Minggu, 02 September 2012

Narasi 67 Tahun Hari Kemerdekaan

Foto Pengurus DPD KNPI Bali
Setiap kali menjelang 17 Agustus tiba, Sang Saka merah putih berkibar gagap gempita, menghiasi langit-langit nusantara. Masih untung ada yang merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Sebab, jikalau tidak? Maka, Sang Saka dipastikan kalah saing dibanding bendera-bendera negara asing menjela World Cap, Euro Cap, Liga Campions, dan lainnya. Semoga fenomena ini bukan cerminan jiwa nasionalisme anak bangsa.

Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-67 tahun ini masih sama seperti perayaan di tahun-tahun sebelumnya. Aparat negara dan sekolah-sekolah sibuk mempersiapkan protokoler upacara bendera. Di kota-kota hingga ke pelosok desa perayaan bervariasi—lomba panjat pinang, lari karung, makan krupuk dan tarik tambang tetap jadi favorit.

Sedangkan di Istana Kepresidenan, para staf sibuk mempersiapkan pidato Presiden yang telah jadi tradisi kenegaraan, dibacakan di gedung DPR RI. Dan tak tanggung-tanggung, pidato yang terdiri dari lebih kurang 6.923 kata tersebut menelan biaya hingga Rp 1,2 Milyar. Fantastis, bukan!? Sebuah tradisi kenegaraan yang mengedepankan formalitas biaya tinggi ketimbang untuk menyejahterakan rakyat. Bayangkan saja. Saat yang sama jutaan rakyat kelaparan, jutaan pemuda menganggur, ribuan anak putus sekolah, dan ratusan ibu melahirkan merenggang nyawa akibat tak punya biaya.

Semangat perayaan HUT Kemerdekaan di Pulau Dewata juga sama dari tahun ke tahun—sebuah rutinitas sesaat, kemudian berlalu tanpa mengendapkan makna kebangsaan. Merah putih terlihat mentereng di halaman kantor pemerintah, hotel dan restoran, banjar-banjar, rumah dinas, pusat-pusaat perbelanjaan hingga rumah-rumah warga.

Jikalau 67 tahun yang silam, para pemuda di seluruh pelosok tanah air sibuk mempersiapkan kemerdekaan—bersibah keringat, darah dan air mata, bahkan bertarung nyawa untuk sebuah kemerdekaan yang didambakan. Tapi, hari ini para pemuda dan seluruh komponen anak bangsa sedang sibuk sikut sini, sikat sana, untuk sebuah pragmatisme hidup individual.

Mari kita saling menggugah kesadaran kebangsaan kita semua, seluruh komponen anak bangsa¸ khususnya komponen pemuda Bali untuk duduk bersama. Mari kita menyatukan pandangan, mumbulatkan tekad untuk memberi sedikit makna hari kemerdekaan. Mari kita ulas kiprah pemuda, baik kiprah kemarin, hari ini dan yang akan datang untuk Indonesia satu.

Seiring dengan semangat nasionalisme ke-Indonesiaan kita sebagai satu bangsa, maka bersama itu pula kita rumuskan hal-hal konkrit apa yang dapat kita perbuat untuk kemajuan kita bersama. Sebab di era desentralisasi dan otonomi daerah ini, tolak ukur kemajuan Negara merupakan puncak-puncak kemajuan Daerah.

Membangun suasana dialogis memang masih bak setetes ikhtiar di tengah lautan degradasi naisionalisme anak bangsa. Namun demikian, kiranya satu kata, seuntai kalimat dan satu paragraf pemikiran kita semua akan tetap berarti untuk menyematkan makna kemerdekaan— di dada pertiwi yang sedang gusar.

Narasi Pengantar Talk Show Kemerdekaa KNPI Bali, Minggu, 2 September 2012; Waktu : 15.30 - Selesai; Tempat : Gedung Pemuda KNPI Bali (Jln. Trengguli, Tembau, Denpasar)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon