Jumat, 17 Agustus 2012

Pasar Kodok Tabanan

Lapak para pedagang di Pasar Kodok
Pasar Kodok. Mendengar namanya, banyak yang terkecoh, mengira tempat berjualan kodok. Bukan! Pasar Kodok adalah sebuah komplek pasar yang menyediakan beragam pakian bekas. Terletak di tengah Kota Tabanan, Bali. Waktu tempuh sekitar 45 menit dari Kota Denpasar dalam kondisi normal.

Pasar ini tiba-tiba muncul sejak tahun 1999. Ada interaksi sosial beragam terjalin di sana. Selain kontribusi ekonomi, Pasar Kodok pun telah meningkatkan profit sosial yang tak ternilai. Bagaimana cikal bakal terbentuknya Pasar Kodok? Jangan lewatkan penelusuran berikut.

Usut Asal
Cerita asal-usul Pasar Kodok terdengar samar-samar. Tak ada referensi yang pasti. Untung, ada Pak Halim, seorang pedagang lama di sana. Di sela-sela kesibukan melayani pembeli, Pak Halim menyediakan waktu untuk berbagi cerita.

Selain dikenal sebagai Pasar Kodok, kawasan tersebut juga sering disebut Pasar OB, singkatan dari Obralan Bekas. Nama Pasar “Kodok” menggambarkan kondisi kawasan sebelum ramai seperti saat ini. Lahan seluas + 2 hektar itu, dulu hanyalah daerah persawahan dan rawa. Tiap malam tiba, suara kodok selalu bersenandung memecah kesunyian, menghibur penduduk setempat.

Pak Sugi, salah seorang warga asal Madura juga menjadi penikmat nyanyian kodok setiap malam. Malam-malam terus berlalu dengan irama yang sama. Sampai suatu hari, Pak Sugi pulang dari Monang Maning, Denpasar untuk menjenguk keluarga. Ia membawa pulang satu karung pakaian bekas yang diperolehnya dari pedagang asal Padang, tetangga keluarganya.

Ia membeli untuk kebutuhan sendiri karena harganya yang murah. Dalam perjalanan pulang ke Tabanan, pakaian basah oleh hujan. Sesampai di rumah, Pak Sugi langsung menjemur pakaian tersebut. Untuk menjemur pakaian sekarung, tentu butuh tempat yang luas.

Jemuran Pak Sugi mengundang perhatian tetangga. Mereka datang berbondong-bondong ke tempat Pak Sugi. Ada yang sekedar tanya-tanya dari mana Pak Sugi mendapatkan barang tersebut, tak sedikit pula ingin memebeli beberapa helai pakain yang tergantung di tali jemuran. Walau tidak untuk dijual, Pak Sugi akhirnya melepas beberapa potong dengan harga ala kadarnya. Melihat minat tetangga yang semakin meningkat, Pak Sugi akhirnya menggarap pakaian bekas sebagai lahan nafkah.

Berganti Lagu…
Usaha OB yang dipelopori oleh Pak Sugi kemudian berkembang pesat. Warga sekitar pun mulai ambil bagian. Sawah dan rawa beralih fungsi menjadi lapak-lapak sederhana. Terdiri dari tiang-tiang kayu beratapkan asbes. Di bagian bawah hanya sebagian saja yang diplaster semen, lainnya masih berlantai tanah. Jalan-jalan kecil penghubung antar lapak ditata.

Kini, di atas hamparan kawasan tersebut ada sekitar 300 lapak. Tentu jumlah pedagang yang mencari nafkah di sana jumlahnya lebih banyak. Sebagian besar pedagang berasal dari Madura, sebagian lagi dari Bali dan daerah-daerah lain di luar Bali.

Bermacam-macam pakaian ada di sana. Ada baju kemeja, kaos, celana panjang maupun pendek, jas, jaket, sweater, sepatu, sandal, semua ada di sana. Lambat laun koleksi pakaian di Pasar Kodok makin veriatif. Ada pakaian anak dan ada pula pakaian dalam wanita, bahkan mulai menjual berbagai jenis aksesoris. Koleksi Pasar Kodok tak mau kalah dengan koleksi mal-mal di Kota Denpasar.

Di sebuah warung kopi milik Bu Agus, Swaberitaberbicang-bincang dengan Gung Ray, salah satu pengunjung. Mahasiswa semester lima di salah satu Perguruan Tinggi Denpasar ini mengaku lebih senang mencari baju di sini, sebab pilihan beragam dengan harga murah. Saking sering hunting di waktu senggang, Gung Ray jadi lebih paham kapan barang baru datang.

“Di kampus teman-teman sering nanya, ‘dari mana dapatin baju-baju yang bermerk?’ Tiyang (bahasa Bali artinya saya) bilang aja kiriman saudara yang kerja di Singapura. Soalnya koleksi baju yang dijual di sini banyak merk terkenal, Mas. Kalau kita sabar milih, kita bisa dapat yang bagus kog,” tutur Gung Ray.

Sekarang, Pasar Kodok bak sepotong kue. Orang berdatangan dari berbagai penjuru untuk mengadu nasib. Keberadaannya telah merangsang tumbuhnya berbagai jenis usaha lain. Lihat saja, di sana ada usaha loundry, tukang jahit, warung makanan, Gerai hand phone juga ada warung kopi. Tak hanya itu, Banjar Adat (setara RT/RW di luar Bali) juga kebagian kue.

Banjar menarik retribusi karcis parkir kendaraan. Rp 1000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 2000 untuk kendaraan roda empat. Dalam kondisi sepi pengunjung saja, Banjar mendapatkan retribusi sebesar Rp 150-200 ribu tiap hari. Dalam kondisi ramai bisa mencapai Rp 500 ribu per hari. Tak hanya itu, setiap lapak dipungut retribusi kebersihan Rp 25 ribu per minggu. Jika ada 300 lapak, maka Banjar mendapatkan Rp 3 juta setiap bulan.

Nyanyian Terusik…
Nyanyian kodok kini berganti nyanyian kehidupan. Sebuah inisiatif komunitas telah menyebarkan virus-virus positif bagi komunitas itu sendiri, orang lain dan lingkungan. Sebuah pasar rakyat untuk ukuran kantong rakyat. Sayang! Pemerintah sepertinya kalah esksis.

Di negeri ini, inisitif komunitas tidak dihargai seperti halnya Muhammad Yunus yang mendapatkan hadiah Nobel berkat inisiatifnya mengembangkan bank skala mikro untuk pengusaha miskin. Boro-boro dapat Nobel, coba simak berita Bali Post berikut ini, “Kasus pakaian bekas yang menjadi pajangan utama di pasar Kodok Tabanan hingga kini masih ngambang. Padahal penggerebekan gudang berisi pakaian bekas yang dilakukan oleh gabungan Polda Bali dan Polres Tabanan telah dilakukan 10 Januari 2010 lalu. Masih terjadi perbedaan pendapat antara polisi dan jaksa dalam menetapkan pasal sangkaan.”

Lalu, Anda ingin di mana? Berpikir dan melakukan sesuatu agar nada-nada kehidupan komunitas menjadi nada yang harmonis? Atau Anda ingin berkontribusi dalam gerbong kekuasaan, mencari stempel hukum dan aturan untuk memecahkan periuk kehidupan mereka? “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” demikian bunyi sila kelima Pancasila sebagai paham negara kita. Renungkan!

Gambar : travel.detik.com

(Tulisan dimuat di Majalah Bisnis M&I)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon