Minggu, 03 Maret 2013

Belajar Dari Guru Rao

Ilustrasi menanam
Apa pun yang kita petik hari ini adalah apa yang kita tanam kemarin. Apa yang kita tanam hari ini adalah apa yang akan kita petik esok. Jika kemarin kita tak pernah menanam apa pun, hari ini tak pernah memetik apa pun. Dan, jangan berhap ada sesuatu yang akan kita petik esok bila hari ini kita tak pernah menanam.


Pandangan lelaki tua itu teduh. Tutur-katanya santun. Meski yang diajak bicara adalah aku. Aku yang seumuran dengan cucunya yang paling kecil. Setiap kata yang ia ucapkan, kuat. Sekuat otot-otot tangannya yang masih tampak kekar meski telah dimakan usia.

Guru Rao, begitu orang-orang desa menyapanya. Nama sebenarnya Surya. Sebagaimana kelajiman tradisi masyarakat Bima, orang yang dituakan tak boleh langsung disebut nama aslinya. Orang yang lebih muda harus mengubah nama panggilannya. Semisal Surya menjadi Rao. Ahmad menjadi Hima. Bakar menjadi Beko, Rajak menjadi Rejo. Aminah menjadi Mene. Kalisom menjadi Sei, dan seterusnya.

Mendapat gelar guru, bukan karena lantaran ia pernah mengajar di sekolah formal. Akan tetapi ia adalah seorang guru ngaji semanjak usia muda. Guru Rao tak hanya mengajar membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan lafalan yang benar. Tetapi, lebih dari itu. Setiap hal yang ia kerjakan adalah sebuah tindakan sadar yang bersumberkan pada ayat-ayat suci.

Guru Rao membumikan Al-Qur’an dalam arti “membumikan” sebenar-benarnya. Sebab, banyak orang salah kaprah “membumikan Al-Qur’an. Termasuk misi pemimpin daerah ini. Program membumikan dilakukan dengan cara pengadaan Al-Qur’an sebanyak-banyaknya. Menyantuni Guru Ngaji di desa-desa dan pelosok. Dipikirnya cukup sampai di situ. Sementara, jurang antara apa yang tertulis dalam Al-Qur’an dengan apa yang terjadi dalam masyarakat semakin mengagah.

Membumikan Al-Qur’an versi Guru Rao, ia lakukan dengan cara berbuat dan bertindak sesuai apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Menurutnya, menyucikan dan memuliakan Kitab bukanlah dengan cara memperlakukannya seperti barang-barang pusaka; disimpan rapat-rapat di dalam lemari berbalut kain kafan. Sekali lagi tidak begitu!

Pada masa kanak-kanakku, aku sering menghabiskan waktu bersama teman-teman pergi bermain di pinggir sungai. Untuk menuju ke sungai, kami harus berjalan kaki dan melintasi sebuah perkebunan luas juga rindang.

Di kebun itu, tumbuh subur berbagai jenis tanaman dan pohon buah-buahan. Berbagai tanaman bukan endemik daerah ini, seprti: Sawo, Salak, Rabutan, Kakao, Kopi, Durian, Markisa dan hampir seluruh tanaman rempah tumbuh subur di kebun Sang Guru.

Di dalam kebun itu, ada pula sebuah telaga nan jernih. Kami kadang mampir berteduh, mencuci kaki, juga meminta buah sekedar untuk makan pada pemiliknya. Si pemilik pun dengan senang hati mememetik buah untuk dibagikan kepada kami. Pemilik kebun itu tak lain, ialah Guru Rao.

Semua peristiwa itu berlangsung 18 tahun silam. Sebelum aku meninggalkan desa untuk melanjutkan pendidikan menengah pertama di kota, hingga kuliah di Pulau Bali. Meski lama waktu berlalu, rindang dan sejuk kebun Guru Rao begitu melekat bersama kenangan masa kecilku.

Sekarang aku duduk berdampingan dengan Guru Rao di atas Sarangge (bangku bambu) buatan tangan Guru Rao, beralas tikar pandan anyaman Ina Lahu (Julaiha), isteri Guru Rao. Di atas Sarangge tengah berlangsung dialog antar dua generasi yang mewakili jamannya masing-masing.

Keadaan membawa aku akrab dengan Sang Guru. Kebun Sang Guru kina tak lagi seluas dulu. Kebunnya dulu seluas kira-kira setengah lapangan sepak bola tinggal seperdelapan. Selebihnya telah dibagi bersama sanak saudaranya. Dan orang tuaku membeli sebagian tanah dari saudara Guru Rao. Letaknya persis berdampingan dengan kebun Guru Rao.

Delapan belas tahun memang bukan waktu yang singkat. Selama aku meninggalkan desa telah banyak perubahan terjadi. Lebih-lebih perubahan fisik lingkungan desa. Kebun Guru Rao yang dulu terletak cukup jauh dari pemukiman warga, kini hanya dipisahkan oleh sepetak sawah dari pemukiman warga.

Hatiku terenyuh menatap perubahan ini. Telaga nan jernih tempat kami bermain dulu, kini telah dipenuhi sampah. Pembeli tanah, tempat telaga tersebut berada memang sengaja menimbunnya. Membiarkan warga sekitar membuang sampah di situ agar tak terlalu makan biaya penimbunan. Tak lama lagi di atasnya akan dibangun rumah. Pohon sawo yang telah berumur puluhan tahun tak jauh dari telaga juga terancam akan ditebang.

Sembari mendengarkan cerita Sang Guru, kuisap asap tembakau dalam-dalam, lalu menyeruput kopi coklat nan gurih racikan Ina Lahu. Kopi dengan cita rasa tersendiri, tak pernah kunikmati sebelumnya. Selain biji kopi, Ina Lahu menambahkan biji-biji kakao dan beberapa iris jahe saat menggoreng. Semua bahan dari hasil kebun sendiri.

“Lebih dari 40 tahun kami telah tinggal di kebun ini. Segala kebutuhan sehari-hari kami petik dari kebun. Sayur-sayuran, rempah-rempah dan buah-buahan berlimpah. Beberapa petak sawah kami tanami padi. Di belakang rumah kami pelihara ayam dan itik. Jadi, sudah tak ada lagi yang perlu kami beli untuk dimakan. Hannya sesekali kami membeli ikan,” tutur Guru Rao.

Selanjutnya, Guru Rao menuturkan, kelebihan hasil kebun dan sawah dijual untuk memenuhi kebutuhan lain. Tak perlu dibawa ke pasar, setiap saat ada saja orang datang membeli hasil kebun. Mereka biasanya pedagang sayur dan buah di pasar.

Saat ada hajatan warga, semisa;l sunatan, pernikan, selamatan haji, Guru Rao kewalahan memenuhi permintaan. Khusus untuk kebutuhan hajatan warga, Guru Rao tak mematok harga, sekedarnya saja, karena sebagian diangap sumbangan untuk yang berhajat.

Bagi Guru Rao, sudah sepantasnya warga sekitar juga ikut menikmati hasil dari apa-apa yang ia tanam di kebun. Ia menganggap, sebagian memang sudah merupakan hak mereka. Disamping itu, berbagi adalah sebuah kenikmatan tersendiri.

“Memang saya yang telah menanam, Al-Khalik sesungguhnya yang telah menumbuhkan, memberi buah dan hasil yang melimpah. Segala kenikmatan yang diberikan oleh-Nya patut kita syukuri. bersyukur dengan berbagi pada sesama,” ucap Guru Rao mengakhiri perbincangan kami di sore itu.

Aku melangkah pulang meninggalkan Guru Rao dan Ina Lahu. Kugenggam arat-arat benih pelajaran hidup baru kudapatkan. Kumaknai dalam-dalam setiap jengkal jejak kata “menanam” agar benih pelajaran ini dapat tumbuh subur, hingga bermanfaat untukku dan sesama.


Ilustrasi : Google Image

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon