Selasa, 01 Januari 2013

Apa itu Vertikultur?

Contoh Tanaman Vertikultur
Vertikultur berasal dari bahasa inggris, yakni vertical dan culture. Kemudian dua suku kata tersebut diserap dalam bahasa Indonesia menjadi vertikal dan kultur.

Vertikal adalah model media yang digunakan untuk menanam. Sedangkan kultur berarti pertanian. Dengan demikian secara sederhana vertikultur dapat diartikan sebagai model sistem bertani atau bercocok tanam dengan media vertikal.

Vertikultur sangan cocok untuk daerah-daerah perkotaan atau daerah padat pemukiman. Lahan yang semakin sampit adalah tantangan yang melahirkan gagasan vertikultur. Satu kenyataan yang tak dapat kita hindari, bahwa setiap detik kelahiran manusia semakin bertambah.

Ini berarti semakin banyak pula lahan pertanian di muka bumi ini yang berkurang untuk pemukiman manusia.

Nah, logika sederhana saja: semakin banyak umat manusia yang menghuni planet bumi ini, tentu semakin banyak pula harus tersedia makanan. Sumber makanan tentu saja berasal dari hasil pertanian. Di sisi lain pada kenyataannya lahan pertanian semakin menyempit. Sekali lagi, inilah yang melahirkan gagasan vertikultur.

Vertikultur lahir sebagai kreasi atau dapat dikatakan teknologi alternatif sistem pertanian. Sistem vertikultur mengambil prinsip-prinsip dasar bercocok tanam, yakni menyediakan media tanam dengan kandungan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Kalau selama ini sistem pertanian konvensional, menanam langsung dilakukan di atas hamparan lahan pertanian secara horizontal, sebaliknya, sistem vertikultur menggunakan bantauan media secara vertikal.

Sebetulnya sistem vertikultur merupakan pengembangan dari sistem tanam dengan menggunakan pot atau media tanam lainnya. Untuk memanfaatkan lahan yang sampit, maka pot tersebut disusun secara vertikal.

Sistem pertanian vertikultur dapat dilakukan oleh siapa saya yang berminat. Dan menurut kami, setiap orang sebaiknya mengemari bercocok tanam. Mengapa demikian? Yah, sebab makanan merupakan kebutuhan utama setiap orang.

Dengan kata lain, pengertian swasembada pangan bukan hanya berarti petani kita mampu menghasilkan hasil pertanian yang mampu memenuhi kebutuhan pangan seluruh warga negara. Swasembada pangan tidak hanya berhasil jika rasio jumlah hasil pertanian yang dihasilkan oleh petani sama atau lebih dari kebutuhan jumlah penduduk.

Tetapi, swasembada pangan sejatinya adalah kemampuan setiap orang menyediakan makanan untuk dirinya. Ini bukan berarti kita meniadakan keberadaan petani kita. Atau tidak berarti setiap orang harus berprofesi sebagai petani.

Sekali lagi, bukan itu maksudnya. Sistem vertikultur memungkinkan setiap orang, apa pun profesinya, di sela-sela kesibukannya melakukan kegiatan menanam.

Dengan sistem vertikultur, tentu saja tidak semua kebutuhan kita pada hasil pertanian terpenuhi. Akan tetapi, setidaknya kita mampu memenuhi sebahagian kebutuhan kita dari tanaman yang dapat dibudidayakan secara vertikultur.

Logika sederhananya begini: bila satu keluarga melakukan budidaya tomat secara vertikultur kemudian menghasilkan 1 kg tomat segar per bulan. Bila separoh dari seluruh keluarga di Indonesia melakukan vertikultur tomat, berapa ribu ton tomat yang dihasilkan seluruh Indonesia setiap bulan? Masuk akal bukan?

Nah, cuap-cuap tentang vertikultur di atas, baru sebatas improvisasi saja. Belum membahas hal-hal teknis terkait dengan vertikultur. Kami akan mengulasnya dalam kesempatan yang lain. Untuk itu sering-seringlah mampir ke blog kami untuk tetap mendapat informasi terkini tentang vertikultur.

Ilustrasi : www.pinterest.com

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon