Kamis, 21 Maret 2013

Anjing ?

Sesampai di kebun, sambil bersiul-siul santai, aku angkat sebilah papan di tumpukan kayu. “Gouk! Gouk! Gouk!”tiba-tiba seekor anjing menyalak garang. Gestur anjing itu siap menyergap aku. Rupanya ia kaget dan merasa terancam.

“Anjing!!!” hardikku kaget sembari melompat. Rupanya ada seekor induk anjing bersama anaknya yang kecil. Umur anaknya mungkin belum genap seminggu. Anjing-anjing itu berteduh di bawah tumpukan kayu.

Gonggongan induk anjing beranak kecil menyiutkan nyaliku. Aku menjauh dari tumpukan kayu. Menurut cerita yang ku dengar: anjing beranak kecil tak segan-segan menyerang dan menggigit apa saja yang dianggapnya mengancam keselamatan keluarganya. Jadi, mendingan aku menjauh, ketimbang cerita itu terjadi padaku.

Aku timbang-timbang keputusan terbaik. Harus aku apakan anjing-anjing ini—mengusir paksa? Atau membiarkan tetap ada di situ? Akhirnya aku putusakan: biarlah mereka tetap di situ. Sekalian, mereka ku tugaskan sebagai penjaga kebun.

Kekhawatiran terbit dalam pikiranku. Setelah mereka menerima mandat sebagai penjaga, jangan-jangan malah aku nanti dianggap musuh. Aku harus mencari akal untuk menjalin persahabatan dengan mereka. Ini berarti kerja-kerja diplomasi sedang dimulai. Soal diplomasi, aku telah mimiliki pengalaman dalam beberapa urusan pekerjaan. Tapi diplomasi kali ini beda—diplomasi dengan ajing.

Setiap datang ke kebun, aku selalu menyisihkan bekalku untuk diberikan pada anjing-anjing itu. Aku mulai menyukai mereka. Sebaliknya, mereka juga tak lagi menganggap aku musuh. Perhatian lebih aku berikan pada si kecil. Dia begitu lincah dan lucu. Sampai akhirnya terpikir olehku untuk memberikan ia nama.

Barak Obama alias BOMA, sebuah nama yang aku berikan. Seperti orang tua memberi nama anak, tentu tak sembarang. Di dalam nama terdapat harapan. Di dalam nama mengandung kekuatan—ketika nama diucapkan, ia terdengar seperti mantra. Nama adalah juga apresiasi pada sesuatu yang diidolakan. Dan pada nama BOMA, aku berharap menjadi sebuah simbol penerimaan segala lapisan. Bagai Barak Obama, presiden kulit hitam pertama di Amerika Serikat yang dicintai oleh si hitam, putih maupun coklat.

Boma kecil gesit dan pintar. Berulang-ulang aku terus memanggil namanya. Dua hari pertama ia masih cuek. Pada hari ketiga, ia mulai familier dengan nama yang aku berikan. Aku mengambil pelajaran darinya—bahwa sesuatu yang terus diulang menjadi terbiasa. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Boma ketika aku menyebut kata “boma”. Tapi yang jelas, ketika kata itu aku ucapkan, dia selalu berlari ke arahku.

Boma tidak mengerti apa arti nama. Tapi ia mengerti “boma” adalah dia. Juliet salah, telah mengatakan pada Romeo, “apalah arti sebuah nama”. Padahal nama sangat berarti. Setidaknya, Boma bukan bima, bama, bemo, apa lagi bumi. Terbukti! Sewaktu aku memanggil Boma dengan sebutan lain, ia tak berpaling sedikit pun. Bahkan pernah aku memanggilnya “anjing”, ia tetap tak menoleh.

Boma tak pernah sekali pun tak berpaling ketika ku sebut namanya: sesibuk apa pun dia, seasyik apa pun ia bermain. Aku memanggil Boma tak selalu memberi makan, kadang iseng saja. Boma tetap menurut walau dipanggil tanpa makanan.

Pernah aku memanggil nama anak tetangga yang sedang bermain gunduk bersama teman-temannya, ia tak berpaling. Padahal aku tahu dia mendengarkan. Ketika di kesempatan lain aku memanggil nama anak itu dan langsung, “ini permen”, secepat kilat ia berpaling dan berlari ke arahku.

Boma bukan hanya bunyi sebagai alat pemudah aku memanggil anjing kecil itu. Boma menjadi sarana interaksi sosial. Didi, keponakanku, mengatakan Boma sudah terkenal di sekolahnya. Anak-anak SD yang kerap mencari jamur di sekitar kebunku telah akrab dengan Boma. Mereka menceritakan pada teman-temanya tentang Boma lincah dan lucu. Tak jarang, anak-anak datang ke kebunku hanya untuk mencari Boma. Aku kalah tenar dibanding Boma.

Pengetahuanku tentang anjing sangat buruk. Semula aku menyangka Boma sebagai anjing jantan. Aku hanya melihat badanya yang kokoh. Tak sempat memeriksa sedetail-detailnya. Sampai akhirnya, dua orang anak usia SMP saling bertaruh. Dari jauh mereka saling menebak jenis kelamin Boma. Mereka periksa badan Boma. Aku kaget, ternyata anak yang menebak betina menang taruhan.

Aku merasa sangat bersalah pada Boma. Aku merasa nama Boma tidak tepat untuk anjing betina. Bomi, Mimi, Missi atau Sisi mungkin lebih tepat untuknya. Aku bermaksud mengganti nama Boma. Tapi segera ku urungkan niat. “Sebentar! Sebentar!” ucapku dalam hati. Apakah kata juga berjenis kelamin? Hingga aku harus mengganti nama Boma. Boma untuk jantan. Bomi untuk betina. Perbedaanya hanya pada uruf “a” dan “i” dibelakangnya.

Sehari aku tak bermain dengan Boma. Aku sibuk bermain dengan pikiranku sendiri: memikirkan tentang nama itu. Yang lain, kesalahanku mengidentifikasi jenis kelaminnya. Tidak biasanya orang mengasuh anjing betina sebagai anjing penjaga. Bila mendapat induk dengan beberapa ekor anak, mereka akan mengambil anak jantan, anak betina ditinggal bersama induknya. Anjing betina dianggap lemah, tak garang, malas menggonggong dan tidak keren. Intinya, anjing peliharaan adalah citra pemiliknya.

Sekarang aku dirundung dua masalah: nama Boma dan Anjing Betina yang aku pelihara. Haruskah aku buang Boma, demi gengsi dan citra yang dibangun oleh orang di luar kesendiranku?

Dalam kebimbangan, aku teringat kisah Yudistira yang meminta masuk surga bersama anjingnya. Konon, setelah kematian Krisna, Pandawa Lima melepaskan diri dari urusan duniawi. Mereka melakukan perjalanan terakhir menuju surga, melalui pendakian puncak Himalaya. Yudistira menemukan seekor anjing di kaki Gunung Himalaya. Anjing itu menjadi teman setia perjalan Pandawa Lima. Di tengah perjalanan empat orang saudara Yudistira meninggal satu per satu. Yudistira tinggal sendiri bersama seekor anjing sampai di puncak Himalaya.

Dewa Indara menjemput Yudistira dengan kereta kencana menuju surga. Dewa Indara meminta Yudistira meninggalkan anjing itu bila ingin ke surga. Sebab Anjing dianggap binatang tidak suci. “Lebih baik aku tidak ke surga bila tidak bersama anjing yang setia ini,” kata Yudistira pada pada Dewa Indra. Akhirnya, Yudistira diperbolehkan bersama anjinnya ke surga. Dewa Indra ternyata hanya menguji kesetiaan dan ketulusan hati Yudistira.

Kemudian ada lagi kisah nyata tentang kesetiaan anjing di Jepang. Sampai-sampai di depan Stasion Shibuya, Tokyo, kisah anjing yang bernama Hachi itu diabadikan dengan sebuah patung.

Sebuah keluarga memelihara Hachi dengan baik. Hachi diperlakukan seperti anaknya sendiri. Keakraban Hachi dengan tuannya telah berlangsung bertahun-tahun. Setiap tuannya berangkat kerja di pagi hari, Hachi selalu mengantarkannya sampai di Stasiun Shibuya yang tak begitu jauh dari rumah. Begitu pula di sore hari, Hachi selalu berangkat ke Stasion Shibuya untuk menjemput Tuannya.

Sampai suatu hari, majikan Hachi meninggal di kota tempatnya bekerja. Tuannya dimakamkan di daerah asalnya, tidak dibawa pulang ke tempat tinggalnya. Berhari-hari Hachi mendatangi Stasiun Shibuya menantikan kepulangan tuanya yang tak akan pernah pulang kembali. Kisah Hachi menjadi lambang kesetiaan seekor anjing pada tuannya. Patung Hachi di depan Stasiun Shibuya menjadi tempat orang membuat janji bertemu.

Kemudian, aku tak tahu persis sumbernya, tapi aku pernah mendengan kisah seorang perempuan pelacur dengan seekor anjing. Suatu malam pelacur itu pulang dari tempatnya melacurkan diri. Di tengah perjalanan ia menjumpai seekor anjing terperosok ke dalam lubang. Kondisi anjing itu mengenaskan, hampir mati. Perempuan itu berniat menolong sang anjing. Ia ingin memberinya minum, tapi tak ada benda apa pun sebagai wadah. Perempuan itu kemudian membuka sepatu dan memberikan minum anjing dengan sepatunya. Konon, perempuan ini masuk surga atas budi baiknya, walau ia seorang pelacur.

Kisah Yudistira dengan anjing masuk surga, Hachi yang setia dan pelacur masuk surga berkat menolong anjing, semuanya kisah baik tentang anjing. Pada kesempatan lain aku menemukan anak tetanggaku babak belur dihajar temannya, gara-gara ia mengatakan “anjing!!!” pada temannya. Begitu burukkah anjing? Hingga anak tetanggaku harus menerima derita teramat berat.

Boma....Boma. Dalam kisah yang aku tahu, tentang kisah anjing-anjing setia, tak pernah disebutkan jenis kelaminnya. Juga tak pernah dipersoalkan tentang nama. Yang jelas Boma setia seperti anjing yang dikisahkan.

“Betina tidak apa-apa. Postur anjing ini bagus. Nanti pasti akan melahirkan anak-anak yang bagus,” kata Ama Kero: penjaga ladang jagung keluarga kami. Boma meronta-ronta dalam karung. Ama Kero membawanya ke ladang. Boma mendapat panggilan tugas baru di sana. Aku merelakannya. Dan, Boma akan menjadi kisah anjing yang berguna.
Pagi ini aku pergi ke kebun untuk melanjutkan sisa kerjaan kemarin: memaku papan kandang ayam. Seminggu sudah aku bergumul di kebun, demi wujudkan impian memiliki kandang ayam kampung. Pergi pagi, pulang sore. Begitu rutinitasku seminggu ini.

Gambar : Google image

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon