Oleh karena seluruh kendaraan harus melewati jalan nan sempit itu, maka kemacetan terjadi setiap saat. Jalan beberapa meter, berhenti lagi. Lebih dari tiga jam, baru kami bisa lepas dari kemacetan.

Sesampai di rumah sakit umum daerah, ama langsung dimasukan di ruang UGD. Aku dan Bang Syahrir duduk di depan UGD, menunggu hasil kerja tim medis yang menangani ama. Secara tak sengaja aku mendapat selembar koran yang ditinggalkan oleh penunggu pasien. Aku pun membacanya:

“.....menurut Ridwan, pemimpin kelompok pemblokir jalan di perempatan Tolobai, kelompoknya tidak akan membuka blokir sampai pihak kepolisian bisa menangkap pelaku pembunuh rekan mereka. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Ruslan, warga Tolobai meninggal setelah ditusuk senjata tajam di sebuah kafe pinggir kota.....”

Belum selesai aku membaca berita koran, petugas memanggil Aku dan Bang Syahrir.Kami, tim dokter yang menangani ayah saudara telah berusaha semaksimal mungkin untuk memulihkan kondisi beliau. Beliau mengalami pendarahan hebat di kepala. Seharusnya cepat ditangani. Beliau terlambat sampai di rumah sakit. Kita manusia hanya bisa berusaha. Adalah sebuah keniscayaan kita mempercai semua ketentuan Tuhan. Dan hari ini, Tuhan telah menentukan—ayah saudara mendapat giliran lebih dulu dari kita menghadap Tuhan. Relakan kepergian beliau,” ungkap dokter yang menangani ama.

Aku tak menyangka Ama tercinta akan pergi begitu cepat dengan cara yang mengenaskan. Itu takdir. Tetapi kata-kata dokter masih terngiang di telingaku, “....Beliua terlambat sampai di rumah sakit...”. Sementara di potongan koran yang kubaca, “....menurut Ridwan, pemimpin kelompok pemblokir jalan, kelompoknya tidak akan membuka blokir sampai pihak kepolisian menangkap pelaku....”. Dalam hati, aku mengutuk perintang jalan, hingga abulan yang membawa ama terkatung-katung selama tiga jam dalam kemacetan.

Jenazah ama dikebumikan sore itu juga. Air mata kenangan dan mengantar kepergiannya. Ridwan tak hadir di saat jiwaku rapuh butuh penyangga. Dia sedang di garda terdepan muwujudkan “perjuangannya”.

Bima, 30 Maret 2013

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon