Rabu, 02 Januari 2013

Talangsari 1989

Ilustrasi
Kesaksian Korban Pelanggaran HAM Peristiwa Lampung

Pada suatu hari yang cerah, sebuah pesta tengah berlangsung. Semua yang hadir tampak tersenyum bahagia. Segala makanan yang super enak terhidang sempurna di atas meja makan. Alunan musik membuai, sodorkan kegembiraan. Tak ada yang tahu, di bawah meja makan itu ada jutaan mayat terkubur.

Ada yang tahu, tapi berusaha melupakannya. Ada yang curiga, tapi tak punya keberanian berkata. Sebab jika itu terkuak, maka rusaklah cita rasa semua yang hadir. Jika itu terjadi, maka siapa yang melakukannya sudah tentu dituduh pengacau. Tak ada yang berani ambil resiko.

Narasi di atas adalah gambaran kondisi Bangsa Indonesia dewasa ini. Kita sedang menikmati alam kemerdekaan. Derap laju pembangunan telah menyita perhatian publik. Janji kesejahteraan telah menjadi mantra menyilaukan pandangan. Perhelatan domokrasi silih berganti. Dan, kita lupa, berbagai peristiwa pelanggaran HAM masa lalu adalah luka bangsa yang tak kujung terobati.

Adalah Fadilasari, salah satu dari sedikit orang yang punya keberanian mengingatkan kita. Ia berani mengambil resiko, dituduh perusak “pesta”. Merusak selera umum. Sebuah buku yang berjudul “Talangsari 1989: Kesaksian Korban Pelanggaran HAM Peristiwa Lampung” adalah sebuah upaya mengobati penyakit lupa tengah kita derita.

Sebagai seorang jurnalis, Fadilasari giat mengumpulkan berbagai serpihan fakta melalui proses reportase yang mendalam. Ia melakukan wawancara langsung dengan korban dan saksi, mengumpulkan data-data sekunder dari berbagai sumber, dan observasi langsung ke lokasi peristiwa Talangsari. Hingga akhirnya konstruksi utuh peristiwa kemanusiaan Talangsari dapat kita baca.

Barangkali Fadilasari sadar, membaca peristiwa sejarah bagi kebanyakan orang membosankan. Maka, mantan pemimpin redaksi surat kabar mahasiswa Teknokra Universitas Lampung ini punya kiat tersendiri. Gaya tulisan dibuat seperti berita kisah.

“Hingga kini, Warsito bersama 20-an kawannya dari Sidorejo tak pernah kembali. Harapan mereka untuk menjadi santri di pesantren Cihideung, hangus bersama tubuh mereka yang terbakar di ladang pembantaian itu.” Begitulah Fadilasari menggambarkan kisah seorang anak, murid kelas V Sekolah Dasar yang belum genap berusia 11 tahun jadi korab Peristiwa Talangsari. Siapa yang tak tersentuh menyimak kisah kemanusiaan seperti ini.

“Aku lihat puluhan tentara ada di situ. Ketika aku memandang ke sekitar, badanku langsung lemas. Ternyata semua bangunan pondok sudah habis terbakar. Suara teriakan minta tolong dan bau daging terbakar menusuk hidung. Ya Allah, apa yang sedang terjadi sebenarnya? Mayat-mayat bergelimpangan, bersimbah darah. Tiba-tiba mataku tertuju pada sosok tubuh yang sangat mengenaskan. Tubuh itu terpisah dari kepalanya. Aku penasaran tubuh sipakah itu. Setelah aku dekati, ya Allah, ternyata itu Pak Warsidi, tubuhku menggigil melihat kebiadaban itu.” Demikian tulis Fadilasari pada bagian yang lain.

Fadilasari menggambar telanjang peristiwa Talangsari apa adanya. Langsung menggunakan bahasa saksi korban peristiwa itu. Jadi, sudah barang tentu tak ada siapapun lagi dapat menutup-nutupi kasus Talangsari. Tak perlu diragukan, sebab yang berucap adalah orang yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.

Fadilasari hanyalah seorang diri. Semua usahanya tidak akan berarti apa-apa, bila tak ada jua yang peduli. Bahwa, di tengah kita menghirup udara kebebasan di Bumi Indonesia, di bawahnya terdapat jutaan mayat manusia tak berdosa terkubur sia-sia. Semoga kita semua lekas sembuh dari penyakit lupa


Judul Buku: Talangsari 1989: Kesaksian Korban Pelanggaran HAM Peristiwa Lampung; Penulis: Fadilasari; Penerbit: Lembaga Studi Pers dan Pembagunan; Cetakan Pertama: Maret 2007; Ukuran: ix + 125 hlm. 14 x 21 cm.

Ilustrasi :  forumkeadilan.com

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon