Kamis, 28 Februari 2013

Negara Memiskinkan Mereka

Ilustrasi pemulung
Realitas pemulung jalanan di kota Yogyakarta menjadi sebuah wacana yang menarik untuk dikaji. Dalam sebuah budaya dominan masyarakat kota, pemulung jalanan selalu menjadi “kambing hitam” ketika masalah ketertiban, keamanan, kebersihan dan segala macam permasalahan lainnya mencuat.

Yogyakarta sebagai kota nostalgi dianggap laku untuk dijual, dimanfatkan, dan dieksploitasi oleh sekelompok orang yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu. Termasuk didalamnya adalah elit pemerintahan setempat.

Maka, dibangunlah sebuah ilusi-ilusi seperti Yogya sebagai kota budaya, Yogya sebagai kota pelajar, Yogya sebagai kota pariwisata, Yogya sebagai kota perjuangan dan Yogya yang berhati Nyaman. Semua jargon-jargon ini pada akhirnya hanya menghasilkan sebuah proses marginalisasi kaum pinggiran, termasuk didalamnya adalah pemulung jalanan.

Buku yang ditulis oleh Y. Argo Twikromo awalnya adalah sebuah tesis untuk memperoleh gelar Master of Art dalam bidang antropologi, Faculty of the Graduate School of Arts and Sciences, Atenco de Manila.

Dalam tulisannya, Argo mampu mendiskripsikan secara gambalang tentang kehidupan pemulung jalanan di kota Yogyakarta. Bentuk penulisannya sangat sistematis sehingga memudahkan pembaca dalam memperoleh persepsi tentang pemulung.

Bahan dan data yang diperoleh penulis nampaknya didapatkan melalui pendekatan yang cukup dalam di kalangan pemulung sendiri. Hal ini dapat kita lihat dari petikan-petikan langsung beberapa pernyataan pemulung yang dimuat dalam buku ini.

Salah satunya adalah pernyataan Parowi, seorang pemulung jalanan dalam mengungkapkan sikapnya terhadap kecurigaan warga kota yang berlebihan terhadapnya sebagai berikut :

“Jika saya terlalu merisaukan tatapan mata yang mengandung penghinaan dan kecurigaan dari wong kampung, maka kerja saya tidak akan mendapatkan apa-apa. Saya harus mengabaikan hal tersebut karena hanya akan menggangu dan membuat saya menderita.”

Perjuangan pemulung jalanan sungguh berat. Mereka tidak hanya bergelut dengan sampah dari tong yang satu ke tong yang lain. Lebih dari itu, mereka harus mampu bertahan dari ancaman yang datang dari kalangan mereka sendiri.

Mereka harus mampu menghindari setiap razia yang dilakokan oleh petugas. Selain itu, mereka harus menghadapi berbagai macam kecurigaan dan pandangan warga kota yang begitu menyudutkan. Bahkan pemulung jalanan tidak dapat diletakkan dalam strata sosial yang paling rendah sekalipun, karena mereka sengaja dicampakkan dari sistem sosial yang ada.

Di bagian akhir bukunya, Argo menarik beberapa kesimpulan dari hasil studinya. Ia menyimpulkan bahawa hubungan antara pemerintah dengan pemulung jalanan sengaja dijauhkan oleh hegemoni pihak tertentu, karena pemulung jalanan dianggap sebagai penghambat idiologi pembangunan kota.

Disamping itu, cara yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani pemulung jalanan dengan menggunakan pola-pola represif, preventif dan kuratif tidak efektif dalam menyelesaikan persoalan.

Dan akhirnya, apa yang diamanatkan oleh UUD 1945 pasal 34 yang menyatakan secara jelas bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara hanayalah menjadi sebuah mimpi belaka.(Sang Bima)

Ilustrasi : Anak-anak Pemulung (Google Image)
Judul Buku : Pemulung Jalanan Yogyakarta - Konstruksi Marginalitas Dan Perjuangan Hidup Dalam Bayang-Bayang Budaya Dominan; Penulis : Y. Argo Twikromo; Penerbit : Penerbit Media Presindo; Tahun Terbit : 1999; Tebal : 288 + xii Halaman

Comments
4 Comments

4 komentar

saya ingin sekali mendapat kan buku tersebut namun susah sekali, kalau boleh tahu anda mempunyai link untuk membeli buku tersebut ?

Terima kasih atas tulisannya.
Salam,
Argo

Sy dulu mendapatkan buku itu dari seorang teman di Jogjakarta.

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon