Kamis, 28 Februari 2013

Ni Luh Kadek Arina

Ilustrasi : Turinih alias Ninih, penjual getuk keliling berubah penampilan usai didandani kru stasiun televisi.
Ni Luh Kadek Arina, namamu. Tidak masuk deretan wanita Bali paling hebat. Apa lagi menjadi wanita berprestasi, seperti sederet nama wanita Bali yang sering dimuat di koran-koran lokal.

Kau wanita biasa. Kau hanya penjual nasi jinggo. Usiamu mengijak 20 tahun, sangat muda untuk menanggung beban kehidupan.

Saat yang sama gadis belia seumuran sedang asyik perbaharui status di laman facebook, kadang hanya ingin bilang, “hufff, kacian si doggy, dah dibeliin makanan mahal, masih ga mau ma’am….gmana dunk…bagi tips buat nambah nafsu makan ajing dunk?”

Setiap tatapan, selalu menaroh curiga. Sangat sulit memang! Di zaman yang katanya peradaban semakin maju, pertumbuhan ekonomi makro semakin meningkat, seperti dikabarkan di media massa saat ini, orang hidup penuh curiga.

Di era facebook ini juga orang semakin pandai menghaluskan kata-kata. "Bukannya curiga, tapi waspada," begitu katanya. Bahkan kau dan puluhan pedagang nasi jinggo sepanjan Jalan Gatot Subroto, Denpasar, sering dijuluki "dakocan" alias pedagang kopi cantik. wah, wah, wah... ada-ada saja istilah dari "damara", sebuah istilah yg aku buat sendiri. Damara alias pemuda mata keranjang. He he he...

Terimakasih, dua nasi bungkus daun pisang, segelas teh hangat menghidupkan bicaramu padaku, semalam. Bagiku, kau istimewa. Menaklukan malam demi kepulan asap di dapur esok pagi. Juga memastikan adik-adikmu berangat sekolah dengan bekal uang jajan, sama seperti anak-anak lain.

Kau ada di bagian akhir liputan malamku, tapi kau akan menjadi inti dari berita kehidupan yg akan kutulis untuk dikabarkan pada dunia. Bagiku, kau pun layak menyandang pahlawan kehidupan. Sama seperti Gatot Subroto, nama jalan tempatmu berjualan.

Aduhai....Arina. Berkat nasi yang ku makan. Aku masih punya cadangan daya tubuh, hingga sisa malam dapat kulewati dengan sederet kata yang terurai pada layar komputer jinjingku.

Aduhai....Arina. Di masa peralihan malam dijemput pagi, aku tertidur lelap. Ups! Aku bermimpi! Kau pun hadir dalam mimpi itu. Bukan mimpi yang enggak-nggak, seperti mimpi anak lelaki menginjak remaja. Aku melihat kau dan kawan-kawanmu didatangi oleh petugas Satpol PP. Kalian diangkut! Katanya kalian telah menggangu pemandangan kota. Apa lagi Kota Denpasar kan, berpredikat Kota Budaya! Arina... Arina....malang betul nasibmu....

Masih dalam mimpi. Aku hanyalah orang biasa. Tak punya pangkat atau jabatan. Hanya seorang kuli tinta yang memburu berita untuk diwartakan pada khalayak. Aku tak punya kuasa membebaskanmu. Aku pacu sepeda motorku, membuntuti mobil Satpol PP dari belakang.

Tiba-tiba mobil Satpol PP paling belakang behenti. Aku pun berhenti. Salah satu petugas berbadan tegap menghampiriku,"ada apa! kok ikut-ikut? Kamu mau saya angkut juga!" tanya petugas dengan nada garang. "Ampun, bli. Saya wartawan, cuma mau lihat-lihat saja." Setelah itu dia pun mebiarkan aku ikut.

Arina, kalian ditahan di kantor Satpol PP. Aku pun hanya bisa menunggu di lobi kantor. Tak tahu apa yang akan terjadi pada kalian. Katanya, besok pagi kalian akan dihadapkan pada Bapak Gubernur Mangku Pastika, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian. Hal itu aku tahu dari desas-desus di antara petugas.

Puncak mimpi. Ternyata! Gertakan petugas memang bukan gertakan sambal, Arina. Kalian, dengan pernak-pernik jualan; seperti meja, termos, bangku dan keranjang nasi digiring ke tengah Lapangan Renon. Lapangan yang berhadapan dengan kantor gubernur. Kalian sepertinya bakal dipermalukan. Menjadi tontonan massa rakyat yang telah berkumpul di sana. Para pegawai dari berbagai instansi pemerintah juga sudah ada di sana. Kalian dibariskan di tengah lapangan.

Aku mengintai di DPR, alias "Di bawah Pohon Rindang", yang memang kebetulan dekat kantor DPRD Bali.

Dari jauh, sayup-sayup kudengar pidato Bapak Gubernur, "saudara-saudara sekalian, masyarakat Bali. Atas perbuatannya. Maka, mereka akan menanggung akibatnya.Tidak saya hukum. Tetapi, pada hari ini, saya sebagai Gubernur Bali akan memberikan pengharagaan atas perbuatan baik mereka. Ni Luh Kadek Arina dan kawan-kawan pantas menyandang pahlawan ekonomi rakyat Bali. Dan, mereka akan diberikan hadiah khusus sebagai modal usaha," kata Gubernur Mangku Pastika. Dismbut tepuk tangan yang meriah.

Arina..... aku berlari menghampiri dirimu untuk beri ucapan selamat. Seperi adegan di film-film India itu. Aku memelukmu erat. Tak lupa cipika-cipiki. Sampai akhirnya aku terbangun. Eh...ternyata bantal guling masih lekat dipelukan. Sampai-sampai aku sadar, semua mata facebooker melihat adegan konnyol ini.

Mereka menertawaiku. Ah, tak mengapa. Kalau kutahu laman facebook Bapak Gubernur, tentu kutandai juga beliau dalam catatan ini. Sebab, malam ini hanya mimpi, siapa tahu esok Pak Gub benar-benar mewujudkannya. Eh, tapi tenang. Para facebooker juga ada orang-orang yang sering ketemu Pak Gub kok! Mungkin saja mereka akan mengabarkan mimpi ini. Sehingga orang-orang sepertimu juga patut, pantas dan butuh perhatian pemerintah. [Sang Bima]

Semoga, Arina! [MK]

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon