Rabu, 30 Januari 2013

CARTER, Mobil Angkutan Ter-segalanya

Carter setelah dibranding
Sore itu matahari mulai condong ke arah barat. Mega merah kekuning-kuningan menyelimuti Kota. Bias cahaya memantul di antara kaca dan dinding gedung. Di kantor Motor Taxi Indonesia, Jalan Batanghari 63, Panjer, Denpasar, empat orang pria tengah duduk santai di teras belakang. Mereka sopir armada milik perusahaan terebut. Mereka saling berbagi cerita usai mengoperasikan armada seharian.

Kadek Astawa (37), pemilik sekaligus desainer usaha Motor Taxi Indonesia (MTI) menerima saya di ruang kerjanya. Ini kali keduanyasaya mewawancarai Kadek Astawa. Selalu ada yang baru. Selalu ada terobosan. Setelah berhasil mendulang sukses lewat produk Motor Taxi dan Pick Up Taxi, akhir Desember 2010 yang lalu, MTI baru saja meluncurkan Carter. Yah, Car-ter. Mobil angkutan ter-segala-galanya.

Carter memang tiada tara dibangkan armada angkutan penumpang sejenis. Angkutan tercepat, tercanggih, termodis, terbaru dan tarif termurah tentunya. Cuma bayar Rp 20 ribu per orang untuk semua tujuan dalam wilayah Denpasar, Kuta dan Nusa Dua.

Ide nyentrik Kadek Astawa betul-betul mengguncangkan dunia usaha jasa angkutan. Bagaimana enggak? Pengalaman saya, dalam wilayah Denpasar saja, tarif angkutan sejenis paling tidak Rp 40 ribu. Sedangkan tujuan Kuta dan Nusa Dua, paling tidak angka Rp 100 ribu tertera di argometer yang harus Anda bayar. Carter tidak pakai argometer. Tidak pakai embel-embel. Harga pasti, jauh dekat tetap Rp 20 ribu per orang. Tarif murah, benar-benar di luar nalar.

Kunci Keberanian Kadek Astawa

Di balik keberanian Kadek Astawa menerobos pasar dengan tarif murah, tentu bukan sekedar tindakan sensasional sesaat. Setiap terobosan bisnis, tentu ada hitung-hitungannya. Menurut Kadek Astawa, bisnis transportasi angkutan seperti ini butuh modal besar. Untuk 17 unit saja, butuh sekitar Rp 2,2 milyar. Tak heran, bila sebagian besar usaha jasa angkutan taxi menggunakan badan usaha perkoperasian untuk menghimpun modal.

MTI yang mengoperasikan merk Carter, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk turut ambil bagian dalam konsorsium permodalan.

“Ayo! Jika Anda ingin berbisnis taxi, dan ingin punya taxi, maka bergabunglah dengan kami. Nggak perlu nyopirin, nggak perlu rawat mobil, nggak perlu macam-macam, tinggal terima hasil. Ada developmen bisnis yang kelola,” ungkap Kadek Astawa, mengajak Anda berinvestasi.

Upaya merealisasikan target Carter memenuhi 100 unit kendaraan misalnya, Kadek Astawa membangun partnership. Membangun hubungan permodalan dengan masyarakat. Cara ini menciptakan nilai tambah agar bisnis berjalan baik.

“Kita mau ngandalin tangan sendiri? Mana kuat! Anda berminat? Ayo! Sistemnya gimana? Partnership permodalan. Investasikan dana Anda. Seolah-olah Anda membeli mobil, kami yang merealisasikan. Setiap bulan, hasil mobil kita bagi. Begitu mobil dilelang dalam waktu 5 tahun, hasil lelang itu kita gunakan untuk pengembalian dana yang Anda investasikan pada saat Anda memulai. Investasi yang masuk akal bukan? Setiap bulan dapat keuntungan bagi hasil. Lima tahun, dana kembali utuh,” kata Kadek Astawa menjelaskan.

(Tulisan dimuat di Majalah Bisnis M&I)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon