Senin, 27 Agustus 2012

Sanggar Belajar Sunday Kids

Anak-anak Sunday Kids
Minggu sore, 18 September lalu, berulang kali Ni Made Dwi (12) memperhatikan layar telepon genggam di tangannya. Ia tak sedang membaca SMS atau melihat buku telepon, tapi ia memperhatikan jam. Dwi dan delapan temannya sedang menanti seseorang di bale belajar Yayasan Manikaya Kauci (YMK). Orang yang ditunggu tak lain ialah Kak Bobby, pengasuh sanggar belajar Sunday Kid.

Sunday Kid dilaksanakan tiap hari Minggu. Biasanya pelajaran berlangsung mulai jam tiga sore. Sekarang telah lewat 20 menit. Rupanya Kak Bobby berhalangan hadir karena ada urusan yang tak dapat ditinggal. Sore itu seharusnya Dwi dan kawan-kawan mendapat pelajaran cara buat video.

Kak Heru yang kebetulan hadir di sana spontan menggantikan Kak Bobby. Belajar bersama pun dimulai. Kak Heru memutar otak mencari-cari metode belajar yang asyik, sebab sebelumnya tak ada persiapan. Setidaknya metode dan pelajaran yang tak kalah asyik dibanding belajar cara bikin video.

“Mengenal Tanaman Sekitar Lebih Dekat”, begitu judul pelajaran yang ditulis di kertas plano. Sebelum memasuki pelajaran, diawali perkenalan. Seluruh peserta berdiri membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran, Kak Heru berdiri memegan sebuah bola terbuat dari gulungan kertas bekas. Bola dilempar secara bergantian. Setiap orang yang menangkap bola menyebut nama dan salah satu kegemaran.

Setelah perkanalan, Kak Heru meminta Dwi dan kawan-kawan memperhatikan bola yang digunakan. Bola itu terbuat dari kertas bekas. Kak Heru kemudian menanyakan perbedaan bola kertas dibanding bola plastik. Lalu, menanyakan pula kalau keduanya menjadi sampah, bila dibuang ke tanah, apa yang akan terjadi? “Bola kertas akan hancur, bola plasti nggak bakal hancur,” jawab mereka serentak.

Masing-masing peserta diberi selembar kertas dan sebatang spidol. Setiap orang memilih salah satu tanaman yang paling disukai. Kak Heru meminta agar memperhatikan baik-baik tanaman tersebut. “Perhatikan daun, rantung batang, pohon, akar dan bagian-bagian lainnya. Gambar dan tulisa bentuk yang kalian lihat. Cium juga baunya. Beri keterangan,” kata Kak Heru.

Setiap orang terlihat semangat, riang bergembira. Setengah jam kemudian riset kecil-kecilan selesai. Setiap orang diminta menceritakan tanaman yang digambar. Tak sulit bagi mereka menjelaskan detail bagian-bagian tanaman yang dipilih. Galih misalnya, ia menceritakan bunga jepun.

“Daunnya agak lebar dan panjang. Batangnya sebesar jempal kaki. Pohonya sebesar paha. Bunganya berwarna putih, biasa dipakai sembahyang. Tapi, saya juga perbah lihat jepun yang besar dan tinggi. Warna bunganya juga ada yang ungu dan pink,” tutur Galih.

Usai mengenal tanaman lebih dekat, Kak Heru menyuguhkan permainan “berlayar bersama”. Peserta dibagi dua kelompok. Setiap kelompok diberi selembar koran bekas. Koran dibentangkan di lantai. Setiap anggota kelompok harus berdiri di atas koran. Tak boleh keluar. Koran diibaratkan kapal tengah berlayar dilaut lepas. Anggota tim adalah penumpanya.

Koran kemudian dilipat dua. Lalu, setiap kelompok mesti melakukan hal yang sama seperti di awal. Begitu seterusnya, koran dilipat sekecil-kecilnya. Semakin kecil lipatan koran, semakin erat mereka berpegangan satu sama lain agar tak ada penunpang jatuh.

Guratan senyum masih membekas di wajah-wajah sang bocah usai belajar. Ada keceriaan dibawa pulang. Dan, ada pelajaran terselip dibalik permainan. Semoga mereka mimpi indah malam ini. Sebab esok mereka akan masuk sekolah dalam rutinitas belajar menjemukan.

***
Menurut Bobby Ganaris, pengasuh sanggar belajar Sunday Kid, kegiatan belajar sudah dimulai semenjak setahun yang silam. Peserta belajar ialah anak-anak sekitar kantor YMK. Sanggar ini dibuat sebagai bentuk kepedulian YMK terhadap anak-anak. Melalui kegiatan ini pula YMK lebih akrab dengan warga sekitar.

“Pada awal-awal dibuka, peserta mencapai 50 orang anak. Namun karena sudah banyak yang masuk SMP, mereka jarang ke sini. Selain itu, beberapa sudah pindah tempat tinggal mengikuti orang tua. Maklum, sebagian anak orangtuanya kaum urban,” kata Bobby.

Lebih lanjut, Bobby mengatakan, sanggar belajar Sunday Kid menekankan pada pentingnya belajar bersama. Macam-macam pelajaran disuguhkan, seperti Bahasa Inggris, lingkungan, melukis, fotografi, videografi, komputer, internet, dan lain-lain. Senua pelajaran dikemas dalam metode belajar sambil bermain.

“Pendidikan formal selama ini cenderung menggunakan pola kerja otak kiri. Misalnya, melalui pendekatan matematis, menghafal teks, dan memberikan nilai dengan angka dalam mengevaluasi hasil belajar anak. Di sini, kami seimbangkan dengan pola kerja otak kanan. Yah, melalui gambar, musik, permainan, kerja sama dan menghargai setiap potensi tiap anak,” tutur Bobby.

Tidak ada pengajar tetap di Sunday Kid. Melainkan, para aktivis YMK dan aktivis LSM lain di Bali yang peduli pendidikan anak. Mereka bergantian beri pelajaran. Jika kebetulan ada kawan-kawan pelukis yang main ke YMK, anak-anak diajari melukis. Jika yang mampir fotografer, anak diajari foto. Jika ada aktivis lingkungan, anak diajari pengetahuan lingkungan. Begitu seterusnya. Apa saja bisa diajarkan, tinggal metodenya diatur agar gampang dipahami anak.

(Tulisan dimuat di Majalah Solidaritas Vol. 6)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon